Raja Laut Coelacanth Kembali Ditemukan

LIKUPANG—Keberadaan Ikan raja laut atau Coelacanth kembali ditemukan di perairan Talise sebelah Utara Kecamatan Likupang Barat. Ikan sepanjang 1,5 meter ditemukan atas kerja sama tim peniliti Fakultas Perikanan Unsrat, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Fukushima Aquamarine Jepang, Senin lalu.

Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Ir Ronny Siwi penemuan ikan raja laut tak lain tindaklanjut dari MoU Unsrat, Dinas Kelautan dan Perikanan Minut bersama dengan Depertemen Kelautan dan Perikanan. Kata Siwi, kerja sama ini sudah membuahkan hasil walaupun baru pada tahap awal. “Jumat mendatang keberadaan ikan tersebut akan dipantau,” kata Siwi kepada wartawan.
Tahun 2008, Coelacant pernah ditemukan oleh nelayan Likupan di perairan Talise. Ini menandakan, populasi Coelacanth memang berada di perairan Minut.(van)


ikan yang antara lain terdiri dari sebuah cabang evolusi tertua yang masih hidup dari ikan berahang. Coelacanth diperkirakan sudah punah sejak akhir masa Cretaceous 65 juta tahun yang lalu, sampai sebuah spesimen ditemukan di timur Afrika Selatan, di perairan sungai Chalumna tahun 1938. Sejak itu Coelacanth telah ditemukan di Komoro, perairan pulau Manado Tua di Sulawesi, Kenya, Tanzania, Mozambik, Madagaskar dan taman laut St. Lucia di Afrika Selatan. Di Indonesia, khususnya di sekitar Manado, Sulawesi Utara, spesies ini oleh masyarakat lokal dinamai ikan raja laut.

Sampai saat ini, telah ada 2 spesies hidup Coelacanth yang ditemukan yaitu Coelacanth Komoro, Latimeria chalumnae dan Coelacanth Sulawesi, Latimeria menadoensis.

Hingga tahun 1938, ikan yang berkerabat dekat dengan ikan paru-paru ini dianggap telah punah semenjak akhir Masa Kretaseus, sekitar 65 juta tahun yang silam. Sampai ketika seekor coelacanth hidup tertangkap oleh jaring hiu di muka kuala Sungai Chalumna, Afrika Selatan pada bulan Desember tahun tersebut.

Pada bulan Mei 2008, seorang nelayan manado menangkap seekor coelacanth di lepas pantai Provinsi Sulawesi Utara. Ikan ini memiliki ukuran sepanjang 131 centimeter dengan berat 51 kg ketika ditangkap.[1]

http://mdopost.com/news2009/index.ph...tara&Itemid=59

Opo Minahasa

Dalam tradisi Asia, para manusia yang suci moksa ke alam roh dan di situ Ia menjadi wujud rohani yang dipuja dan disembah. Sebagai contoh Sidharta Gautama di India menjadi Budha, Yesus Kristus di Timur Tengah menjadi Juru Selamat, dan di Cina banyak sekali manusia yang menjadi Dewa. Dan Dalam Kepercayaan Minahasa sendiri yang bukan agama samawi, artinya agama suku yaitu Shamanisme yang dipimpin oleh Walian dan Tonaas sebagai pemimpin perang, agama Shamanisme masih dipegang teguh secara terang-terangan di Mongolia sampai sekarang.

Berdasarkan itu maka Opo pertama adalah Lumimuut, ibu yang tersesat jalannya dalam pelayarannya
dari utara menurut mitos dari Mongolia.

Dengan Mengacu pada mitologi itu, maka dapat dilihat, bahwa kata Opo, berkaitan dengan bahasa Cina ‘Po’.
Dalam bahasa Cina, ‘Po’ dapat ditulis dalam dua aksara, yaitu ‘Po’ yang berarti jiwa opo minahasa yaitu, dan yang berarti Nenek Moyang perempuan yaitu opo-opo. Ini Dikaitkan dengan nama Lumimuut, yaitu Opo awal pitarah Minahasa, tercatat banyak sekali Opo yang masing – masing memiliki Tugas khusus dalam mengatur manusia. Para Opo tersebut adalah:
1. Aluk, opo yang bisa melenyapkan manusia
2. Kalangi, opo angin yang membuat badai di laut
3. Kaluilan, opo kesehatan yang menguasai obat
4. Kambong, opo awan yang membuat hujan
5. Kaneneng, opo keperkasaan
6. Kariso, opo api
7. Kasueyan, opo padi
8. Kemboleng, opo angkasa
9. Kiongkiong, opo burung besar
10. Kopalit, opo perdamaian
11. Lumenta, opo udara
12. Limbawa, opo pelangi
13. Lumimuut, opo pertama (tanah, bumi)
14. Makalewai, opo angin barat
15. Makalawang, opo bumi
16. Makawulur, opo segala gunung
17. Manampiring, opo kecendikiaan
18. Mandey, opo peladang
19. Manembo, opo yang melihat tembus menjaga gunung
20. Manarinsing, opo angin selatan
21. Mapataris, opo yang mengalahkan kejahatan
22. Marendor, opo pengutus
23. Mioyo, opo bawah tanah
24. Monsuling, opo music
25. Muntuuntu, opo tertinggi
26. Nileyleyan, opo hulubalang
27. Pangerapan, opo cahaya
28. Panuluan, opo sinar bulan
29. Pongilatan, opo halilintar
30. Rameikahu, opo padi emas
31. Rorot, opo ketangkasan
32. Sankiou, opo kecantikan
33. Seratou, opo pemakan manusia
34. Sosowela, opo keselamatan
35. Tangkokow, opo seni suara
36. Tongkoakan, opo kemuliaan
37. Tumorongkang, opo berkah
38. Tundoon, opo pelindung tanah air
39. Walintukan, opo penentu taufan
40. Watuseke, opo perang

Opo Empung Wangko sebutan lain Tuhan yang merajai semua Roh dan Opo telah menciptakan Opo baik dan Opo jahat dan para keturunan Toar-Lumimuut dapat memilih sesuai nurani mau jadi pengikut yang mana.

Salain Opo diatas masih ada juga Opo yang menjadi pesuruh atau anak buah para Opo seperti Opo Siouw Kurur, Dia adalah salah satu dari 3 penasihat Opo Muntuuntu jaman pertamanya hidup orang Minahasa, mengemban tugas sebagai penasihat, Kurir sampai tukang Raghes (algojo pemotong kepala). Karena badannya tinggi besar dan sanggup berjalan sangat cepat dijuluki ‘opo sembilan lutut’.

Selain itu masih ada yang dibilang Opo berdasarkan fam atau Opo yang hidup pada jaman Belanda dan Permesta.

Pada tahun 1550 Spanyol telah mendirikan benteng di Wenang dengan cara menipu Kepala Walak Lolong Lasut menggunakan kulit sapi dari Benggala India yang dibawa Portugis ke Minahasa. Tanah seluas kulit sapi yang dimaksud spanyol adalah tanah seluas tali yang dibuat dari kulit sapi itu. Spanyol kemudian menggunakan orang Mongodouw untuk menduduki benteng Portugis di Amurang pada tahun 1550-an sehingga akhirnya Spanyol dapat menduduki Minahasa. Dan Opo Lolong Lasut punya anak buah Opo Burik Muda si penggemar adu ayam.

Berikut Opo Don-dokambey dari Tonsea ke Watu Pinabetengan dengan menunggang kuda belang (bata-bata).

Namun para Walian dan Tonaas yang berilmu tinggi tidak memanggil Opo yang berdasarkan fam, namun ke 40 Opo utama.

Untuk memanggil Opo ada caranya dan cara tersebut memang dirahasiakan dan hanya diwariskan secara turun temurun. Dan supaya Opo sebenarnya yang datang haruslah mempunyai segel atau kunci hanya para Walian dan Tonaas saja yang tau.

Berikut perlengkapan yang biasa dipakai untuk memanggil Opo beserta opo-opo (benda pemberian dari Opo) silahkan klik untuk memperbesar foto

Untuk cara memanggil para Opo saya tidak bisa beritahu, karena saya sendiri belum tahu caranya ada yang bisa beritahu caranya? maklum saya memang masih pemula, dalam Ilmu Shaman ini.

Opo hanya akan memberikan kekuatanya spesial dan paling tinggi kepada poyo mereka.

Opo Minahasa

Hati-hati neh iklan di bawah ini cuma promosi, dengan banyaknya penipuan di internet saya tidak jamin iklan ini betul

MANADO, kompas..com — Taman Nasional Laut (TNL) Bunaken yang berada di perairan Manado, Sulawesi Utara (Sulut), telah diusulkan masuk World Natural Heritage karena memiliki keunikan tersendiri di dunia.

"Indonesia sementara berjuang di mata sejumlah negara di dunia, untuk mendukung TNL masuk World Natural Heritage," kata Dirjen pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan Aji Sularso saat press breafing terkait Sail Bunaken di Manado.

Salah satu lembaga badan dunia, UNESCO, yang telah meninjau langsung ke TNL Bunaken di Kota Manado, sangat tertarik akan keindahan alam biota laut yang ada sehingga perlu diberikan penghargaan untuk ditetapkan menjadi World Natural Haritage.
Pergelaran Sail Bunaken yang diikuti puluhan kapal perang dan 165 kapal layar (yacht) berbagai negara akan menjadi momentun untuk terus mengenalkan kepada publik internasional tentang keindahan TNL Bunaken.

TNL Bunaken merupakan salah satu keindahan laut yang dimiliki Indonesia dan tidak dimiliki negara lain karena terdapat jutaan biota laut dan karang yang sangat indah.
TNL Bunaken telah diusulkan bersama dengan Komodo di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk masuk World Natural Heritage, dan itu masih harus melalui voting sejumlah negara yang ada.

Asisten II bidang Perekonomian Pemerintah Provinsi Sulut, Marietha Kuntag, mengatakan, pihaknya terus membenahi infrastruktur penunjang TNL Bunaken agar diharapkan masuk World Natural Heritage.
Segala kekurangan di TNL Bunaken, seperti infrastruktur dermaga dan fasilitas umum lainnya, akan terus dibenahi agar menjadi menarik untuk dikunjungi turis.

sumber : http://sains.kompas..com/read/xml/20...tural.heritage

Hati-hati neh iklan di bawah ini cuma promosi, dengan banyaknya penipuan di internet saya tidak jamin iklan ini betul

900 turis ke BUNAKEN

Manado (ANTARA) - Sebanyak 900 wisatawan mancanegara (wisman) akan mengunjungi pulau Bunaken, karena pulau ini menjadi tujuan bagi kedatangan para wisman ataupun wisnus (wisatawan nusantara) akan ramai dikunjungi oleh para turis.
Demikian dikatakan oleh Ketua Himpunan Pariwisata Indonesia (HPI) Sulut, Mohamad Naliko, kepada sejumlah wartawan, di Manado.
Dikatakan, data kunjungan para wisatawan itu meningkat dibandingkan pada tahun 2008 yang hanya sekitar 400 orang. Sebanyak 900 wisman ini akan meningkat pada tiga bulan yakni Juli, Agustus dan September. Para turis yang mendominasi dalam kunjungan ke Sulut yakni dari Jerman, Italia, Perancis, dan Belanda.
Karena selama tiga bulan itu, Sulut memiliki berbagai even yang berskala internasional. Antara lain even Sail Bunaken, yang akan diselenggarakan pada Agustus nanti, dipastikan banyak peserta yang akan datang mengikuti even tersebut.
Apalagi, menurut Naliko, dalam kegiatan tersebut diikuti oleh kapal dari berbagai negara yang tentunya dalam setiap kapal tersebut berisi puluhan ABK (Anak Buah Kapal) dan nakhodanya.
Tentunya, peningkatan kunjungan wisatawan ini harus dibarengi dengan pembenahan sarana antara lain perbaikan pelabuhan pariwisata. serta kebersihan dari pulau Bunaken tersebut harus lebih terjaga.
"Kita harus menjaga kebersihan pulau Bunaken dan memperbaiki pelabuhan pariwisata, karena dengan sarana infrastruktur yang baik, tentunya diharapkan pada tahun depan, para wisatawan yang akan ke Sulut lebih banyak," pungkasnya seraya menambahkan, target secara nasional untuk kunjungan wisatawan sebanyak 6,7 juta wisman pada tahun 2009.

bunaken:



diving spot:

Spoiler for iklan vid sail bunaken:

Hati-hati neh iklan di bawah ini cuma promosi, dengan banyaknya penipuan di internet saya tidak jamin iklan ini betul

MANADO, KOMPAS.com — Taman Nasional Laut (TNL) Bunaken yang berada di perairan Manado, Sulawesi Utara (Sulut), telah diusulkan masuk World Natural Heritage karena memiliki keunikan tersendiri di dunia.
"Indonesia sementara berjuang di mata sejumlah negara di dunia, untuk mendukung TNL masuk World Natural Heritage," kata Dirjen pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan Aji Sularso saat press breafing terkait Sail Bunaken di Manado.

Salah satu lembaga badan dunia, UNESCO, yang telah meninjau langsung ke TNL Bunaken di Kota Manado, sangat tertarik akan keindahan alam biota laut yang ada sehingga perlu diberikan penghargaan untuk ditetapkan menjadi World Natural Haritage.

Pergelaran Sail Bunaken yang diikuti puluhan kapal perang dan 165 kapal layar (yacht) berbagai negara akan menjadi momentun untuk terus mengenalkan kepada publik internasional tentang keindahan TNL Bunaken.
TNL Bunaken merupakan salah satu keindahan laut yang dimiliki Indonesia dan tidak dimiliki negara lain karena terdapat jutaan biota laut dan karang yang sangat indah.

TNL Bunaken telah diusulkan bersama dengan Komodo di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk masuk World Natural Heritage, dan itu masih harus melalui voting sejumlah negara yang ada.

Asisten II bidang Perekonomian Pemerintah Provinsi Sulut, Marietha Kuntag, mengatakan, pihaknya terus membenahi infrastruktur penunjang TNL Bunaken agar diharapkan masuk World Natural Heritage.

Segala kekurangan di TNL Bunaken, seperti infrastruktur dermaga dan fasilitas umum lainnya, akan terus dibenahi agar menjadi menarik untuk dikunjungi turis.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/xml/2009/08/13/09240889/hebat.bunaken.masuk.world.natural.heritage

Hati-hati neh iklan di bawah ini cuma promosi, dengan banyaknya penipuan di internet saya tidak jamin iklan ini betul

Resensi buku : Inilah Pintu Gerbang Pengatahuwan Itu (Hhikajatnja Tuwah Tanah Minahasa) oleh J.G.F. Riedel diterbitkan di Batavia tahun 1862.

Resensi buku : Inilah Pintu Gerbang Pengatahuwan Itu (Hhikajatnja Tuwah Tanah Minahasa) oleh J.G.F. Riedel diterbitkan di Batavia tahun 1862.

Buku setebal 55 halaman ini dikarang oleh Johan Gerhard Frederich Riedel. Ia adalah anak tertua dari penginjil J.F. Riedel yang datang di Tanah Minahasa bersama-sama dengan J.G. Schwarz pada tahun 1831. Latar belakang J.G.F. Riedel ini dapat menjadi salah satu catatan tersendiri bagi para pembaca buku ini. Ia lahir di Tondano pada tahun 1832. Ia juga besar di Tanah Minahasa sehingga tidak perlu heran bila ia mengerti betul tentang daerah ini. Setelah dewasa ia menjadi Controleur Minahasa kemudian menjadi Assistant Resident di Gorontalo, terakhir menjadi Resident Ambon.

Buku sejarah ini menjadi sumber utama dari buku-buku dan tulisan pada masa itu sampai sekarang. Dapat disimpulkan bahwa buku ini bersumber dari penuturan tua-tua kampung dari masa kecilnya sampai pada waktu ia menjadi pejabat penting di Minahasa dan Keresidenan Manado pada umumnya.

Buku ini dapat anda simak tanpa harus menggunakan kamus bahasa karena ditulis dalam bahasa Melayu Abad ke-19, yaitu lingua-franca di pelosok Nusantara saat itu, sehingga masih dapat anda pahami. Coba baca judul bab pertamanya: “Deri Pada Permulaan Bangsa-bangsa Minahasa Sampej Pada Harij Pembahagijan Fosoh Atawa Pahawetengan Nuwuh Itu”. Buku ini lebih merupakan ringkasan sejarah Minahasa karena isi buku ini banyak mencatat tentang peristiwa daerah-daerah (walak dan sebagainya) dengan nama-nama pelakunya.

Isi buku ini dibagi ke dalam tiga bagian, pertama dari permulaan bangsa Minahasa sampai pada masa pembagian foso atau pahawetengan nuwu di Batu Pinawetengan, kedua dari pembagian foso sampai pada masa permulaan peperangan orang Bolaang Mongondow dan ketiga dari permulaan peperangan orang Bolaang Mongondow sampai pada masa kedatangan orang kulit putih yaitu sampai masa Belanda.

Data Buku
Judul buku : Inilah Pintu Gerbang Pengatahuwan Itu (Hhikajatnja Tuwah Tanah Minahasa)
Penulis : J.G.F. Riedel
Tahun : 1862
Jumlah halaman : 55 halaman.

(Bodewyn Grey Talumewo)

Hati-hati neh iklan di bawah ini cuma promosi, dengan banyaknya penipuan di internet saya tidak jamin iklan ini betul


SURAT PERNYATAAN/PERJANJIAN
HUKUM-HUKUM WALAK TONDANO

UNTUK MASUK KRISTEN TAHUN 1783

Bahuwa oleh pengingatan kamij jang kamij sudah mengakoh dengan songoh-songoh dan benar-benar maka itu samuwa kamij ini akan soedah djadi dalam negeri Tondano pada hb. 20 April 1783.

Adapon dengan sekalijen kamij Hm. Tuwah deri Tondano Hukum tuwah Pangalilah dengan Hukum tuwah Sumondak dengan Hukum lajin-lajin dan bobato-bobato lajin-lajin ampunja pengakowan jang benar-benar didalam surat ini.

Maka dengan songoh-songoh dan benar-benar kamij minta kapada oleh tuwan Panghulu Menado Johannis Both dalam pengakowan kamij dengan segala hatij jang sutji djikalow tuwan Kompanija akan sajang pada kamij pada menarima agama saranij ajer permandijan jang khudus itu pada kamij akan kaseh bala-bala rajat dan kamij akan dudokh dipante Atep, maka samuwa kamij sudah bertanda dalam surat putusan ini dengan songoh-songoh dan benar-bnar.

Tanda Hukum Tuwah Pangalilah X

id. id. id. Sumondakh X

id. id. id. Tololiuw X

id. id. id. Kumenap X

id. id. id. Lensun X

id. id. id. Tangkilisan X

id. id. id. Item X

id. id. id. Walintukan X

id. id. id. Tunpolas X

id. id. id. Kepel X

id. id. id. Rumende X

id. id. id. Kumendong X

id. id. id. Wenseng X

id. id. id. Kasegeran X

id. id. id. Komumbing X

id. id. id. Supit X

id. id. id. Rumagit X

id. id. id. Palandikh X

id. id. id. Emor X

id. id. id. Sumampo X

id. id. id. Sumendap X

id. id. id. Lotulung X

id. id. id. Wulur X

id. id. id. Rampas X

Berikot Hukum tuwah di Kakas mengako dengan songoh-songoh dan benar-benar akan bertandakan dalam surat ini.

Hukum tuwah Mumekh X

id. id. id. Rampengan X

Kamij sekalijen Hukum-Hukum deri tiga Balakh, Tondano, Kakas dan Remboken samuwa akan turut ampunja sumpahan kamij dihadapan tuwan Kompanija deri kamij orang djikalow pada barang sijapa-sijapa mauw melawan diatas kamij ampunja sumpahan akan polote seperti senapan. Berikot lagi djikalow sijapa-sijapa mauw melawan akan tikam dengan sagu-sagu lagij berikot bagitu babunji diatas kamij ampunja sumpahan.

Toumambot ada X lima parentah dalam Hukum tuwah Pangalilah ampunja djaga mester

id. id. Wilar X

id. id. Sendukh X

id. id. Rantung X

id. id. Tetengean X

id. id. Mamait X

id. id. Koruwa X

Ini Hukum-Hukum deri Remboken mengako dengan songoh-songoh dan benar-benar samuwa kamij djadij bertanda dalam ini surat.

Tanda Hukum tuwah Sendok X

id. id. id. Kaloh X

id. id. id. Mijojoh X

id. id. id. Panekenan X

id. id. id. Walujan X

id. id. id. Rampengan X

Kamij sekalijen Hukum-Hukum deri tiga Balakh, Tondano, Kakas dan Remboken samuwa akan turut ampunja sumpahan kamij dihadapan tuwan Kompanija deri kamij orang djikalow pada barang sijapa-sijapa mauw melawan diatas kamij ampunja sumpahan akan polote seperti senapan. Berikot lagi djikalow sijapa-sijapa mauw melawan akan tikam dengan sagu-sagu lagij berikot bagitu babunji diatas kamij ampunja sumpahan.

Toumambot ada X lima parentah dalam Hukum tuwah Pangalilah ampunja djaga mester kaseh sapulu dapur: bagitu lagi pada Hukum Emor ada satu parentah mester kaseh sapulu dapur, bagitu lagij pada Hukum Supit dan Hukum Rumagit ada satu parentah mester kaseh sapulu dapur, bagitu lagij pada Hukum Palandikh ada satu djaga mester kaseh sapulu dapur barikot lagij pada Hukum Kominbing lagij satu djaga mester kaseh sapulu dapur, berikot sampe lima parentah mester djadi lima pulu dapur, diluwar sijapa-sijapa suka pergij, dan sijapa-sijapa mauw peleh atau mauw melawan diatas ampunja perdjanjian haras dan patut mester dapat sala 2 ratus dan duwa laskor begitu kamij ampunja perdjandjian.

Berikot Toulijan Hukum Samuwal parentah dalam Hukum tuwah Sumondakh ada satu parentah mester kaseh 10 dapur berikot lagij dalam Hukum Lensun ada satu parentah mester kaseh 10 dapur, berikot lagij Hukum Walintukan ada satu parentah mester kaseh 10 dapur, bagitu lagij pada Hukum Sumuwal ada satu parentah mester kaseh sapulu dapur bagitu lagij Hukum Kumenap ada satu djaga mester kaseh 10 dapur berikot sampe lima parentah mester djadji lima pulu dapur diluwar sijapa suka pergij, dan sijapa mauw peleh atau melawan diatas ampunja perdjandjian haras dan patut mester dapat sala 2 ratus dan duwa laskar begitu kamij ampunja perdjandjian.

Tondano pada 20 harij bulan April 1783.

Adapon sekalijen Hukum-Hukum, Hukum tuwah Wilar dan Hukum Tuwah Mumek dan Hukum lajin-lajin dan bobato-bobato sakalijen.

Dengan permintaän kamij maka dengan songoh-songoh dan benar-benar kepada panghulu kamij Johannis Both jang kamij akan kaseh balah rajat kamij pada turung di pante Atep jang kamij akan memberij kawasa djuga pada sijapa-sijapa peleh atau melawan diatas kamij ampunja perdjandjian harus dan patut mester dija dapat salah 2 ratus dan 2 laskar bagitu kamij ampuja perdjandjian.

Maka samuwa kamij bertanda dengan songoh-songoh dan benar-benar.

Hukum tuwah Wilar X

id. id. Mumek X

id. id. Sendukh X

id. id. Rantung X

id. id. Tetengean X

id. id. Mamait X

id. id. Karuwah X

Adapon dengan samuwa kamij Hukum-hukum tuwah di Remboken, Hukum tuwah Sedek dengan Hukum tuwah Kaloh dengan Hukum lajin-lajin dan sakalijen bobato-bobato maka permintaän kamij dengan songoh-songoh dan benar-benar tuwan pangulu kamij Johannis Both jang kamij akan kaseh bala Rajat kamij pada turung di pante Atep jang akan memberij kwasa djuga pada sijapa-sijapa suka pergij bijar dija pergij djuga djikalow sijapa peleh akan dapat sala 2 ratus dan 2 laskar bagitu kamij ampunja perdjandjian.

Maka sakalijen kamij Hukum-Hukum akan bertanda ini nama-nama dengan songgoh-songgoh dan benar-benar dalam surat putusan ini dengan tamat.

Tanda Hukum tuwah Sendoh X

id. id. id. Kaloh X

id. id. id. Mijojoh X

id. id. id. Panekenan X

id. id. id. Lajang X

id. id. id. Rampengan X

id. id. id. Tilaär X


TONDANO, 20 hb. April 1783.


Kota Tondano 1821

Sumber:

http://bode-talumewo.blogspot.com/2008/10/surat-pernyataan-hukum-hukum-se-walak.html

Hati-hati neh iklan di bawah ini cuma promosi, dengan banyaknya penipuan di internet saya tidak jamin iklan ini betul

Daftar Hukum Tua Desa Poopo - Minsel

Berhubung tape papa berasal dari desa Poopo - Minahasa Selatan, jadi tamo kase turung tu daftar Hukum Tua (Kuntua) desa Poopo.

Slagbom/Silsilah Dotu pendiri Desa Poopo hingga Bode Talumewo

DAFTAR NAMA HUKUM TUA DESA POOPO
Apo / Dotu Menajang Pendiri
Apo / Dotu Manese ±1750 – ±1800
Tonaas Apo / Dotu Mintjelungan ±1800 – ±1860
Tonaas Tandundi (Cornelius Kawatu) ±1860 – ±1875
Paukum Moge (Frederik Menajang) ±1875 – 1892
Hukum Tua Karel Assa 1892 – 1903
Penjabat Abedneju F. Menajang 1903 – 1908
Hukum Tua Lambertus Talumepa 1908 – 1910
Penjabat Hukum Tua Abedneju F. Menajang 1910 – 1934
Hukum Tua Bintang Eduard Menajang 1934 – 1936
Penjabat Hukum Tua Ernst Z. Talumepa 1936 – 1946
Hukum Tua Eric Londa 1946 – 1947
Penjabat Hukum Tua Bern A. Menajang 1947 – 1952
Hukum Tua Pieter Kawatu 1952 – 1953
Hukum Tua Gradus Mamarimbing 1953 – 1960
Hukum Tua Bern A. Menajang 1960 – 1962
Hukum Tua Paulus M. Assa 1962 – 1965
Hukum Tua Nico Sengkey 1965 – 1967
Penjabat Hukum Tua Jantje H. Menajang 1967 – 1971
Hukum Tua W.F.T. (Ampe’) Purukan 1971 – 1977
Penjabat Hukum Tua Hans A. Werung 1977 – 1981
Penjabat Kepala Desa J.A. (Yo’) Assa 1981 – 1989
Kepala Desa Hans A. Werung 1989 –
Kepala Desa Beret Menayang – 2002
Kepala Desa Kawatu Tuang Talumewo 2002 – 2008 Hukum Tua
Desa Poopo Utara Mitsuwi Manuel Talumewo 2006-2008 Penjabat Hukum Tua
Desa Poopo Utara Maxi Londa 2008-kini
Desa Poopo Barat Desmon Londa 2006-2008 Penjabat Hukum Tua

Sumber:

http://bode-talumewo.blogspot.com

Hati-hati neh iklan di bawah ini cuma promosi, dengan banyaknya penipuan di internet saya tidak jamin iklan ini betul

UUS George Washington
Kapal Induk AS Parade di Bunaken
Sabtu, 23 Mei 2009 | 09:19 WITA
Manado, Tribun - Sebanyak 50 kapal perang asing dari berbagai negara di dunia dipastikan ikut meramaikan Sail Bunaken yang akan dilaksanakan di Kota Manado, 12-20 Agustus 2009.


"Kapal perang asing itu akan bergabung bersama 30 kapal perang milik Indonesia, pada parade angkatan perang di perairan Sulawesi Utara (Sulut)", kata Gubernur Sulut SH Sarundajang di Manado dikutip Antara.


Negara adikuasa Amerika Serikat turut menghadirkan tiga kapal perang serta satu kapal induk George Washington, untuk berparade bersama di perairan Sulut, yang mengambil rute khusus di Manado dan Pelabuhan Bitung.


Selain parade kapal perang (fleet review), juga ada lintas layar (sail pass), yacht rally Darwin (Australia) ke Manado, lintas terbang (fly pass), kirab kota, dan bakti sosial. "Kesiapan Manado sebagai tuan rumah Sail Bunaken terus dimatangkan, termasuk infrastruktur dan keamanan," katanya sambil menambahkan bahwa masih akan ada tambahan peserta lainnya.


Bahkan, sejumlah kapal perang Indonesia sudah mengikuti simulasi Sail Bunaken di Teluk Manado, serta turut disaksikan sejumlah petinggi TNI Angkatan Laut. Gubernur Sulut menilai Kota Manado dan Bitung sangat siap menjadi tuan rumah pergelaran internasional, bahkan menjadi destinasi kegiatan-kegiatan dunia di Indonesia karena suksesnya pelaksanaan World Ocean Conference (WOC).


Terlebih lagi, Sulut merupakan wilayah paling utara di Indonesia yang berbatasan dengan perairan Pasifik, yang rentan dengan bahaya-bahaya perang.

Hati-hati neh iklan di bawah ini cuma promosi, dengan banyaknya penipuan di internet saya tidak jamin iklan ini betul

29 Kapal Perang Asing akan Hadir di Manado

By Republika Newsroom
Rabu, 20 Mei 2009 pukul 08:09:00
JAKARTA--"Indonesia Fleet Review" (IFR) sebagai rangkaian kegiatan "Sail Bunaken" 2009 akan menghadirkan 29 kapal perang dari berbagai negara.
"Total akan ada 29 kapal perang yang ikut `fleet review` di Manado. Termasuk kapal induk George Washington dan tiga kapal destroyer milik Amerika Serikat," kata Wakasal Laksdya TNI Moekhlas Shidik, pada peluncuran "Sail Bunaken" di Jakarta, Selasa malam.


Ke-29 kapal perang yang hadir atas undangan dari Indonesia antara lain dari Rusia, China, India, Australia, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Pakistan.
"Mereka begitu menghormati undangan yang diberikan. Bahkan Rusia mau hadir, padahal butuh waktu 54 hari untuk sampai di Manado," ujar Wakasal.
TNI AL sendiri, menurut dia, akan mengirimkan 10 kapal perangnya, ditambah dua "tall ship". Polisi Airud akan mengirimkan dua kapal, Ditjen Perhubungan Laut mendatangkan dua kapal, Ditjen Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (P2SDKP) akan mengirimkan 10 kapal pengawas.
Menurut dia, pelaksanaan "fleet review" memakan dana cukup besar, tidak heran lebih dari 10 tahun acara tersebut tidak lagi dilaksanakan.


Ia mengatakan untuk mengoperasikan satu kapal perang saja minimal menghabiskan bahan bakar 6.000 hingga 7.000 ton per hari. Karena itu pelaksanaan IFR tidak boleh gagal.


"Sebenarnya di dunia `Navy Brotherhood` tidak dapat dipisahkan antara satu negara dengan lainnya. Karena itu kehadiran mereka merupakan bentuk penghargaan atas undangan Indonesia," kata dia.


Wakasal mengatakan bahwa IFR selain diramaikan oleh parade kapal perang, kapal layar, dan yacht, juga akan diramaikan dengan Festival Bahari dan Festival Kesenian Tradisional.


"Kita juga mengadakan bhakti sosial selama tiga minggu di pulau-pulau kecil terluar di Indonesia," tambah dia.


Pelasanaan puncak "fleet review" yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono rencananya akan diadakan pada 19 Agustus 2009. Berbagai atraksi pesawat tempur juga akan dilakukan.


"Pesawat-pesawat tempur AS akan melakukan atraksi yang lepas landas dari kapal induk mereka. Selain itu pesawat tempur Indonesia juga akan melakukan atraksi yang sama," ujar dia.


Rombongan "fleet review" sendiri diperkirakan akan menghabiskan waktu lebih dari 180 menit. Kegiatan itu akan disaksikan langsung oleh Presiden

Hati-hati neh iklan di bawah ini cuma promosi, dengan banyaknya penipuan di internet saya tidak jamin iklan ini betul

kapal induk AS menuju MANADO

USS George Washington Bergerak ke Sulut

Tuesday, 28 July 2009 11:10
MANADO -- Sebuah kapal istimewa bakal hadir dalam hajatan Sail Bunaken, 12-20 Agustus 2009 mendatang. Kapal induk USS George Washington (CVN/Carrier Vessel Nuclear 73) dijadwalkan berpartisipasi di kegiatan tersebut. "USS George Washington juga akan berpartisipasi," ujar Danlantamal VIII Laksamana Pertama Willem Rampangilei, kemarin.
Kehadiran kapal ini jelas akan menjadi atraksi tersendiri bagi warga untuk menyaksikannya. Hanya saja, belum diketahui kapan kapal induk yang berbasis di Yokosuka Naval Base, Jepang itu akan masuk perairan Sulut. Belum juga diketahui pasti di mana kapal itu akan berlabuh nantinya.
Selain USS George Washington, kapal-kapal lainnya dijadwalkan berdatangan mulai 11 Agustus mendatang. Dua kapal perang Thailand hamir dapat dipastikan akan berlabuh di pelabuhan Bitung. “Kapal dari Thailand akan merapat untuk berpartisipasi dalam parade kapal perang,” jelas Rampangilei.
Kedua kapal itu sebelumnya melakukan latihan bersama dengan kapal perang Indonesia di perairan Laut Sulawesi. Karenanya, kata Willem, pasca latihan tersebut, kapal dari Thailand ini menuju Pelabuhan Bitung. "Saat ini ada sekitar 32 kapal perang 32 kapal perang yang akan berpartisipasi, sudah termasuk USS George Washington," tuturnya.
Kapal-kapal perang itu akan berparade dalam acara puncak, sekitar pukul 16:00 pada 19 Agustus nanti. “Diperkirakan tanggal 14 atau 15 Agustus mendatang seluruh kapal perang yang menjadi peserta Sail Bunaken sudah hadir ada semua di perairan Sulut," jelasnya.
Selain parade kapal perang, juga akan ada pemecahan rekor selam massal oleh 1.500 penyelam di Teluk Manado. Ada juga lomba perahu layar Darwin-Manado, yang akan dilepas Menteri DKP Freddy Numberi pada Sabtu (18/8) nanti dari Darwin. Panitia Sail Bunaken sendiri memperkirakan acara ini akan mendatangkan sekitar 7.000 hingga 10.000 peserta.

sekilas tentang USS GEORGE WASHINGTON
apal USS George Washington adalah kapal induk nuklir yang berada di bawah naungan Navy Amerika Serikat. Kapal ini diberi nama sesuai dengan presiden pertama Amerika Serikat, George Washington. Kapal ini telah menjelajahi samudera luas dalam berbagai misi di seluruh dunia sebagai bagian dari pembelaan dan pertahanan diri Amerika dalam perang melawan terorisme global.
Kapal ini menampung 5.680 personil yang mengoperasikan berbagai sistem dan subsistem yang terdapat di dalamnya. Hal ini temasuk teknisi, pakar pesawat tempur, pakar helikopter dan pakar transportasi. berdasarkan jenisnya, kekuatan kapal ini berasal dari dua westinghouse brand A4W reaktor nuklir dengan kekuatan 4xsteam turbin sampai 4xshafts dengan produksi hingga 260.000 shaft tenaga kuda. Kecepatan tertingginya mencapai 30 knot.
Sistem pertahanan dan alat perang dari kapal ini mendapatkan pujian dari banyak kalangan. Didukung oleh berbagai macam senjata antara lain 2 x Sea Sparrow surface-to-air missile launchers, 2 x RIM-166 RAM (Rolling Airframe Missiles) launchers and 3 x 20mm Phalanx Close-In Weapon Systems (CIWS). Electronic warfare is handled by way of an SLQ-25A(V)4 Countermeasures system and torpedo countermeasures as needed. Radar juga termasuk bagian dari sistem seperti AN/SPS-48E 3-D air search, AN/SPQ-9B target acquisition and twin AN/SPN-46 air traffic control radars.
USS George Washington yang pertama kali dibuat pada tahun 1982 dan laid down pada tahun 1986. Kapal tersebut mulai diluncurkan pada tahun 1990 dan secara resmi pada tahun 1992. Menariknya pangkalannya terletak di Yokosuka Naval Base di Yokosuka, Jepang dan lebih dikenal dengan nama panggilan dari “GW”. Saat ini masih aktif di satuan Navy Amerika Serikat

Berikut ini adalah spesifikasi dari USS George Washington:
Dimensi:
Length: 1092ft (332.84m)
Beam: 252ft (76.81m)
Draught: 41ft (12.50m)
Struktur:
Complement: 5,680
Suface Displacement: 97,000tons
Kekuatan:
Engine(s): 2 x Westinghouse A4W nuclear reactors and 4 x steam turbines powering 4 x propeller shafts and generating 260,000shp.
Kemampuan:
Surface Speed: 30kts (35mph)
Range: Essentially Unlimited
Persenjataan:
2 x Sea Sparrow Mk 57 Mod 3 surface-to-air missile launchers
2 x RIM-166 RAM (Rolling Airframe Missile) launchers
3 x 20mm Phalanx CIWS
Pesawat yang ada:
Dapat menampung 90 pesawat berbagai jenis termasuk helikopter.

Hati-hati neh iklan di bawah ini cuma promosi, dengan banyaknya penipuan di internet saya tidak jamin iklan ini betul

Batu Cungkel

Pertengahan 2008 lalu saya berkesempatan bertemu dan berdialog singkat dengan tu’ur masalah budaya Minahasa, Bpk. Jessy Wenas di sekretariat Institut Seni Budaya Sulawesi Utara. Dimulai dari membahas minimnya kuantitas souvenir Minahasa, Dotu Sumanti di Tondano yang hilang kekuatan magisnya karena masuk Kristen, tukang potong kepala yang turun gunung cari mangsa di pantai barat Minahasa, hingga masalah “baku cungkel”.

Ya, “baku cungkel”. Mungkin itu satu-satunya “tradisi” yang selalu melekat pada sistem sosial orang Minahasa hingga saat ini. Atau mungkin genetik? hehehe. Bpk Jessy Wenas sendiri berpendapat bahwa “baku cungkel” itu positif. Awalnya saya sendiri masih abu-abu (ragu). Tetapi akhirnya jadi pembenaran juga kalo dilihat dari perspektif “Survival of the fittest”, siapa yang kuat dialah yang bertahan. Kita lebe maju, kita lebe jago, kita sama dengan dorang, ngana cuma sama dengan ngana pe kaum jo, taputar-putar di situ. Mungkin kalimat-kalimat itu yang ada di benak para penganut “baku cungkel”.

Tapi namanya juga pertemuan singkat, jadi dialog “baku cungkel”dengan tu’ur budaya ini hanya sebentar. Tidak ada kesimpulan. Yang penting pulang bawa buku “Sejarah dan Kebudaan Minahasa” dari penulisnya langsung dan gratis. Dan dalam hati: “Nanti kita baca ini buku kong cari tau lebe banya, biar lebe jago dari ngana, kong kalo so jago kita cungkel pa panga, gratis, hahaha”. Cuma lupa minta tanda tangan... :(

Sumber:

http://touminahasa.blogspot.com/2008/12/baku-cungkel.html

Hati-hati neh iklan di bawah ini cuma promosi, dengan banyaknya penipuan di internet saya tidak jamin iklan ini betul

Miniatur Kebasaran

Yang beking kita pe tamang

Dia itu seniman, pelukis deng pematung

Dia peduli dengan budaya Minahasa

Padahal dia orang Toraja

Sejak dapa saki cuma ini yang dia beking

Dia bilang for tamba-tamba bli nasi

Soalnya dia so nembole kaluar rumah

Jadi ini patong dia jual

Satu biji limapuluhribu

Kalo berminat deng simpati

Telp jo pa dia di (0431) 868242

Dia pe nama asli Alfred Pongtuluran

Mar cuma ja pangge Yappy

Sumber:

http://touminahasa.blogspot.com/2008/12/miniatur-kabasaran.html

Hati-hati neh iklan di bawah ini cuma promosi, dengan banyaknya penipuan di internet saya tidak jamin iklan ini betul

Film Dokumenter Kabasaran


Seperti potongan dialog pada bagian akhir film “The Last Samurai”-nya Tom Cruise: not the story about how he died but how he lived. Begitu juga “The Last Warriors of Malesung” ini, semoga saja film/dokumenternya segera dibuat (kalau memang ada yang mau buat). Agar kita bisa tau siapa dan bagaimana mereka dulu, karena mereka sekarang (seolah-olah) hanya jadi ornamen pembukaan acara atau penyambut tamu. I’m wating, ups... torang samua kote ba tunggu.

Sumber:

http://touminahasa.blogspot.com/2008/12/test-2.html

Hati-hati neh iklan di bawah ini cuma promosi, dengan banyaknya penipuan di internet saya tidak jamin iklan ini betul

GMIM MASA PERGOLAKAN PERMESTA

Gerakan Perjuangan Semesta (disingkat Permesta) lahir tanggal 2 Maret 1957 di Makassar, dengan Proklamasi dan Piagam Perjuangan Semestanya. Dalam proklamasi yang ditandatangani Letkol Ventje Sumual ini disebutkan “Demi keutuhan Republik Indonesia, serta demi keselamatan dan kesejahteraan Rakyat Indonesia pada umumnya, dan Rakyat Daerah di Indonesia Bagian Timur pada khususnya ...,” dengan penegasan “... segala peralihan dan penyesuaiannya dilakukan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dalam arti tidak, ulangi tidak melepaskan diri dari Republik Indonesia.”

Gerakan ini memperjuangkan otonomi luas bagi daerah dengan komposisi untuk daerah surplus PAD adalah 70% dari pendapatan daerah untuk derah dan 30% untuk pemerintah pusat, sedangkan untuk daerah minus adalah 100% pendapatan daerah untuk daerah ditambah subsidi dari pemerintahan pusat untuk pembangunan vital selama 25 tahun.

Gerakan ini mendapat banyak tantangan dan hambatan dari Pusat, terutama PKI sehingga dengan terpaksa Permesta mengambil jalan yang dianggap terbaik, yaitu perang. Di sini berlakulah prinsip “civis pacem para bellum” (yang mencintai damai haruslah bersedia perang).

Pada saat pergolakan Permesta bergejolak di daerah ini tahun 1958-1961, GMIM terpanggil, terus berseru serta mengajak kedua kubu (Pusat-Permesta) yang berseteru untuk segera menghentikan pertikaian. Saat Tentara Pusat mengadakan operasi penumpasan Permesta Badan Pekerja Sinode GMIM dalam sidang tanggal 12 Maret 1958 mencetuskan sebuah seruan yang bunyinya antara lain: “Tinggalkanlah dan hentikanlah jalan kekerasan, melalui pemboman, perang saudara antara kita dengan kita. Hentikan pemuntahan peluru dan granat di Kota Manado dan kota-kota lainnya yang telah menyebabkan tewasnya orang-orang tak berdosa. Usahakan penyelesaian pergolakan ini, ganti pedang dan tarik pesawat-pesawat pembom serta serangan-serangan yang seru dan hebat (membahana)." Seruan itu ditandatangani oleh Ketua Sinode Ds AZR Wenas dan Panitera (Sekretaris Umum) Pdt. PW Sambouw. Selain itu ditegaskan dalam seruan itu: "Sekali lagi kami tegaskan bahwa adalah bertentangan dengan kehendak Tuhan Allah daerah kita Minahasa dan daerah-daerah lain yang sebagian besar penduduknya beragama Kristen akan mengisap darah dari anak-anaknya sendiri dan darah suku-suku yang lain di Indonesia karena perang saudara ini."

Seruan yang dikeluarkan sekitar dua pekan setelah terjadinya pemboman di Manado dan Tomohon, tanggal 22 Februari 1958 ini ditujukan kepada sekitar 400.000 jiwa warga Kristen yang dipimpin oleh GMIM, yang tersebar di Tanah Minahasa, daerah pekabaran injil GMIM di Bolmong sampai Sulteng saat itu. Badan Pekerja Sinode GMIM juga menyusun seruan kepada pemerintah tanggal 12 Maret dan 28 Juni 1958.

Seruan Ds. Wenas diajukan lagi di Radio Permesta di Manado bulan April 1958 sebanyak dua kali yang mana menyerukan agar sengketa Pusat dan Daerah diselesaikan melalui musyawarah. Tanggal 5 Mei 1958 BPS GMIM menyerukan supaya di jemaat-jemaat diadakan doa syafaat untuk kesembuhan Negara dengan nats pembimbing II Tawarikh 7:14. Usaha-usaha perdamaian GMIM ini kemudian dianjurkan supaya diikuti juga oleh Gereja-gereja lain baik di Minahasa maupun di luar Minahasa.

Saat TNI mendarat di Kema pada 16 Juni 1958, BPS GMIM kembali mengeluarkan seruan yang ditujukan kepada Pemerintah Pusat, PRRI/Permesta serta kepada seluruh warga GMIM. Seruan itu dikeluarkan setelah mendengar dan menyaksikan bahwa pertempuran dan perang saudara antara anak dan orang tua mulai meluas terutama dari kawasan Kema ke Manado dan Tondano. Dalam seruan yang juga ditandatangani Ketua dan Panitera BPS GMIM diawali nats Mazmur 130:1,2. Seruan ini juga mengungkapkan: Sinode GMIM masih tetap berseru-seru minta dihentikannya perang setelah memperhatikan semakin banyak korban jiwa dan harta benda dan jatuhnya korban jiwa manusia yang besar sekarang ini belum pernah terjadi di Tanah Minahasa sebelumnya. Bahwa pengorbanan dan pembunuhan terhadap prajurit-prajurit resmi, anak-anak muda dan tentara pelajar serta rakyat jelata di desa dan penyingkiran tidak mungkin bisa dipertanggungjawabkan. Ini membangkitkan murka Tuhan Allah kita dalam Jesus Kristus." Sarana dan prasarana GMIM memang kena imbas, kendaraan-kendaraan diambil oleh TNI sehingga Ds AZR Wenas mengunjungi jemaat-jemaat dengan menunggang kuda. Nanti setelah setahun kemudian pada bulan Mei 1959 barulah hubungan-hubungan menjadi lancar karena kendaraan-kendaraan GMIM dikembalikan tentara.

Selama periode Pergolakan Permesta ini, GMIM berada pada masa “sial dan malang, genting dan berbahaya”, namun selama itu pula GMIM diuji. Akibatnya GMIM lebih dihargai oleh masyarakat di Minahasa dengan mengecualikan penganut paham komunis. Anggota-anggota jemaat, Majelis Gereja, pengantar-pengantar jemaat mengungsi ke kebun-kebun dan hutan-hutan. Jika banyak pendetta di antaranya anggota-anggota Badan Pekerja Sinode telah mengungsi bersama anggota jemaat, maka Ds AZR Wenas tinggal tetap di rumah kediamannya yang terletak di samping kantor Sinode di Tomohon. Para zendeling/misionaris dari Belanda dan Amerika harus menyingkir dari GMIM karena keadaan ini. Sekalipun demikian, GMIM tetap melayani anggota-anggotanya baik di daerah yang dikuasai Tentara Pusat maupun daerah yang dikuasai Permesta. Jalan-jalan raya menjadi rawan karena menjadi sarana pencegatan oleh pihak Permesta. Untuk bepergian, harus diadakan surat pas/ijin, baik di daerah yang sudah dibebaskan TNI maupun di kalangan Permesta sendiri.

Dalam periode pergolakan Permesta ini juga terbentuk dua kekuatan, yaitu pemerintahan militer dan sipil yang taat pada Pemerintah RI (Pusat) dan pemerintahan militer dan sipil yang taat pada PRRI dalam naungan Divisi Permesta. Dua kekuatan yang saling membinasakan ialah yang pro dan anti Permesta. Selama periode ini tenrata Pusat dan Tentara Permesta saling tembak, kejar-mengejar dan saling membom. Selain itu antar saudara saling bunuh, suami berpisah dengan keluarga bahkan tewas di medan tempur, saling curiga, saling menculik, pendidikan terbengkalai, penyakit merajalela karena kekurangan obat-obatan.

Moral dan akhlak, kehidupan jasmaniah dan rohaniah saat itu berada di peringkat paling bawah dalam sejarah Minahasa modern. Beberapa orang bahkan bertindak kanibal, walau binatang dengan mudah didapat di hutan bahkan hewan-hewan peliharaan yang dibiarkan oleh para pemilik yang mengungsi.

Selain itu, menguatnya kembali mistik di kalangan orang Kristen Minahasa dengan mewabahnya demam mistik. Kepercayaan terhadap kekuatan mistik Opo-opo, leluhur orang Minahasa yang sangat diyakini kembali mengental. Kekebalan tubuh terhadap bacokan atau tembakan senjata merupakan hal yang paling laris dalam situasi yang siap bertempur tersebut. Jimat-jimat tersebut ada yang berbentuk batu cincin, keris, sapu tangan, atau ikat pinggang jimat. Yang paling disukai dan dianggap hebat kesaktiannya adalah ikat pinggang jimat, berupa batu-batu kecil ataupun akar-akaran yang telah dibungkus dengan kain merah, beruas-ruas yang disebut Sambilang Buku (Sembilan Ruas). Selain itu ada jimat penghilang tubuh serta jimat terbang yang juga menjadi 'dagangan' laris saat itu. Ada juga jimat yang diberikan dalam bentuk air yang diminum atau dimandikan. Salah satu akibat utama dari mistik ini adalah banyak menimbulkan perpecahan bahkan lucut-melucuti senjata, serta kudeta kekuasaan di antara sesama pasukan. Hal ini merupakan kelemahan fatal bagi keutuhan dan kekuatan Permesta, sebab seorang bawahan yang merasa dirinya sakti, bisa saja melawan atasannya.

Oleh karena itu GMIM merasa terpanggil untuk menyegarkan kembali makanan rohani warganya. Ketua Sinode Ds AZR Wenas kemudian menyusun renungan tanggal 31 Desember 1958 dan 1 Januari 1959 untuk dibacakan di radio tidak diucapkan karena tidak disetujui Pemerintah Pusat yang berkedudukan di Tomohon (Pekuperda). Sekalipun demikian stensilannya dapat diterima oleh jemaat-jemaat sampai di hutan-hutan.

Tercatat beberapa kali Ds Wenas ke Jakarta melaporkan kepada para pejabat terkait maupun warga Kawanua di sana untuk turut berperan mengatasi hal ini. Beberapa kali Ds Wenas menyurat bahkan bertemu langsung dengan Presiden Soekarno untuk melaporkan dan mencari penyelesaian. Sedikitnya tiga kali Ds Wenas menyurati Presiden Soekarno yakni tanggal 27 dan 28 Agustus serta tanggal 26 September 1959 guna mencari penyelesaian konflik itu.

Pada sisi yang lain ia juga menjadi perantara untuk bertemu dan membahas permasalahan itu dengan tokoh-tokoh Permesta. Jadilah Ds Wenas sebagai kurir. Suatu waktu ia disuruh menemui Kolonel Joop Warouw di Remboken. Demikian juga dengan Kolonel Kawilarang di Desa Panglombian ataupun di Desa Tara-Tara. Dalam suasana yang sulit sekalipun Pelayan yang setia ini tetap sedia melaksanakan misinya meski harus berjalan kaki atau naik kuda sekalipun demi tercapai dan terciptanya perdamaian di daerah ini.

Hal senada sebenarnya sudah disampaikan sejak Prsiden Soekarno hadir dan berpidato pada HUT Sinode GMIM, 30 September 1957 di Gereja Sion Tomohon. Ketika itu Permesta baru 6 bulan diproklamirkan. Alhasil, tanggal 14 April 1961 tokoh-tokoh kedua kubu yang bertikai menghadiri pertemuan yang diistilahkan sebagai "Penyelesaian" di Susupuan, yakni perbatasan Tomohon dengan Desa Woloan. Lagi-lagi GMIM yang bertindak selaku fasilitator mengerahkan sejumlah pekerjanya mempersiapkan lahan upacara pertemuan itu. Permesta diwakili Panglima Besar Alex Kawilarang dan Pemerintah Pusat oleh KASAD Jenderal Achmad Yani. "Penyelesaian" ini diawali dengan pertemuan pendahuluan perwakilan kedua kubu di Desa Lopana, Tumpaan pada 2 April 1961, dan kemudian ada pertemuan lagi antara Kawilarang-Nasution di rumah keluarga Hans Tular di Tomohon.

Oleh Bodewyn Grey Talumewo
Telah dipublikasikan di Majalah Fakultas Theologi UKIT "Inspirator" Edisi Maret-Mei 2007

John F Malonda

Budayawan Bangsa Minahasa

=============================================================

KAWANUA
oleh
John F. Malonda

Ou houuu
oooi
kawanua
mengapa kamu goblok semua
kamu tjakap
kamu berbakat
kamu pande
deng mulu-tarabe
yang laeng mo polo dunja
mar Minahasa bukang kitong punya
kawanua,
galangkan satu persatuan
kuburkan semua sentimen
demi turun-temurun
kalau tidak
aku panggil semua dotu-moyang
bikin kamu tergoncang
manguni
pelindung burung kecil
itulah lambang
kejayaan kita
langkou
si sapi-utan
tidak kenal tubir dan jurang
itulah sifat keberanianmu
Kalawatan si babi-rusa
kecil-rinda-penjelma-buas
awas
tidak bikinpatah gigi-bisa
senjata-sendiri bunuh-diri-sendiri
monyet ta berekor
ditembak
kena pelor
ta' jatuh
demi keselamatan
rakyat melarat
hati-hati main api
kita mencetak sejarah
opo Lumimuut
berilah ilhammu
untuk keselamatan kawanua
anak-anak pangi.

Dari buku Membuka Tudung Dinamika Filsafat purba Minahasa oleh J.F. Malonda tahun 1952

NB:
- Anak-pangi: anak Manado (istilah yang lahir masa perang revolusi kemerdekaan RI)
- Ejaan ta pe mau sandiri mo ubah

TERJEMAHAN
VERBOND 10 JANUARI 1679

Perjanjian dan ikatan yang diadakan oleh Gubernur Maluku, Robertus Padtbrugge atas nama Yang Mulia Gubernur Jenderal Rijckloff van Goens dan Dewan Hindia yang mewakili de Nederlandsche g’octroyeerde Oost Indische Compagnie (Kompeni Hindia Timur Belanda pemegang hak monopoli) dan Negara Belanda Serikat di satu pihak, dan para ukung serta seluruh masyarakat dari daerah Manado atau ujung paling utara dari Selebes di pihak lain.
Semua ukung dari Aris, Clabat, Bantik, Klabat-Atas (=Maumbi), Kakaskasen, Tomohon, Tombariri, Sarongsong, Tounkimbut-Bawah (=Sonder), Tounkimbut-Atas (=Kawangkoan), Rumoong, Tombasian, Langoan, Kakas, Remboken, Tompasso, Tondano, Tonsea, Manado, Tonsawang dan Pasan yang mewakili Ratahan dan Ponosakan, telah menyatakan bahwa mereka telah turun ke Manado atas panggilan untuk mengadakan rapat, dan atas permintaan mereka bersama, dan dengan syarat bahwa ukung sampai akhir hayat mereka akan tetap cinta dan setia pada Kompeni, yang telah berjanji, bahwa kami tidak akan meninggalkan para ukung, atau memberi kesempatan Raja Bolaang berkuasa kembali, baik atas daerah ini maupun atas orang-orangnya, oleh karena bukan mereka yang meninggalkan raja, tetapi rajalah yang meinggalkan mereka dan telah berusaha dengan segala cara untuk menyulitkan dan merugikan mereka, hal mana di samping yang lain-lain, telah mendorong mereka untuk mencetuskan permintaan ini.

Selanjutnya, bahwa dalam rapat hal-hal di bawah ini telah dibahas, diperbincangkan, dan sesudah dipikirkan masak-masak, telah disepakati untuk mencatatnya dalam bahasa Belanda kita sesuai permintaan mereka yang pantas serta kehendak mereka yang sangat besar, agar senantiasa dapat diketahui oleh para gubernur dan para kepala pemerintahan Maluku, apa yang mereka telah janjikan dan luaskan, begitu pula apa yang telah dijanjikan dan diluaskan pada mereka, yaitu:

(1)

Bahwa hanya Kompeni yang mereka anggap dan akui sebagai satu-satunya yang dipertuan yang sah untuk selama-lamanya (?), dan di samping Tuhan Allah, kini dan selanjutnya, tidak ada orang lain yang diakui dan akan diakui, dan bahwa semua ini telah dilakukan atas kehendak sendiri tanpa paksaan.

(2)

Berjanji bersatu-padu dengan setia, mendampingi dan membantu Kompeni menghadapi segala kemungkinan dengan harta kekayaan, daerah dan segala kesanggupan.

(3)

Untuk itu menyanggupi, akan menyediakan segala sesuatu yang diperlukan untuk pemeliharaan perbentengan, seperti pagar tembok, perbaikan, pembaruan dan penambahan bahan bangunan yang dirasa perlu seperti kapur, batu, pasir, tiang-tiang kayu untuk laras dan roda, balak, bambu, atap, kaso dan apa saja yang diperlukan dan selanjutnya apa yang diperlukan dalam suatu pertahanan perang atau penyerangan, tanpa bayaran.

(4)

Termasuk tugas dalam benteng adalah, membuat dan memelihara dermaga menuju pantai dan membangun serta memelihara tanggul dan selanjutnya segala sesuatu yang diperlukan untuk kepentingan tanah air.

(5)

Kelima, mereka berjanji untuk mengusahakan bahwa senantiasa akan tersedia satu rumah Kompeni yang baik, pantas dan besar di samping satu gudang yang baik agar supaya segala sesuatunya akan aman, untuk kain-kain yang akan ditumpuk di sini untuk keperluan perdagangan padi, dan padi hasil tukaran yang pula akan disimpan di dalamnya. Mereka pun berjanji pada Kompeni, akan memasukkan padi yang baru, bersihdan ditapis dengan baik, sehingga dari dua bagian padi dapat diperoleh satu bagian beras, untuk mana Kompeni akan mendatangkan satu mesin menyaring dan memerintahkan para pegawai untuk mengawasinya, karena katanya mereka tidak dapat bertanggung jawab atas adanya dedak yang secara tidak jujur dapat dimasukkan oleh para petugas Kompeni; tetapi mengenai beras, dinyatakan dengan berbagai alasan, bahwa mereka hanya dapat memasukkannya untuk keperluan kapal-kapal berdasarkan pembicaraan terdahulu.

Setelah semuanya setujui, maka kepada mereka diberikan pula bersama ini, atas nama Kompeni, dijanjikan sebagai berikut:

(1)

Bahwa semua ukung, daerah serta orang-orangnya baik yang hadir maupun yang tidak hadir, akan dianggap dan diterima sebagai bawahan Kompeni yang jujur dan setia, yang harus dijaga, dilindungi, dijamin keamanan dan dibantu mengahadapi siapa pun yang akan mengganggu, merusak, menghina, hal mana berlaku pula atas kebun, kampung, tanaman, ternak, hak milik, orang-orang, perempuan, anak-anak, budak-budak atau apa saja yang ada hubungan dengan itu.

(2)

Dalam perjanjian ini dapat pula diturutsertakan orang-orang Tonsawang, Ratahan, Ponosakan dan juga bahagian tertentu dari Bantik (=Bantik Alifuru), bila mereka mengakhiri segala pengabdian kepada Raja Bolaang, yang kini masih terlihat, di luar mana hal ini tidak berlaku bagi mereka.

(3)

Bahwa semua mereka yang telah dinyatakan berada di bawah naungan Kompeni, dibebaskan sama sekali dari segala sesuatu, sama sekali tidak membayar sesuatu imbalan, balas budi atau utang, kecuali apa yang disepakati bersama dalam keadaan darurat atau menghadapi musuh, dalam hal mana Kompeni tidak menginginkan yang lain, selain pernyataan kejujuran yang langgeng dan simpati.

(4)

Untuk membuktikan maksud baiknya, maka sejak sekarang mereka tidak akan mengeluarkan lagi, baik dari darat maupun dari luar (=pulau-pulau sekitar), kayu hitam, dengan segala alasan apa pun, biarpun atas nama gubernur; dalam hal kapal-kapal dan tongkang-tongkang maka berdasarkan persetujuan terdahulu, harus disediakan keperluan untuk kegunaanpelayaran, seperti balok dan semacamnya, dan tanpa barang-barang tersebut kapal-kapal tidak akan dapat berlayar.

Segala persetujuan yang diadakan oleh seluruh ukung dan masyarakat dengan Kompeni dan janji yang diberikan oleh Gubernur Robertus Padtbrugge kepada semuanya, atas nama Kompeni, berdasarkan janji dari kedua belah pihak, akan dipelihara dengan tulus ikhlas, tanpa cidera, tanpa dikurangi dans ecara jujur, tetapi karena orang-orang ini tidak mempunyai pengetahuan dan pengertian mengenai tulis-menulis, untuk soal ini mereka meminta sebagai saksi, juru bahasa Bastiaan Saway, ukung Mandij, Kapten Pacat Soepit (=Ukung Pacat Soepit) dan Pedro Ranty, yang mengerti betul terjemahan dan apa yang telah diterjemahkan dalam bahasa Melayu; dan agar segala sesuatu itu dapat memperoleh kekuatan yang lebih besar, segala sesuatu yang tertulis itu diserahkan pada mereka setelah diresmikan dan dicap, yang pada waktunya akan disalin ke dalam bahasa mereka dengan huruf kita (=Latin), untuk dapat dibacakan sewaktu-waktu kepada rakyat, dan agar supaya isinya dapat pula diketahui oleh anak keturunan mereka.
Sekianlah yang dibuat dan diputuskan di Manado dalam Benteng Amsterdam pada tanggal 10 Januari 1679.

(tertanda)
Robertus Padtbrugge,
dan atas nama daerah (=Daerah Manado)
tercantum tanda-tanda dari
juru bahasa Bastiaan Saway,
Ukung Mandij,
para Kapten Pacat Soepit dan Pedro Ranty,
(dengan cap Kompeni dalam lak merah)
atas perintah dari Gubernur Robertus Padtbrugge,
tanggal dan tahun tersebut di atas dan
tertanda
Christiaan Hasselberg

HIKAYAT PULAU LEMBEH
Oleh Grey Talumewo

Inilah hikayat Pulau Lembeh yang diceriterakan oleh tua-tua Malesung.
Adapun hikayat tua tanah Minahasa ini adalah kisah yang sangat kelam, terbungkus dengan kabut kegelapan ceritera purbakala, yang dituturkan secara turun-temurun oleh orang tua kepada anak cucu turun-temurunnya.


Adapun maka orang penduduk Mahasa pertama itu terdapatlah di hulu dan berdiam pada sembarang pinggir padang rata di atas daripada Wulur Mahatus pegunungan itu yaitu menandakan sipat antara tanah Malesung dan Bolaang Mongondow pada tempat yang disebut Mahawatu namanya.


Maka keluarlah dua orang dari tempatnya, yang satu tua dan yang lain muda yaitu Karema dan Lumimuut namanya. Kemudian Karema suruh Lumimuut menengada ke arah tenggara. Akhirnya hamillah Lumimuut, lalu pada masanya lalu bersalin seorang anak laki-laki, Toar namanya itu.


Maka anak itu dipiara oleh Karema sampai umurnya bertambah-tambah, pada akhirnya tiada dikenalnya lagi ibunya itu.
Akhirnya Toar dan Lumimuut ibunya itu menikah, dan mempunyai banyak anak. Merekapun itu berpindah tempat dan berdiam sebuah tempat bernama Watu Niutakan.


Adapun anak cucu Toar-Lumimuut itu menjadi tiga kaum besar yang dinamai Se Makarua Siow, Se Makatelu Pitu dan Se Pasiowan Telu.
Kaum Makarua Siow yaitu kaum pengatur segala ibadat dan adat. Merekalah kaum Walian dan Tonaas.


Kaum Makatelu Pitu yaitu kaum pamarentah Wanua dengan penjaga Tumani. Merekalah kaum pemerentah, Patu’an atau Paendon Tu’a panggilannya. Panjaga Wanua dengan Tumani itu Waranei panggilannya dengan kapala pasukan, Teterusan namanya.


Sedangkan kaum Pasiowan Telu itulah penduduk biasa. Merekalah rakyat biasa, petani, nalayan dan pencahari binatang di hutan.
Menurut yang empunya cerita itu, mereka berkembang biak sebanyak empat turun-turunan generasi di Watu Niutakan. Watu Niutakan itulah Pinontakan sebutan orang sekarang. Maka mereka menyebut bangsanya sendiri, Malesung namanya.


Adapun tempat mereka berdiam itu sudah penuh sesak adanya. Maka berpencarlah mereka untuk mencahari tempat yang baik baginya.
Maka keluarlah tiga puluh delapan taranak : kapala kaluarga bersama istri dan anak-anaknya bersama pengikutnya ke seluruh penjuru Malesung. Adapun taranak itu pergi dengan dua puluh lima rombongan besar berdiam di seluruh tanah Malesung, Malesung itulah tanah Minahasa.


Maka keluarlah rombongan ketujuh, Makaliwe beserta istrinya Rinuwatan-tinontoan dan empat anaknya itu pergi berdiam di tanah Mongondow itu.
Maka keluarlah rombongan Rumoyomporong beserta istrinya Paparayaanporong dan empat anaknya itu pergi ke sebelah timur tanah Malesung dan berdiam di suatu pulau yang dinamai kemudian Punten ni Rumoyomporong.
Punten ni Rumoyomporong itulah pulau Lembeh sekarang.


Kemudian berbantah-bantahan anak cucu Toar-Lumimuut itu. Se Pasiowan Telu itu yang merasa tidak puas akan peri dan laku kedua kelompok pimpinannya itu. Maka perbantahan huru-hara itu makin hari makin bertambah-tambah, timbul daripada kedengkian hati sehingga picalah pemberontakan Se Pasiowan Telu.
Pemimpin Se Pasiowan Telu yaitu Tonaas Kopero dari Tompakewa, Tonaas Muntu-untu dari Toun Bulu, Tonaas Mandey dari Tountewoh memimpin pemberontakan itu. Merekalah pemimpin foso pembagian tanah Malesung.
Maka diadakanlah foso pembagian atau Pinawetengan Posan serta Pahawetengan Nuwuh di tempat bernama Tumaratas. Tempat itu berada di sebelah utara Kuntung i Wailan, pegunungan itu. Itulah gunung yang dikuasai oleh Opo Soputan beserta istrinya Pariwuhan dengan sembilan anaknya.
Maka dibagikanlah tanah Malesung di utara pegunungan Kuntung i Wailan di atas sebuah batu bernama Watu im Pinawetengan. Di sablah utara gunung Tonderukan letaknya.


Maka bagian bangsa Tountewoh berkumpullah di bawah perintah Walalangi dan Rogi pada tempat bernama Niaranan tetapi berpindah pula ke tempat bernama Kembuan pada masa Wailan Umboh. Akhirnya di situ nama bangsa ini berganti menjadi Tounsea’. Maka keluarlah taranak-taranak dari Kembuan mendirikan beberapa tumani baru di tanah pakasaan Tounsea.


Maka keluarlah taranak tonaas-tonaas Rurugala, Wenas, Roringtudus, Maramis, Roringwailan, Sigarlaki dan Maidangkai, Runtukahu, Kapongohan dan Rotulung mendirikan beberapa tumani baru.


Maka taranak tonaas Kapongohan dan Rotulung mendirikan tumani’ - wanua Kema namanya. Taranak dari tonaas Rotulung inilah yang memerintah pakasaan Tounsea dengan nama baharunya Dotulong.
Maka dinamailah pulau itu oleh taranak pakasaan Tounsea – "Lembeh" namanya. Bermula dari kata Dembet yang artinya "di seberang air". Pakasaan Toulour pun menyebutnya "Lewet".


Akhirnya maka pada saat anak-anak bangsa Rumoyomporong itu berdiam di pulau yang disebut Punten ni Rumoyomporong – Pulau Rumoyomporong atau menurut bunyi tuturan adalah pulau Lembeh sekarang ini, maka datanglah bangsa-bangsa orang asing turunannya, berasal dari pihak seberang lautan Sendangan. Adapun pihak sendangan Malesung itu bernama Ternate. Merekalah taranak Mogogibun Roti. Dengan persetujuan serta persahabatan pula dari bangsa Rumoyomporong, mereka pun berdiam di pulau itu. Menurut yang empunya ceritera, taranak itu mendiami pulau Rumoyomporang pada abad kedua belas.


Bangsa asaing taranak Mogogibun Roti itupun mendirikan kerajaan Bolango. Mereka menyebut pulau Lembeh itu dengan nama lobe. Sebab kata mereka pulau itu "menjorok keluar". Bolango itupun berasal dari kata "Mobolango", artinya "menyeberang". Karena mereka menyeberang dari Pulau Batang Dua – Ternate namanya. Tersebutlah seorang kolano Bolango, Wintu-wintu namanya. Ia mempunyai seorang putera, Sari Wondo namanya, "sinar matahari" artinya.
Maka inilah kisah Pingkan Mogogunoy dan lakinya Matindas.


Tersebutlah Pingkan Mogogunoy, tinggal di Luaan Tana Wangko’ yaitu tanah Toun Wariri. Lakinya berasal dari Rano i tolang. Matindas namanya.
Maka patung wajah Pingkan Mogogunoy yang dijaga oleh lakinya Matindas jatuh ke tangan kolano Dodi Mokoagow. Menurut yang empunya ceritera, Dodi Mokoagow memerintah Mongondow pada tahun 1560 sampai tahun 1600. Jadi berpuluh-puluh tahun sebelum perang Toumbulu-Sepanyol. Kolano itulah Punuh Mongondow sebutan mereka.


Akhirnya diketahuilah gadis Pingkan Mogogunoy pemilik patung itu. Di Luaan Tanah Wangko’ letaknya. Itulah tanah Walak Toun Wariri. Maka berangkatlah Dodi Mokoagow bersama penggiringnya untuk bertemu Pingkan Mogogunoy.
Maka pemerintahan Mogondow itu diserahkan kepada Punu Mokodompit. Menurut yang empunya ceritera, Punuh Mokodompit kahwin dengan Wawu’ Mongiade dari Pulau Lembeh. Punuh sebelumnya juga kahwin dengan Wawu’ Ganting-ganting dari Mandolang. Tempat mereka memerintah ada di pinggir kuala Rano i Apo. Buyungon nama tempat itu, di tanah Toun Kimbut. Itulah tanah Tompakewa.


Maka larilah Pingkan Mogogunoy dan lakinya Matindas ke Walak Tounsea. Di Ma’adon tempatnya. Dekat wanua Kema. Maka, kolano Mokoagow pun mengejar jugalah mereka.


Akhirnya dengan akal Matindas maka tewaslah kolano Mokoagow di tangan serdadunya. Maka diadakanlah foso Mahapansa untuk membujuk roh kolano Dodi Mokoagow itu. Hanyalah orang Tounbulu, Toulour serta Tounsea yang mengikutinya. Cuma Tountemboan saja yang tidak mengikutinya. Mereka hanya menjadi tamu pelengkap foso karena tidak ikut terlibat dalam tewasnya kolano Mongondow itu.


Maka bangkitlah amarah bangsa Mongondow berperang dengan bangsa Malesung. Mereka memerangi semua keluarga anak cucu Toar-Lumimuut. Tiada tersisa. Apabila diketemukan anak cucu Toar-Lumimuut maka diperangilah mereka.


Maka datanglah tiga orang serdadu penggiring kolano Dodi Mokoagow ke Pulau Lembeh menceriterakan kematian punuh mereka. Maka kata Wintu-wintu, kepala bangsa Bolango itu, "Kalau demikian perbuatan orang Tounsea ini, esok hari juga kita pergi memerangi bangsa Rumoyongporong, sebab mereka itu juga bangsa Malesung.


Tersebutlah nama Mowoho, tonaas turunan Rumoyongporong itu. Didengarnyalah bunyi burung manguni. Beritanya buruk. Akan terjadi suatu celaka besar artinya. Maka berjaga-jagalah mereka supaya tidak menderita suatu celaka.


Maka persekutuan antara bangsa Rumoyomporong – yaitu bangsa taranak Toar-Lumimuut dengan bangsa asing Bolango itu, bubar karena bangsa asing itu adalah orang-orang perompak dan memerangi bangsa Malesung itu. Perbantahan huru-hara besar itu terjadi di atas pulau, sehingga banyak penduduknya pergi ke tempat lain dan menyeberanglah mereka kembali ke tanah besar. Itulah tanah Malesung.


Maka larilah Wintu-wintu bersama dengan bangsanya dan orang lainnya berperahu menuju ka fihak utara itu, serta singgahlah mereka itu pada beberapa tempat pesisir pulau-pulau Bangka, Talisei dan lain-lain. Karena mereka berperang di setiap tempat singgahnya, maka diusirlah bangsa itu oleh orang-orang di pulau-pulau itu. Sehingga pada akhirnya bangsa itupun berdiam di pinggir sungai besar Lombagian di tanah Mongondow di totabuan Molibagu namanya.


Maka wanua Kema menguasai pantai timur dan utara Malesung. Pulau Lembeh juga mereka kuasai. Taranak Rotulung atau Dotulong namanya, memerintah di wanua Kema. Dan Kema itulah pusat dari Pakasaan Tounsea’.


Maka wanua Kema, walau telah berkali-kali diserang oleh perompak-perompak, misalnya pada tahun 1677 dibakar oleh mereka, tetapi wanua Kema pun tetap berdiri tegar di tempatnya mula-mula.


Lapuran dari Tuan Gubernur Maluku di Ternate. Robertus Padtburgge namanya. Menurut tuturannya, pulau itu penting sekali dari ada sarang burung. Salimburung itulah nama burung berharga itu. Burung lelayang kecil itu yang memberikan lauk pauk itu pendek, kecil dan lebih menggemuk dan berparuh kecil, pipi hitam dengan suatu warna biru gelap mengkilap dan berekor pendek.
Pada tahun 1680 sampai tahun 1880, belum terdapat tanaman yang berarti di pulau Lembeh, kecuali sarang burung yang sangat mahal harganya. Delapan puluh pikul tiap tahun hasilnya. Pada tahun 1765 sampai tahun 1785 maka harga satu pon ada dua ringgit emas. Sebab itulah penjagaan di sana sangat ketat. Penjagaan ini dipegang oleh Ukung Um Balak Tonsea. Penjagaan ketat terhadap pulau Lembeh sejak tahun 1760 telah diserahkan sepenuhnya kepada Xaverius Dotulong.


Penduduk Tonsea tiada menerima penguasaan itu. Karena pulau itu milik Walak Tonsea. Pulau ini adalah tempat yang ditakuti, sebab terkadang menjadi sarang perompak Mangindano, Ternate, Tidore, kerajaan Utara dan lainnya.
Maka Ukung Tu’a Kema, Runtukahu namanya, bertanggung jawab atas keamanan di pulau itu. Maka anaknya pula kemudian menerima tanggung jawab itu. Ukung Tu’a Xaverius Dotulong namanya.


Maka Tuan Gubernur Maluku mengganti hak kuasa atas pengambilan sarang burung di pulau Lembeh menjadi hak milik dari walak Tounsea, khususnya keluarga Ukung Tu’a Xaverius Dotulong. Demikian keputusan itu telah dibuat dan diberikan di Ternate dalam Castel Oranye pada tanggal 17 April 1770 oleh Tuan Gubernur Maluku Hermanus Munnik.


Walaupun telah ada surat bukti penguasaan atas pulau Lembeh tersebut kepada Ukung Kema Xeverius Dotulong, maka Ukung Walak berjumlah enam walak. Mereka itulah Ukung Walak Manado, Bantik, Klabat Bawah, Ares, Klabat Atas dan Likupang.


Maka anak turunan dari Ukung Kema Xaverius Dotulong ini ada empat orang banyaknya. Merekalah Rumondor yang diseranikan menjadi Willem Dotulong beristri Wulan Wawolangi, Ukung Supit Dotulong beristri Ampe Walewangko, Watok Dotulong bersuami Dendeng, dan Lumolindim Dotulong bersuami Nelwan.
Maka anaknya Rumondor bernama serani Willem Dotulong menjadi Kepala Walak Tonsea. Adiknya menjadi Ukung Tu’a Kema, Supit Dotulong namanya.
Maka anak Rumondor bernama serani Willem Dotulong, berjumlah enam orang. Maka seorang anaknya bernama Waro’ Welong bernama serani Gerard Willem Dotulong kawin dengan nona Sonder, Porongkahu Walewangko namanya.
Maka anak Waro’ Welong bernama serani Gerard Willem Dotulong mempunyai enam orang anak banyaknya.


Maka seorang anaknya bernama Tololiu bernama serani Hermanus Willem Dotulong menjadi Kepala Walak Sonder. Tololiu itulah anak Welong, cucu Rumondor, cece Xaverius Dotulong, pemilik pulau Lembeh.


Tololiu bernama serani Hermanus Willem Dotulong inilah yang memimpin Pasukan Tulungan. Pasukan Tulungan sebanyak seribu ampat ratus orang banyaknya pergi menolong serdadu Belanda berperang melawan pemberontakan di Jawa. Pemberontakan itulah yang bernama Perang Jawa. Kemudian anak buahnya menangkap Pangeran pemberontak itu tahun 1930 dan mengasingkannya di Tondano.


Demikianlah hikayat pulau Lembeh, tanah milik orang Kema, yaitu tanah dari anak cucu Toar-Lumimuut.
(30-31 Mei 2006)

DAFTAR BEBERAPA ORANG MINAHASA YANG MENJADI PERWIRA TINGGI TNI/POLRI

Letjen G.H. Mantik

Letjen Arie J. Kumaat

A
Andries, Brigjen Inf. Purn TNI Purn Hubertus Johanes –Wagub Kalteng yg pertama


B
Bakary, Laksma Axel (SH)
Besouw, Laksamana Pertama Purn Yanneman


D
Dotulong, Brigjen TNI Purn Anthon Tololiu – Kabag Perbendaharaan ABRI?
Dotulong, Brigjen Pol. Purn Drs. Erald – mantan Kapolda Sulut
Dumais, Laksma Leonardo


E
Ekel, Laksamana Muda Purn Berty – Aspam KSAL, Asintel Kasum ABRI


F


G


H


I
Inkiriwang, Mayjen TNI Purn Albert – Pangdam Trikora, Taruna Terbaik Akmil
J

 


K
Kairupan, Mayjen TNI Glenny (MSc) – dosen Lemhamnas, Gema Sangkakala, GPIB
Kanter, Mayjen TNI Purn Empie Y. (SH) – Tokoh KRIS
Karamoy, Brigjen Pol. Purn Ventje
Kasenda, Laksamana (Madya) Purn Rudolf – KSAL 1986-1989
Katoppo, Laksamana Pertama Purn Paul
Kaunang, Mayjen TNI Purn Drs. Frans Eddy Thanos – Sekretaris Umum SUAD TNI
Kumaat, Letjen TNI Purn Drs. Arie Jeffry (SH) – Kasum TNI, Dan SESKO ABRI, Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN),
Kawilarang, Brigjen TNI Purn (Mayjen Revolusioner) Alexander Evert – Pendiri Kopassus, Panglima Operasi Pasukan di Timur Besar, Panglima TT-VII/Wirabuana yang pertama, Panglima TT-III/Siliwangi


L
Lalo, Brigjen Pol. Drs. John (MSc) – Kapolda Sulut
Lasut, Brigjen Inf. TNI Purn Willy Gayus Alexander – mantan Gubernur Sulut
Lantang, Marsda TNI-AU Purn Sylvester Ch.
Lengkey, Brigjen TNI Purn Ferdinand Potu Dotulong Ka DPD Golkar Sulut
Lonan, Laksda/Laksamana Madya TNI Purn Freds Salem – Wakil KSAL 2000
Lumintang, Letjen TNI Purn Johny J. (SH) – Pangkostrad, Dansesko ABRI, Wakasad Gubernur Lemhamnas, Sekjen Departemen Pertahanan RI 2001
Lumy, Brigjen Pol. Purn Karel Edward – Dan BRIMOB PPolri


M
Makadada, Mayjen Kav. TNI Purn Bernhard Paul – Dubes RI di Myanmar & Nepal
Malonda, Brigjen TNI Purn Ernst L.M.
Mamahit, Brigjen TNI Purn Piet
Mambu, Mayjen TNI Purn Drs. Adolf Henry – pengurus SMA Taruna Nusantara Magelang
Mambu, Laksma Mar. Purn Hendrik – Kabag Personalia - Mabes TNI-AL.
Mamuaya, Mayjen Pol. Drs. Benyamin L.S. – Kapolda Nusatenggara-Bali
Mandagi, Brigjen Pol. Purn Jeanne (SH) – wanita Indonesia pertama jadi jenderal
Manengkey, Laksma TNI Johny F.A. – Dan Guskamla Armatim.
Mangindaan, Letjen TNI Purn Evert Ernst (“Lape”) (SH, SE) – Direktur SESKOAD, Gubernur Sulut 1994-1999, Sekjen partai Demokrat
Mangindaan, Laksma TNI Purn Robert –Penasehat Militer Indonesia untuk PBB
Mantik, Letjen TNI Purn Gustaf Hendrik (Guus) – Gubernur Sulut, orang Minahasa pertama yang jadi Letjen
Mantiri, Letjen TNI Purn Herman Bernhard Leopold – Kasum ABRI, Dubes Singapura, KINGMI
Mantiri, Laksma/Laksda Purn Frits A.C. – Dan Lantamal III Surabaya, ACJ/Abe Mantiri pe anak
Maramis, Brigjen Pol Purn DR. Johan Bodewijn Paul – Ka Polantas Jakarta 1959
Masengi, Mayjen Inf. TNI Purn Christian P. – pjb. Bakorstanas
Mengko, Mayjen TNI Purn Abraham (Bram) – Atase Pertahanan RI di Manila
Mengko, Laksda TNI Purn Joost Fredrik – Aspam KSAL
Mogot, Irjen Pol. Drs. Alexius Gordon (MSi) – Kapolda Sulut, sepupu Daan Mogot
Mokoagow, Mayjen TNI Purn Oe. E. (?)
Momongan, Brigjen CZI TNI Purn Ben L.
Montolalu, Brigjen Pol. Harry – Wakapolda Sulut
Montolalu, Mayjen Pol. J.F.R. – Kadapol (Kapolda) II Sumut, Kadapol Jateng/DIY


N
Ngantung, Mayjen TNI Purn Piet – Ketua Umum KKK


O
Opit, Laksma TNI Purn Harry Bastian (S.Ip) – Danlanal Bitung 1996


P
Paat, Brigjen TNI Purn Drs. Johanes
Paat, Brigjen TNI Purn Soetopo
Paruntu, Mayjen TNI Purn Albert Thomas (S.Ip.)
Pitoy, Brigjen TNI. Purn. Ruddy L. – AMN 1968, Dandim Sidoharjo
Polla, Brigjen TNI Bob – Ketua Umum PB POR Maesa 1990-93, orang Poigar
Pongoh, Laksma Dicky M – orang Talete, Dan KRI A. Yani 1998
Pontohkukus, Marsma (Marsekal Pertama) TNI-AU Purn F.


R
Rantung, Mayjen CZI TNI Purn Cornelis John – Gubernur Sulut, Pangdam Trikora
Rarumangkay, Laksamana Pertama Purn (Freddy?)
Rawung, Laksamana Pertama Purn Ruddy (SE, MM) – Cabup Minsel 2005
Rumbayan, Brigjen Tonny Arie (MSc.)
Rumopa, Brigjen TNI Johny


S
Sakul, Brigjen TNI Jopie Winston
Salu, Laksda Jan Hendrik – Anggota DPR-RI Fraksi Karya ABRI
Sanggor, Brigjen Kav. TNI Purn Henry Johanes – Anggota DPR Fraksi Karya ABRI
Sondakh, Laksamana Bernard Kent – KSAL TNI 2002-2005
Suak, Laksamana Pertama Purn Frits – Dan KRI Dewa Ruci, Gub. Akmil ALRI
Sumampouw, Brigjen Purn Albert
Sumampouw, Mayjen Pol Purn Wim
Sumanti, Laksamana Muda Purn Frits
Sumual, Brigjen Revolusioner Herman Nicolas Ventje – Kastaf ADREV PRRI, Panglima TT-VII/Wirabuana


T
Tanos, Brigjen TNI Purn Rolly
Tanos, Mayjen TNI Purn Dr. Fransiscus Xaverius (Ph.D.) – saudara Rolly Tanos
Tinggogoy, Mayjen TNI Purn Ferry – anggota MPR-RI, Pengurus partai PKB Sulut
Tirajoh, Brigjen TNI Purn A.V.J. – Ketua Inkopad
Tompodung, Brigjen CZI TNI I.E.B.
Tumengkol, Laksda TNI Purn Broeke Eddy
Tuwaidan, Brigjen Jorry (S.Ip.) – POR Maesa, Pengurus Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) Jakarta


U
Umboh, Mayjen TNI Purn Thomas Albert (Utu’) - Dan Rindam V Brawijaya 1992-1993, Dan Pusat Teritorium TNI-AD 1979-1983


W
Warouw, Brigjen TNI Purn Rudolf Samuel – Sekjen KONI, Pangkolaops Timtim
Warouw, Brigjen Pol Drs. Wenny – Ka. BIN & Kominda Suluttenggo
Welong, Laksma TNI Kenny – Danlantamal VI Bitung
Wenas, Brigjen Pol Purn Jos Buce – Kapolda Irja, Bupati Jayawijaya, Wagub Sulut
Wenas, Brigjen Pol. Purn Drs. Frederik (SH) – Ka Oditur Polri, ayah SY Wenas
Wenas, Irjen Pol. Drs. Sylvanus Y. – Kapolda Papua, Dan. Korps Brimob Polri
Wetik, Brigjen TNI Agustinus Reinhard – Atase Militer RI di Myanmar 1993
Worang, Mayjen TNI Purn Hein Victor (Kembi) – Bn.Worang, Gubernur Sulut
Wotulo, (Brigjen Marinir) Laksma Marinir TNI Purn Erick – pejabat Otorita Batam
Wuwung, Lasda TNI Purn Frans – Kadis Pamal TNI AL, anggota DPR/MPR 2001


X


Y


Z


Subianto, Letjen TNI Purn Prabowo – Danjen Kopassus
Sudomo, Laksamana Purn (Rawis) – Menteri, KSAL
Try Soetrisno (Supit), Jenderal TNI Purn – Wakil Presiden RI, Panglima ABRI

Sumber:

http://bode-talumewo.blogspot.com

Naskah di bawah ini adalah tulisan rintisan untuk maksud penulisan buku dengan judul yang sama.
Anda diperkenankan mengutip/menyalin tulisan ini dengan memperhatikan hak cipta, demi hormat dan kemuliaan Bangsa Minahasa.
Pahlawan Bangsa Minahasa: Menumpas Perang Jawa (1825-1830) - Menangkap Pangeran Dipa Negara (Diponegoro) tanggal 28 Maret 1830.

Baris atas: Majoor Tololiu H.W. Dotulong (Sonder), Kapitein Benjamin Th. Sigar/Tawalijn (Langowan), Kapitein Hendrik Werias Supit (Tondano)
Baris 2: Kubur T.H.W. Dotulong di Tounelet-Sonder, kubur B.Th. Sigar di Langowan, kubur H.W. Supit di Tondano-Toulimambot
Baris 3: Groot-Majoor Bintang T.H.W. Dotulong sebelum meninggal, T.H.W. Dotulong masih muda, kubur Luitenan Thomas Poluakan di Talikuran-Kawangkoan
Baris akhir: Sekelompok pejuang muslim yang dipecundangi orang Minahasa (dengan menangkap/mengalahkan kesaktian mereka oleh para PAHLAWAN NASIONAL BANGSA MINAHASA), namun akhirnya merekalah yang mempecundangi orang Minahasa (dengan menjadikan PAHLAWAN NASIONAL BANGSA INDONESIA); Pangeran Diponegoro/Dipa Negara, Kiay Modjo, Tuanku Imam Bonjol.

Majoor Bintang Tololiu Hermanus Wilhelm Dotulong
L: Kema, 12 Januari 1795
M: Sonder, 18 November 1888

Majoor Benjamin Thomas Sigar (Tawalijn Sigar)
L: Langoan, 1790
M: Langowan, 1879

Majoor Hendrik Werias Supit
L: Tondano-Toulimambot, 1802
M: Tondano-Toulimambot, 1865

Klewang Majoor Bintang Tololiu H.W. Dotulong

Bode Talumewo memegang klewang milik Mayoor Bintang Tololiu H.W. Dotulong di Sonder,

pada 1 Oktober 2008 lalu.

Bode Talumewo di kubur Mayoor T.H.W. Dotulong di Sonder, 2 Oktober 2008.

Sumber:

http://bode-talumewo.blogspot.com

Sejarah Langowan

LANGOWAN, RIWAYATMU DULU
editor: Bodewyn Talumewo

MASUKNYA PENDUDUK PERTAMA DI LANGOWAN


Seperti biasanya terbentuknya suatu perkampungan penduduk (tumani) berawal dari pemukiman di suatu tempat yang awalnya hanya sebagai tempat untuk berkebun/bertani. Dan biasanya tempat perkebunan itu dinilai memiliki tanah yang subur untuk bisa bercocok tanam. Dan bagi mereka yang memiliki keterampilan sebagai nelayan, akan mencari tempat peristirahatan yang baik di kala mencari ikan. Dan syarat lainnya, yaitu tempat tersebut tidak jauh dari sumber air (mata air atau kolam). Karena biasanya manusia senantiasa membutuhkan air untuk minum, memasak atau mencuci.


Dari penelitian sejarah desa serta cerita turun temurun yang dapat dipercaya, dan juga bukti­-bukti sejarah lainnya (seperti pekuburan tua) maka masuknya penduduk pertama di wilayah Langowan adalah bermula dari tempat yang bernama Palamba, Temboan, dan Rumbia. Ketiga tempat ini semuanya sudah menjadi desa yang definitif.


Sebelumnya terbentuknya tempat-tempat pemukiman tersebut, dalam sejarah Minahasa kita mengetahui ada pertemuan orang-orang Minahasa yang dilakukan di Pinawetengan. Kejadian itu terjadi sekitar tahun 1428, dimana tahun ini dijadikan tahun Hari Jadi Minahasa. Setelah peristiwa pembagian (Pinawetengan) ini, maka sesuai dengan kesepakatan bersama, banyak orang Minahasa mulai kembali ke tempatnya masing­masing dan ada pula yang mencari tempat baru, sebagai tempat Demikian halnya dengan orang­-orang yang berkeinginan untuk hidup di wilayah Langowan, seperti yang dikemukakan tadi. Mereka mulai mendiami Palamba, Temboan dan Rumbia.


1. PALAMBA
Kira-kira abad ke XVI, pengikut-pengikut dari Toar Lumimuut mengadakan perjalanan mengelilingi tanah Minahasa. Mereka kemudian beristirahat di Palamba yang waktu itu masih hutan rimba, dimana tempat ini menurut anggapan mereka cukup baik dan menyenangkan. Untuk tempat beristirahat mereka mendirikan gubuk dari batang pohon kayu dan daun-daunan yang menurut bahasa Tountemboan "palapa". Konon dari kata inilah pemukiman tersebut dinamakan Palapa yang kemudian berubah menjadi Palamba sampai sekarang ini.


Lama kelamaan untuk memenuhi bekal makanan, mereka mulai membuka perkebunan/huma di tempat itu. Terutama mereka menanam pisang, umbi-umbian dan sayuran. Sehingga lama-­kelamaan perkebunan itu makin luas dan orang-orang yang bermukim di stiu makin bertambah.
Dengan semakin bertambah penduduknya, maka sebagaimana tradisi orang Minahasa dalam suatu perhimpunan penduduk yang sudah cukup banyak, diperlukan seorang pemimpin. Dan oleh karena itu pada sekitar tahun 1600 sampai pada tahun-tahun berikutnya pemukiman tersebut telah dipimpin oleh para Tonaas dan Walak yang sayang sekali nama-namanya tidak diketahui lagi. Sehingga dapat dipastikan bahwa desa Palamba merupakan desa tertua di Langowan. Ini juga dapat dibuktikan dengan adanya waruga (kuburan tua/prasasti) Toar Lumimuut yang ada di sana, dan merupakan tempat pertama orang-orang yang masuk dan menetap di Langowan.

 


2.TEMBOAN
Berdasarkan sejarah desa Temboan, penduduk yang pertama masuk ke Temboan adalah bangsa Portugis, yaitu pada abad XVII atau sekitar tahun 1690. Konon menurut cerita, dengan tidak sengaja mereka mengambil kayu hitam yang ada di sekitar sungai Ranowangko kemudian dimuat di kapal laut. Oleh karena muatannya sudah penuh, maka kapalnya kandas dan memerlukan beberapa hari untuk keluar dari lokasi.


Pada saat itulah ada seorang di antara mereka yang bernama Luly mencari bantuan, terutama bahan makanan yang makin menipis dan berjalanlah ia menuju utara, dengan tidak melewati Palamba atau Atep. Karena waktu itu ia belum mengetahui kalau ada pemukiman di dekat lokasi tersebut. Dan sampailah ia di negeri Tompaso, dan dari sana ia mengajak orang bernama Kelung, sekaligus untuk membantu mengeluarkan kapal mereka yang kandas. Tetapi setibanya di sungai Ranowangko, kapal tersebut sudah tidak ada, atau sudah berangkat. Maka merekapun mencari tempat perteduhan/peristirahatan di sekitar lokasi tersebut. Mereka menamakan tempat itu Talawatu karena tempat itu hanya tumbuh pohon kayu hitam yang besar dan keras. Kemudian mulailah mereka membuat gubuk dari pohon kayu dan daun-daunan. dan membuka lahan perkebunan untuk ditanami t:unaman pangan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.


Setelah mereka merasakan lokasi pemukiman cukup baik, maka mereka mengajak saudara dan kenalan mereka untuk bermukim di tempat ini, sehingga lama kelamaan orang-orang makin bertambah, sehingga pada tahun 1829 jadilah sebuah perkampungan Talawatu yang dipimpin oleh seorang Kepala kampung bernama Tonaas Tumataw (lihat catatan harian RC. Massie tahun 1965, tahun 1922­1946 mantan Kepala Desa Amongena). Namun saat itu perkampungan ini dilanda penyakit kolera dan malaria, sehingga pada tahun 1896 penduduk di tempat ini berpindah ke lokasi baru di dataran tinggi, yaitu di lokasi yang ada sekarang (desa Temboan). Temboan berarti berada di ketinggian, atau dalam bahasa Tountemboan matembo yang berarti dari ketinggian.

 


3. RUMBIA
Pada mulanya sekitar tahun 1825 nelayan-nelayan dari Mongondow, Ternate, Buton, Bugis, Gorontalo dan Sangir mencari ikan Taut di Laut Maluku, sehingga di antara mereka ada yang singgah di pantai Rumbia.


Mulanya nelayan-nelayan ini karena kelelahan mereka beristirahat di tempat ini dan membuat daseng atau gubuk sebagai tempat berteduh. Oleh karena tempat ini terdapat banyak pohon rumbia yang tumbuh di rawa-rawa, maka mereka mengambilnya untuk dijadikan atap daseng/gubuk. Oleh karena pohon rumbia ini banyak manfaatnya,seperti daun dan tangkainya dapat digunakan untuk atap dan isi batangnya bisa dibuat sagu, maka akhirnya tempat peristirahatan itu dinamakan Rumbia.


Lama-kelamaan orang-orang yang dulunya beristirahat di situ, mulai tinggal menetap, dan jumlahnya makin bertambah. Mereka yang juga dulunya tinggal di Palamba dan Atep, sebagiannya mulai menetap di Rumbia, dan akhirnya menjadi perkampungan. Pada tahun 1854 perkampungan ini telah dipimpin oleh seorang Kepala Kampung bernama Albert Mawuntu yang berasal dari negeri Atep, dan ia merupakan Kepala Kampung yang pertama.


PERKAMPUNGAN/NEGERI MULA-MULA
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa masuknya penduduk pertama di Langowan adalah di perkampungan Palamba pada abad XVI atahu tahun 1500­an. Kemudian orang-orang dari Palamba tersebut pada waktu mereka pulang-pergi, diantaranya menghadiri musyawarah di Watu Pinawetengan, mereka singgah dan melihat lokasi Mawale (sekarang sebagian wilayah desa Tounelet) baik untuk perkebunan. Maka pada akhir abad XVII atau tahun 1600-an mereka datang bermukim di sana dan membuka perkebunan baru di tempat itu.


Selain penduduk dari Palamba, konon orang-orang yang setelah mengikuti perang Minahasa-­Mongondow pada tahun 1683 sebagian tidak kembali ke negeri asalnya, tetapi kemudian datang menetap di Mawale. Oleh sebab itu setelah pemukiman Mawale ini penduduknya makin bertambah, maka mulailah mereka mencari lokasi perkebunan yang baru dan pada tahun 1806 mereka mulai membuka pemukiman baru di Walantakan dan Waleure. Negeri Walantakan pada tahun 1806 dipimpin oleh Kepala Kampung Makaware/Wakarewa. sedangkan kampung/negeri Waleure dipimpin oleh Waraney.


Berdasarkan penelitian sejarah, maka didapati bahwa dari pemukiman Mawale inilah yang dominan terdapat penyebaran penduduk, sehingga muncul pemukiman-pemukiman baru lainnya di Langowan. Dari 29 desa di Langowan sekarang ini, sebagian besar (sekitar 24) desa awalnya dari pemukiman Mawale. Sementara empat desa lainnya, yaitu Atep, Palamba, Rumbia dan Temboan sudah lebih dulu berdiri. Mengenai asal-usul Palamba, Rumbia dan Temboan sudah dijelaskan sebelumnya. Sedangkan Atep terbentuk dari kedatangan orang Palamba yang mulai menetap di sana sejak tahun 1780, yang awalnya juga membuka perkebunan.


Dari gambaran di atas dapatlah disimpulkan bahwa perkampungan negeri mula-mula di Langowan adalah sebagai berikut:

  1. Palamba, pemukiman sekitar abad XVI atau tahun 1500­-an, dan kemudian menjadi kampung/negeri sekitar abad XVII atau tahun 1600-an,mulai dipimpin oleh seorang Tonaas yang belum diketahui jati dirinya.
  2. Temboan, pemukiman tahun 1690. kepala kampung/negeri yang pertama Tonaas Tumataw.
  3. Atep, pemukiman sekitar-tahun 1768 memilih suatu lokasi di dataran rendah dan menjadi kampung/negeri tahun 1780 dengan kepala kampung/Tonaas Reppi.
  4. Walantakan, pemukiman tahun 1806, kepala kampung/negeri Makarewa. Dibuktikan dengan adanya waruga (kuburan tua) yang ada di Walantakan.
  5. Waleure, pemukiman tahun 1806, kepala kampung/Walak Waraney.

 

ASAL-USUL NAMA LANGOWAN


Pada umumnya seseorang atau kelompok dalam memberikan nama kepada suatu obyek, apakah itu manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, tempat atau obyek lainnya, biasanya selalu mempunyai arti atau kenangan/kesan tertentu. Pemberian nama tersebut dapat saja berupa kenangan atau kesan masa lalu, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan (kepahitan/penderitaan). Atau juga berkaitan dengan harapan masa yang akan datang, maupun berkaitan dengan komunikasi biogenetics. Pemberian nama ini didasarkan pada aetiologis dan saga. Aetiologis (dalam bahasa Yunani artinya keterangan atau sebab), yang ceritanya tidak hanya menerangkan asal-usul, tetapi juga menerangkan hal lain, sedangkan saga adalah cerita turun temurun yang berisi tentang perjalanan individu/kelompok, dan juga norma-norma yang berlaku terhadap individu/kelompok bersangkutan.


Secara etimologis (sejarah asal-usul kata), Langowan berasal dari kata rangow (bahasa Tountemboan) yang berarti lobang. Rangowan (berlobang) dalam hal ini bukan pada gunung, tanah, atau bench lainnya, tapi maksudnya berlobang pada bagian pokok kayu. Konon kayu yang berlobang itu, terletak di tengah pusat kota seperti sekarang ini, yaitu tepat di Gereja GMIM Sentrum (Jemaat Schwarz) sekarang.


Di Langowan pada masa itu memang banyak ditumbuhi pepohonan dan tanaman lainya. Di antaranya pohon we'tes (pohon beringin). Di batang pohon inilah terdapat lobang tersebut. Dan di pohon ini pulalah menjadi pusat penyembahan orang-orang Langowan kepada dewa-dewa (opo-opo), termasuk juga kepada Amang Kasuruan atau si Apo Wanandangka. Dan karena pohon ini dianggap keramat, maka ditempat ini pula dibuat tempat pasoringan.

Pasoringan berasal dari kata soringan yaitu alat bunyi yang dibuat dari sebilah bambu (wulut), semacam pipa yang diberi 7 lobang. Apabila dihembuskan angin atau ditiup akan mengeluarkan bunyi. Bunyi tersebut analog dengan bunyi burung Wala'. Jadi Pasoringan berarti tempat memanggil/mendengarkan bunyi burung Wala' oleh para Walian dan Tonaas. Walian adalah para pemimpin agama (Alifur/ agama suku Minahasa). Sedang para Tonaas adalah pemimpin pemerintahan, pertanian, keamanan dan lainnya. Di tempat pasoringan inilah para pemimpin tersebut di atas bertanya dan mendengarkan jawaban, ya atau tidak tentang sesuatu maksud yang ditanyakan. Atau untuk mengetahui apakah yang akan terjadi di hari-hari selanjutnya. Bunyi burung Wala' ini diartikan/diterjemahkan secara bersama-sama oleh Walian dan para Tonaas.
Pada pohon we'tes yang berlobang ini, selain tempat mendengarkan bunyi burung, juga sebagai tempat pareghesan (tempat membawa persembahan/ sesaji). Dengan pengertian, bahwa di tempat inilah mejadi pusat kegiatan keagamaan dan pemerintahan.


Caranya ialah para Walian bersama umat datang berkumpul untuk memuja para opo dan si Amang Kasuruan, dengan membawa sesajian/persembahan (raghesan). Sedangkan para Tonaas menggunakannya sebagai tempat pertemuan rakyat untuk mendengarkan perintah atau aturan yang harus dilaksanakan. Dan biasanya perintah itu dilakukan melalui palakat/pengumuman: ma umung asi we'tes rangow.


Orang yang bermaksud berkumpul untuk membawa persembahan dan memuja serta mendengarkan perintah, awalnya dari mereka bermukim di Mawale (kini bagian kiri dari Desa Tounelet), yang terletak di bagian selatan pohon tersebut. Jaraknya dari pohon we'tes rangowan itu kira-kira 600 depa.


Ketika para pendatang dari Eropa mulai menginjakkan kakinya di Langowan, merekapun mulai mendengar ucapan kata rangow tersebut. Dan oleh karena orang Eropa kurang mampu menyebut huruf "r" dengan jelas, maka sebutan rangow menjadi langow, dan juga rangowan, menjadi langowan. Lama kelamaan akhirnya tempat itu beserta penduduknya disebut dengan Langowan, sampai pada saat ini.


Namun sumber lain juga mengungkapkan bahwa kata langow berasal dari kata lagow yang artinya anoa. Karena konon di Langowan dulunya banyak binatang khas Sulawesi tersebut.


Pertengahan abad XVIII penduduk makin bertambah, maka terjadilah migrasi dari pemukiman Mawale ke utara dan ke timur, serta ke tempat lainnya. Maka mereka yang ke utara membentuk pemukiman baru, sehingga muncullah kampung Waleure, yang ke kampung Amongena dan Wolaang. Dan yang dari Waleure ada yang ke barat daya, menjadi kampung Koyawas. Zaman dimana penduduk pertama hidup di Langowan selanjutnya berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda.


Kedatangan J.G. Schwarz di Langowan membawa perubahan yang besar, khususnya berkaitan dengan hidup keagamaan orang Langowan, dan orang Minahasa umumnya. Di Langowan khusunya, pusat penyembahan agama Alifuru (raghesan dan tempat bertanya pada burung), diubahnya menjadi pusat pelayanan Kristiani (Nasrani). Di tempat itulah Schwarz mendirikan gereja sebagai tempat peribadatan kepada Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus. Tempat peribadatan itu masih berdiri sampai sekarang, yaitu Gereja Sentrum (Jemaat Schwarz) langowan).

 


SEJARAH PEMERINTAHAN DI LANGOWAN


Sebagaimana telah dituturkan sebelumnya, di Langowan awalnya penduduk bermukim di Palamba, Rumbia, Temboan dan Mawale. Khusus yang mendiami Mawale, kemudian sebagiannya membuka perkebunan baru dengan berpindah tempat, sehingga membentuk pemukiman baru, seperti Waleure, Walantakan, Amongena, Wolaang dan lainnya.


ebelum tahun 1828 sudah ada sekitar 5 tempat pemukiman, yaitu Mawale, Waleure, Walantakan, Palamba dan Talawatu (kemudian menjadi Temboan). Pemukiman­pemukiman itu masing-masing dikepalai oleh seorang Tonaas. Dan kepala-kepala dari para tonaas ini adalah seorang Walak (kepala suku). Para Walak yang disebut-sebut pernah memimpin adalah: Rambijan, Robot, Tumbaijlan dan Tawaijlan.


Tahun 1829 Fiskal Irot diangkat menjadi Major dalam jabatan Kepala Distrik oleh Residen Manado Peternat. la memerintah sebagai Hukum Besar mulai 1829 hingga 1841. Pada saat itu perkampungan baru terus bermunculan, yaitu Amongena, Wolaang, Koyawas, Tounelet dan Atep. Sehingga tercatat ada sembilan kampung. Dan setiap desa dipilih dan diangkat Hukum Tua.
Tahun 1841-1847 A. Tendap Saerang menjadi Hukum Besar, dan Bastian Thomas Sigar diangkat menjadi Hukum Kedua oleh Residen Cambier dan Opzier Tondano Benseijder.


Pada Pebruari 1848 Bastian Thomas Sigar diangkat menjadi Major/Hukum Besar oleh Resident Van Nolpen, sedangkan P. Kumolontang menjadi Hukum Kedua. Tahun 1852 N. Pandeirot juru tulis Wolaang diangkat menjadi juru tulis Distrik oleh Resident Scherjas.


Tahun 1853 P. Kumolontang meninggal, dan digantikan oleh Laurenst A. Sigar. Tahun 1854 bertambah satu kampung, yaitu Rumbia. Jadi sudah ada 10 kampung. Tahun 1861 Conteleur Riedel di Tondano mengangkat N. Pandeirot menjadi Hukum Tua Walantakan, Paulus Saerang Hukum Tua Waleure dan Benyamin Sigar Hukum Tua Amongena.


Januari 1870 L.A Sigar diangkat menjadi Majoor/Hukum Besar oleh Resident Deance, dan Desember 1870 N. Pendeirot diangkat menjadi Hukum Kedua. Bersamaan dengan itu pemukiman di Tumaratas menjadi kampung.
Sejak 1870-1884 ketika L.A Sigar sebagai Hukum Besar, rakyat diperintah menanam kopi. L.A Sigar meninggal 2 Mei 1910 (kuburnya ada di Tompaso).
Pebruari 1884 N. Pandeirot diangkat menjadi Majoor/Hukum Besar oleh Residen Jansen, sedangkan Hukum Kedua tidak lagi diangkat. Pandeirot bertugas hingga 1891. Di waktu pemerintahan N. Pandeirot bertambah satu kampung, yaitu Lowian (1887). Jadi sudah ada 12 kampung/desa.


Selanjutnya N. Pandeirot digantikan oleh Major Nicolaas E. Mogot yang sebelumnya Hukum Kedua Remboken dan Kakas. Sedangkan Hukum Kedua diangkat R. Maringka/W. Warokka oleh Residen/Conteleur Adam. Pada masa N. Mogot memerintah, bertambah beberapa kampung, yaitu Sumarayar (1888), Karondoran (1898), Walewangko (1898), Manembo (1899), Teep dan Paslaten (1900). Sehingga menjadi 19 kampung/desa.


Tahun 1904-1911 Hukum Besar Ever Gradus Mogot dan Hukum Kedua Palengkahu. Bertambah satu desa, Noongan. Sehingga menjadi 19 desa.
1912-1919 Hukum Besar A.W. Ingkiriwang dan Hukum Kedua Sahelangi/J. Loho Sesudah 1919 maka negeri Langowan menjadi onder-distrik. Tahun 1920 bertambah desa Tempang, sehingga Langowan menjadi 20 desa. Mulai 1922 Hukum Tua tidak lagi ditunjuk tapi dipilih.
1923-1926 Wakary menjadi Hukum Kedua.
1926-1930 Masa P. Pandeiroth kedua, bertambah desa Winebetan.
1930-1935 W. Momuat Hukum Kedua.
1935-1937 B.C. Lasut Hukum Kedua.
1937-1940 G.P.A. Wenas Hukum Kedua.
Pada waktu pendudukan Jepang (Perang Dunia II), No' Mogot diangkat menjadi gunco (Hukum Besar). Bertambah desa Karumenga (1942).
1941-1943 No'Mogot Hukum Besar.
1943-1946 B.Lapian Hukum Besar.
1946-1949 A.R. Warouw Hukum Kedua. Bertambah desa Raringis (1946), desa Taraitak dan Ampreng (1947).
1949-1951 Lumanauw Hukum Kedua. Bertambah desa Kaayuran Atas (1950).
1951-1953 A. Wenas Hukum Kedua.
1953-1954 A. Tambajong Hukum Kedua. Bertambah desa Toraget (1954)
1955 M.H.W. Dotulong Hukum Kedua
1956 A. Kumolontang Hukum Kedua
1957 P.V. Kembuan Hukum Kedua
1957-1958 H.D.N Massie Hukum Kedua.
1958-1959 J.A. MonintjaHukum Kedua
1960-1962 R.C. Assa Hukum Kedua
1962-1966 A.J. Malonda Hukum Kedua
1966-1967 W. Tamengkel, BA Hukum Kedua
1967-1970 N.J. Rumengan Hukum Kedua
1970-1977 H.D.N. Massie Hukum Kedua/Camat
1977-1983 J.F. Lalujan Camat. Desa Amongena dimekarkan menjadi dua (Amongena I dan Amongena II) sesuai SK Gubernur No. 28 tanggal 28 Desember (Amongena II jadi definiti fl. Jumlah desa menjadi 28.
1983-1987 F. Mangundap, BA. Camat
1987-1990 Drs. F.H. Tampi, Camat
1990-1993 Drs. P. Besouw, Camat.
1993-1996 Drs. S.E. Tambajong, Camat
1996-1999 Drs. S.W.Z. Poluan, Camat
1999-2001 Drs. Johan Watti, Camat
2001-2002 Drs P.D. Sumampouw, Camat. Kecamatan Langowan dimekarkan menjadi dua kecamatan pada 5 November 2001 (kecamatan Langowan Timur dan Kecamatan Langowan Barat). Desa Kopiwangker bertambah (2002).
Dengan pemekaran tersebut Langowan Timur memiliki 15 desa, dan Kecamatan Langowan Barat 14 desa.


Ke-15 desa di Langowan Timur adalah Amongena I, Amongena II, Wolaang, Waleure, Tempang, Toraget, Karumenga. Sumarayar, Karondoran, Teep, Atep, Manembo, Palamba, Rumbia dan Temboan. Sedang 14 desa di Kecamatan Langowan Barat adalah Nonongan, raringis, Ampreng Tumaratas, Taraitak, Walantakan, Paslaten, Koyawas, Lowian, Walewangko, Tounelet, Winebetan, Kayuran Atas dan Kopiwangker.


2001-sekarang Drs. P.D. Sumampouw, Camat Langowan Timur
2001-... Drs. Alex Slat, Camat Langowan Barat


LANGOWAN DALAM SEJARAH


Nama Langowan sudah sangat dikenal, baik di Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia, bahkan sampai di luar negeri. Terkenalnya Langowan berkaitan dengan sejarah, baik berkaitan dengan demografi, geografi, agama (penginjilan) maupun hal-hal lain yang terkait dengan budaya, ekonomi, politik dan lain sebagainya.


Terkenalnya Langowan, bahkan sampai di luar negeri, berhubungan dengan hadirnya orang-orang Langowan di berbagai tempat, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa waktu lalu harian Manado Post memberitakan bahwa orang Minahasa yang berada di Amerika Serikat terbanyak adalah orang-orang yang berasal dari Langowan. Di berbagai tempat di Indonesia dan juga di luar negeri pun orang-orang Langowan selalu membentuk perkumpulan negeri dengan nama Rukun Langowan.


Nama Langowan sebagaimana banyak ditulis berasal dari kata "rangouw". Kata rangouw ini untuk menunjuk kayu besar berlubang yang dulunya terletak di tengah kota Langowan, yaitu di Gereja Sentrum (Jemaat Schwarz) sekarang. Kayu berlubang itu dalam bahasa Tountemboan disebut dengan rangouw. Dalam penuturan sejarah, oleh karena orang Belanda dan juga orang Eropa lainnya tidak bisa menyebut huruf "r" dengan jelas, maka sebutan rangouw yang terdengar adalah "langouban". Dan dari kata "langouan" itulah akhirnya menjadi kata Langowan.
Sebelum muncul kata Langowan, ada pula tulisan yang menyebut dengan sebutan Langouban. Hal ini dapat dilihat dari sejarah ketika terjadi perjanjian antara VOC dan bangsa Malesung dalam naskah 10 Januari 1679/10 September 1699.


Diedit dari majalah Duta Minahasa terbitan Okt/Nov 2003.

Artikel Terakhir

Komentar Terakhir

Website Tentang Sulawesi Utara

  • Bunaken
  • North Sulawesi
  • Tou Minahasa
  • World Ocean Conference