Minahasa dan Dayak

KEBUDAYAAN MINAHASA DAN DAYAK KALIMANTAN
From desk Yessy Wenas 1

Untuk dapat melihat persamaan dan kedekatan seni dan budaya Minahasa dengan Dayak Kalimantan, maka kita harus mengambil data seni budaya Minahasa sekitar dua abad yang lalu. Ketika tahun 1850-an seni budaya dan organisasi adat mulai perlahan-lahan berubah menjadi seperti yang sekarang ini. Sedangkan seni budaya dan organisasi adat Suku Dayak Kalimantan sejak jaman tempo dulu tidak banyak berubah.

Tulisan-tulisan data persamaan seni budaya Minahasa dengan Dayak Kalimantan dapat kita temukan di buku terbitan jaman Hindia Belanda “Adat Recht Bundels” Serie M (Minahasa) 1919.

1. Bentuk rumah panjang dengan tangga dari SATU batang kayu, di huni banyak keluarga, di Minahasa di sebut Wale Wangko.

2. Keprajuritan Tradisional dan kelengkapannya topi dengan hiasan bulu dan paruh burung Enggang di Minahasa di sebut burung UAK. Baju perang dari kulit binatang, suku dayak menggunakan kulit harimau akar, minahasa memakai kulit sapi hutan anoa disebut Wa’teng. Kesamaan bentuk pedang yang melebar pada bagian ujungnya, Minahasa disebut SANTI. Kesamaan bentuk gerakan tari senjata tajam di Minahasa di sebut CAKALELE penarinya disebut Kawasaran, kesamaan bentuk perisai kayu di Minahasa disebut Kelung.

3. Kesamaan beberapa bentuk motif hias kain tenun, Minahasa menamakan motif TOLAI (ekor ikan) yang melingkar seperti ujung tanaman merambat atau taring babi rusa.

4. Upacara adat tertentu yang memerlukan kepala orang yang masih segar, serta upacara darah manusia yang di minahasa tempo dulu disebuit Mangelep, terakhir dilakukan di Tonsea lama tahun 1876.

5. Tarian adat yang berbentuk lingkaran dengan langkah lambat oleh penari pria dan wanita, di Minahasa di sebut Maengket Katuanan (Toutemboansche Teksten. J.AL T. Schwarz – 1907) --Penulis DR. Hetty Palm dalam bukunya ”Ancient Art of Minahasa” 1957 menganalisasecara ilmiah kesamaan adat dan kebudayaan Minahasa dengan Suku Dayak Kalimantan melalui cabang ilmu Ethnologi dan Ethnographi modern sekarang ini. Beberapa persamaan itu dapat ditemukan lagi;

6. Kesamaan bentuk alat musik tradisional Xylophone Kayu, di Minahasa bernama Tengtengan (Penthatonis) yang sekarang berubah jadi alat musik nada diatonis Kolintang Kayu.

7. Persamaan lagenda Buaya, di Minahasa disebut Dewa Koington (Ayah Rumambi).

8. Persamaan nama lokasi asal leluhur, Suku Dayak Kalimantan menyebutnya pegunungan Meratus,- Minahasa menyebutkan pegunungan Mahatus (Wulur Mahatus).

9. Suku Minahasa dan Suku Dayak Kalimantan termasuk Suku Melayu Tua Proto Melayu dengan ciri fisik,mata agak sipit, kulit kuning, rambut lurus, termasuk rumpun bahasa Austronesia menurut ahli anthrologi Australia Peter Bellwood.

Masyarakat adat Minahasa kehilangan pijakan ketika sekitar tahun 1900 an, dewan tua-tua adat yang dinamakan Potuosan diganti nama menjadi Komisi Adat. Di bawah aparat Residen Manado yang orang Belanda.

Kepala Walak menurut Adat dibawah koordinasi Dewan Tua-Tua Adat Potuosan. Kapala Walak punya tiga fungsi sebagai:
1. Ahkai Imbanua, Kepala Pemerintahan
2. Tona’as Wangko, Kepala Adat Kebiasaan
3. Tona’as Saka, Panglima Perang dalam situasi berperang

Setelah dewan adat Potu’osan dibubarkan Belanda maka struktur pemerintahan adat terguncang sampai pada akar-akarnya.
Kehilangan badan tertinggi pengawasan terlaksananya Hukum adat di masyarakat yang terdiri dari beberapa Subethnik dan anak suku, subethnik mayoritas dan sub ethnik minoritas.

Kehilangan badan tertinggi yang dapat menjelaskan, menganalisa, menguraikan apa maknanya dan artinya hukum adat yang merupakan warisan leluhur, bagaimana pelaksanaan hukum adat dalam dunia modern sekarang ini dalam bentuk transformasi hukum adat, bagaimana mempertahankan masyarakat hukum adat Minahasa agar tetap berkelanjutan keberadaannya.

Berbicara masalah Masyarakat Hukum Adat adalah sangat tepat orang Minahasa melakukan studi perbandingan melihat masyarakat hukum adat Dayak Kalimantan, yang pada jaman lampau punya banyak kesamaan.

Manado 10 Agustus 2007
Jessy Wenas.

1 comments

  1. Anonymous  

    July 13, 2012 at 1:03 PM

    Pantes aja..sempat berpikir, kok minahasa ngak punya budaya tradisionalnya, kok poco-poco yang keluar...eropa banget.
    Ada beberapa jenis masakan yang memiliki kesamaan. contoh. rica-rica, hampir semua suku dayak mengenal masakan ini dengan bumbu yang sama tapi dengan nama yang berbeda-beda

Artikel Terakhir

Komentar Terakhir

Website Tentang Sulawesi Utara

  • Bunaken
  • North Sulawesi
  • Tou Minahasa
  • World Ocean Conference