Showing posts with label Suku Minahasa. Show all posts
Showing posts with label Suku Minahasa. Show all posts

Sejarah Langowan

LANGOWAN, RIWAYATMU DULU
editor: Bodewyn Talumewo

MASUKNYA PENDUDUK PERTAMA DI LANGOWAN


Seperti biasanya terbentuknya suatu perkampungan penduduk (tumani) berawal dari pemukiman di suatu tempat yang awalnya hanya sebagai tempat untuk berkebun/bertani. Dan biasanya tempat perkebunan itu dinilai memiliki tanah yang subur untuk bisa bercocok tanam. Dan bagi mereka yang memiliki keterampilan sebagai nelayan, akan mencari tempat peristirahatan yang baik di kala mencari ikan. Dan syarat lainnya, yaitu tempat tersebut tidak jauh dari sumber air (mata air atau kolam). Karena biasanya manusia senantiasa membutuhkan air untuk minum, memasak atau mencuci.


Dari penelitian sejarah desa serta cerita turun temurun yang dapat dipercaya, dan juga bukti­-bukti sejarah lainnya (seperti pekuburan tua) maka masuknya penduduk pertama di wilayah Langowan adalah bermula dari tempat yang bernama Palamba, Temboan, dan Rumbia. Ketiga tempat ini semuanya sudah menjadi desa yang definitif.


Sebelumnya terbentuknya tempat-tempat pemukiman tersebut, dalam sejarah Minahasa kita mengetahui ada pertemuan orang-orang Minahasa yang dilakukan di Pinawetengan. Kejadian itu terjadi sekitar tahun 1428, dimana tahun ini dijadikan tahun Hari Jadi Minahasa. Setelah peristiwa pembagian (Pinawetengan) ini, maka sesuai dengan kesepakatan bersama, banyak orang Minahasa mulai kembali ke tempatnya masing­masing dan ada pula yang mencari tempat baru, sebagai tempat Demikian halnya dengan orang­-orang yang berkeinginan untuk hidup di wilayah Langowan, seperti yang dikemukakan tadi. Mereka mulai mendiami Palamba, Temboan dan Rumbia.


1. PALAMBA
Kira-kira abad ke XVI, pengikut-pengikut dari Toar Lumimuut mengadakan perjalanan mengelilingi tanah Minahasa. Mereka kemudian beristirahat di Palamba yang waktu itu masih hutan rimba, dimana tempat ini menurut anggapan mereka cukup baik dan menyenangkan. Untuk tempat beristirahat mereka mendirikan gubuk dari batang pohon kayu dan daun-daunan yang menurut bahasa Tountemboan "palapa". Konon dari kata inilah pemukiman tersebut dinamakan Palapa yang kemudian berubah menjadi Palamba sampai sekarang ini.


Lama kelamaan untuk memenuhi bekal makanan, mereka mulai membuka perkebunan/huma di tempat itu. Terutama mereka menanam pisang, umbi-umbian dan sayuran. Sehingga lama-­kelamaan perkebunan itu makin luas dan orang-orang yang bermukim di stiu makin bertambah.
Dengan semakin bertambah penduduknya, maka sebagaimana tradisi orang Minahasa dalam suatu perhimpunan penduduk yang sudah cukup banyak, diperlukan seorang pemimpin. Dan oleh karena itu pada sekitar tahun 1600 sampai pada tahun-tahun berikutnya pemukiman tersebut telah dipimpin oleh para Tonaas dan Walak yang sayang sekali nama-namanya tidak diketahui lagi. Sehingga dapat dipastikan bahwa desa Palamba merupakan desa tertua di Langowan. Ini juga dapat dibuktikan dengan adanya waruga (kuburan tua/prasasti) Toar Lumimuut yang ada di sana, dan merupakan tempat pertama orang-orang yang masuk dan menetap di Langowan.

 


2.TEMBOAN
Berdasarkan sejarah desa Temboan, penduduk yang pertama masuk ke Temboan adalah bangsa Portugis, yaitu pada abad XVII atau sekitar tahun 1690. Konon menurut cerita, dengan tidak sengaja mereka mengambil kayu hitam yang ada di sekitar sungai Ranowangko kemudian dimuat di kapal laut. Oleh karena muatannya sudah penuh, maka kapalnya kandas dan memerlukan beberapa hari untuk keluar dari lokasi.


Pada saat itulah ada seorang di antara mereka yang bernama Luly mencari bantuan, terutama bahan makanan yang makin menipis dan berjalanlah ia menuju utara, dengan tidak melewati Palamba atau Atep. Karena waktu itu ia belum mengetahui kalau ada pemukiman di dekat lokasi tersebut. Dan sampailah ia di negeri Tompaso, dan dari sana ia mengajak orang bernama Kelung, sekaligus untuk membantu mengeluarkan kapal mereka yang kandas. Tetapi setibanya di sungai Ranowangko, kapal tersebut sudah tidak ada, atau sudah berangkat. Maka merekapun mencari tempat perteduhan/peristirahatan di sekitar lokasi tersebut. Mereka menamakan tempat itu Talawatu karena tempat itu hanya tumbuh pohon kayu hitam yang besar dan keras. Kemudian mulailah mereka membuat gubuk dari pohon kayu dan daun-daunan. dan membuka lahan perkebunan untuk ditanami t:unaman pangan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.


Setelah mereka merasakan lokasi pemukiman cukup baik, maka mereka mengajak saudara dan kenalan mereka untuk bermukim di tempat ini, sehingga lama kelamaan orang-orang makin bertambah, sehingga pada tahun 1829 jadilah sebuah perkampungan Talawatu yang dipimpin oleh seorang Kepala kampung bernama Tonaas Tumataw (lihat catatan harian RC. Massie tahun 1965, tahun 1922­1946 mantan Kepala Desa Amongena). Namun saat itu perkampungan ini dilanda penyakit kolera dan malaria, sehingga pada tahun 1896 penduduk di tempat ini berpindah ke lokasi baru di dataran tinggi, yaitu di lokasi yang ada sekarang (desa Temboan). Temboan berarti berada di ketinggian, atau dalam bahasa Tountemboan matembo yang berarti dari ketinggian.

 


3. RUMBIA
Pada mulanya sekitar tahun 1825 nelayan-nelayan dari Mongondow, Ternate, Buton, Bugis, Gorontalo dan Sangir mencari ikan Taut di Laut Maluku, sehingga di antara mereka ada yang singgah di pantai Rumbia.


Mulanya nelayan-nelayan ini karena kelelahan mereka beristirahat di tempat ini dan membuat daseng atau gubuk sebagai tempat berteduh. Oleh karena tempat ini terdapat banyak pohon rumbia yang tumbuh di rawa-rawa, maka mereka mengambilnya untuk dijadikan atap daseng/gubuk. Oleh karena pohon rumbia ini banyak manfaatnya,seperti daun dan tangkainya dapat digunakan untuk atap dan isi batangnya bisa dibuat sagu, maka akhirnya tempat peristirahatan itu dinamakan Rumbia.


Lama-kelamaan orang-orang yang dulunya beristirahat di situ, mulai tinggal menetap, dan jumlahnya makin bertambah. Mereka yang juga dulunya tinggal di Palamba dan Atep, sebagiannya mulai menetap di Rumbia, dan akhirnya menjadi perkampungan. Pada tahun 1854 perkampungan ini telah dipimpin oleh seorang Kepala Kampung bernama Albert Mawuntu yang berasal dari negeri Atep, dan ia merupakan Kepala Kampung yang pertama.


PERKAMPUNGAN/NEGERI MULA-MULA
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa masuknya penduduk pertama di Langowan adalah di perkampungan Palamba pada abad XVI atahu tahun 1500­an. Kemudian orang-orang dari Palamba tersebut pada waktu mereka pulang-pergi, diantaranya menghadiri musyawarah di Watu Pinawetengan, mereka singgah dan melihat lokasi Mawale (sekarang sebagian wilayah desa Tounelet) baik untuk perkebunan. Maka pada akhir abad XVII atau tahun 1600-an mereka datang bermukim di sana dan membuka perkebunan baru di tempat itu.


Selain penduduk dari Palamba, konon orang-orang yang setelah mengikuti perang Minahasa-­Mongondow pada tahun 1683 sebagian tidak kembali ke negeri asalnya, tetapi kemudian datang menetap di Mawale. Oleh sebab itu setelah pemukiman Mawale ini penduduknya makin bertambah, maka mulailah mereka mencari lokasi perkebunan yang baru dan pada tahun 1806 mereka mulai membuka pemukiman baru di Walantakan dan Waleure. Negeri Walantakan pada tahun 1806 dipimpin oleh Kepala Kampung Makaware/Wakarewa. sedangkan kampung/negeri Waleure dipimpin oleh Waraney.


Berdasarkan penelitian sejarah, maka didapati bahwa dari pemukiman Mawale inilah yang dominan terdapat penyebaran penduduk, sehingga muncul pemukiman-pemukiman baru lainnya di Langowan. Dari 29 desa di Langowan sekarang ini, sebagian besar (sekitar 24) desa awalnya dari pemukiman Mawale. Sementara empat desa lainnya, yaitu Atep, Palamba, Rumbia dan Temboan sudah lebih dulu berdiri. Mengenai asal-usul Palamba, Rumbia dan Temboan sudah dijelaskan sebelumnya. Sedangkan Atep terbentuk dari kedatangan orang Palamba yang mulai menetap di sana sejak tahun 1780, yang awalnya juga membuka perkebunan.


Dari gambaran di atas dapatlah disimpulkan bahwa perkampungan negeri mula-mula di Langowan adalah sebagai berikut:

  1. Palamba, pemukiman sekitar abad XVI atau tahun 1500­-an, dan kemudian menjadi kampung/negeri sekitar abad XVII atau tahun 1600-an,mulai dipimpin oleh seorang Tonaas yang belum diketahui jati dirinya.
  2. Temboan, pemukiman tahun 1690. kepala kampung/negeri yang pertama Tonaas Tumataw.
  3. Atep, pemukiman sekitar-tahun 1768 memilih suatu lokasi di dataran rendah dan menjadi kampung/negeri tahun 1780 dengan kepala kampung/Tonaas Reppi.
  4. Walantakan, pemukiman tahun 1806, kepala kampung/negeri Makarewa. Dibuktikan dengan adanya waruga (kuburan tua) yang ada di Walantakan.
  5. Waleure, pemukiman tahun 1806, kepala kampung/Walak Waraney.

 

ASAL-USUL NAMA LANGOWAN


Pada umumnya seseorang atau kelompok dalam memberikan nama kepada suatu obyek, apakah itu manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, tempat atau obyek lainnya, biasanya selalu mempunyai arti atau kenangan/kesan tertentu. Pemberian nama tersebut dapat saja berupa kenangan atau kesan masa lalu, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan (kepahitan/penderitaan). Atau juga berkaitan dengan harapan masa yang akan datang, maupun berkaitan dengan komunikasi biogenetics. Pemberian nama ini didasarkan pada aetiologis dan saga. Aetiologis (dalam bahasa Yunani artinya keterangan atau sebab), yang ceritanya tidak hanya menerangkan asal-usul, tetapi juga menerangkan hal lain, sedangkan saga adalah cerita turun temurun yang berisi tentang perjalanan individu/kelompok, dan juga norma-norma yang berlaku terhadap individu/kelompok bersangkutan.


Secara etimologis (sejarah asal-usul kata), Langowan berasal dari kata rangow (bahasa Tountemboan) yang berarti lobang. Rangowan (berlobang) dalam hal ini bukan pada gunung, tanah, atau bench lainnya, tapi maksudnya berlobang pada bagian pokok kayu. Konon kayu yang berlobang itu, terletak di tengah pusat kota seperti sekarang ini, yaitu tepat di Gereja GMIM Sentrum (Jemaat Schwarz) sekarang.


Di Langowan pada masa itu memang banyak ditumbuhi pepohonan dan tanaman lainya. Di antaranya pohon we'tes (pohon beringin). Di batang pohon inilah terdapat lobang tersebut. Dan di pohon ini pulalah menjadi pusat penyembahan orang-orang Langowan kepada dewa-dewa (opo-opo), termasuk juga kepada Amang Kasuruan atau si Apo Wanandangka. Dan karena pohon ini dianggap keramat, maka ditempat ini pula dibuat tempat pasoringan.

Pasoringan berasal dari kata soringan yaitu alat bunyi yang dibuat dari sebilah bambu (wulut), semacam pipa yang diberi 7 lobang. Apabila dihembuskan angin atau ditiup akan mengeluarkan bunyi. Bunyi tersebut analog dengan bunyi burung Wala'. Jadi Pasoringan berarti tempat memanggil/mendengarkan bunyi burung Wala' oleh para Walian dan Tonaas. Walian adalah para pemimpin agama (Alifur/ agama suku Minahasa). Sedang para Tonaas adalah pemimpin pemerintahan, pertanian, keamanan dan lainnya. Di tempat pasoringan inilah para pemimpin tersebut di atas bertanya dan mendengarkan jawaban, ya atau tidak tentang sesuatu maksud yang ditanyakan. Atau untuk mengetahui apakah yang akan terjadi di hari-hari selanjutnya. Bunyi burung Wala' ini diartikan/diterjemahkan secara bersama-sama oleh Walian dan para Tonaas.
Pada pohon we'tes yang berlobang ini, selain tempat mendengarkan bunyi burung, juga sebagai tempat pareghesan (tempat membawa persembahan/ sesaji). Dengan pengertian, bahwa di tempat inilah mejadi pusat kegiatan keagamaan dan pemerintahan.


Caranya ialah para Walian bersama umat datang berkumpul untuk memuja para opo dan si Amang Kasuruan, dengan membawa sesajian/persembahan (raghesan). Sedangkan para Tonaas menggunakannya sebagai tempat pertemuan rakyat untuk mendengarkan perintah atau aturan yang harus dilaksanakan. Dan biasanya perintah itu dilakukan melalui palakat/pengumuman: ma umung asi we'tes rangow.


Orang yang bermaksud berkumpul untuk membawa persembahan dan memuja serta mendengarkan perintah, awalnya dari mereka bermukim di Mawale (kini bagian kiri dari Desa Tounelet), yang terletak di bagian selatan pohon tersebut. Jaraknya dari pohon we'tes rangowan itu kira-kira 600 depa.


Ketika para pendatang dari Eropa mulai menginjakkan kakinya di Langowan, merekapun mulai mendengar ucapan kata rangow tersebut. Dan oleh karena orang Eropa kurang mampu menyebut huruf "r" dengan jelas, maka sebutan rangow menjadi langow, dan juga rangowan, menjadi langowan. Lama kelamaan akhirnya tempat itu beserta penduduknya disebut dengan Langowan, sampai pada saat ini.


Namun sumber lain juga mengungkapkan bahwa kata langow berasal dari kata lagow yang artinya anoa. Karena konon di Langowan dulunya banyak binatang khas Sulawesi tersebut.


Pertengahan abad XVIII penduduk makin bertambah, maka terjadilah migrasi dari pemukiman Mawale ke utara dan ke timur, serta ke tempat lainnya. Maka mereka yang ke utara membentuk pemukiman baru, sehingga muncullah kampung Waleure, yang ke kampung Amongena dan Wolaang. Dan yang dari Waleure ada yang ke barat daya, menjadi kampung Koyawas. Zaman dimana penduduk pertama hidup di Langowan selanjutnya berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda.


Kedatangan J.G. Schwarz di Langowan membawa perubahan yang besar, khususnya berkaitan dengan hidup keagamaan orang Langowan, dan orang Minahasa umumnya. Di Langowan khusunya, pusat penyembahan agama Alifuru (raghesan dan tempat bertanya pada burung), diubahnya menjadi pusat pelayanan Kristiani (Nasrani). Di tempat itulah Schwarz mendirikan gereja sebagai tempat peribadatan kepada Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus. Tempat peribadatan itu masih berdiri sampai sekarang, yaitu Gereja Sentrum (Jemaat Schwarz) langowan).

 


SEJARAH PEMERINTAHAN DI LANGOWAN


Sebagaimana telah dituturkan sebelumnya, di Langowan awalnya penduduk bermukim di Palamba, Rumbia, Temboan dan Mawale. Khusus yang mendiami Mawale, kemudian sebagiannya membuka perkebunan baru dengan berpindah tempat, sehingga membentuk pemukiman baru, seperti Waleure, Walantakan, Amongena, Wolaang dan lainnya.


ebelum tahun 1828 sudah ada sekitar 5 tempat pemukiman, yaitu Mawale, Waleure, Walantakan, Palamba dan Talawatu (kemudian menjadi Temboan). Pemukiman­pemukiman itu masing-masing dikepalai oleh seorang Tonaas. Dan kepala-kepala dari para tonaas ini adalah seorang Walak (kepala suku). Para Walak yang disebut-sebut pernah memimpin adalah: Rambijan, Robot, Tumbaijlan dan Tawaijlan.


Tahun 1829 Fiskal Irot diangkat menjadi Major dalam jabatan Kepala Distrik oleh Residen Manado Peternat. la memerintah sebagai Hukum Besar mulai 1829 hingga 1841. Pada saat itu perkampungan baru terus bermunculan, yaitu Amongena, Wolaang, Koyawas, Tounelet dan Atep. Sehingga tercatat ada sembilan kampung. Dan setiap desa dipilih dan diangkat Hukum Tua.
Tahun 1841-1847 A. Tendap Saerang menjadi Hukum Besar, dan Bastian Thomas Sigar diangkat menjadi Hukum Kedua oleh Residen Cambier dan Opzier Tondano Benseijder.


Pada Pebruari 1848 Bastian Thomas Sigar diangkat menjadi Major/Hukum Besar oleh Resident Van Nolpen, sedangkan P. Kumolontang menjadi Hukum Kedua. Tahun 1852 N. Pandeirot juru tulis Wolaang diangkat menjadi juru tulis Distrik oleh Resident Scherjas.


Tahun 1853 P. Kumolontang meninggal, dan digantikan oleh Laurenst A. Sigar. Tahun 1854 bertambah satu kampung, yaitu Rumbia. Jadi sudah ada 10 kampung. Tahun 1861 Conteleur Riedel di Tondano mengangkat N. Pandeirot menjadi Hukum Tua Walantakan, Paulus Saerang Hukum Tua Waleure dan Benyamin Sigar Hukum Tua Amongena.


Januari 1870 L.A Sigar diangkat menjadi Majoor/Hukum Besar oleh Resident Deance, dan Desember 1870 N. Pendeirot diangkat menjadi Hukum Kedua. Bersamaan dengan itu pemukiman di Tumaratas menjadi kampung.
Sejak 1870-1884 ketika L.A Sigar sebagai Hukum Besar, rakyat diperintah menanam kopi. L.A Sigar meninggal 2 Mei 1910 (kuburnya ada di Tompaso).
Pebruari 1884 N. Pandeirot diangkat menjadi Majoor/Hukum Besar oleh Residen Jansen, sedangkan Hukum Kedua tidak lagi diangkat. Pandeirot bertugas hingga 1891. Di waktu pemerintahan N. Pandeirot bertambah satu kampung, yaitu Lowian (1887). Jadi sudah ada 12 kampung/desa.


Selanjutnya N. Pandeirot digantikan oleh Major Nicolaas E. Mogot yang sebelumnya Hukum Kedua Remboken dan Kakas. Sedangkan Hukum Kedua diangkat R. Maringka/W. Warokka oleh Residen/Conteleur Adam. Pada masa N. Mogot memerintah, bertambah beberapa kampung, yaitu Sumarayar (1888), Karondoran (1898), Walewangko (1898), Manembo (1899), Teep dan Paslaten (1900). Sehingga menjadi 19 kampung/desa.


Tahun 1904-1911 Hukum Besar Ever Gradus Mogot dan Hukum Kedua Palengkahu. Bertambah satu desa, Noongan. Sehingga menjadi 19 desa.
1912-1919 Hukum Besar A.W. Ingkiriwang dan Hukum Kedua Sahelangi/J. Loho Sesudah 1919 maka negeri Langowan menjadi onder-distrik. Tahun 1920 bertambah desa Tempang, sehingga Langowan menjadi 20 desa. Mulai 1922 Hukum Tua tidak lagi ditunjuk tapi dipilih.
1923-1926 Wakary menjadi Hukum Kedua.
1926-1930 Masa P. Pandeiroth kedua, bertambah desa Winebetan.
1930-1935 W. Momuat Hukum Kedua.
1935-1937 B.C. Lasut Hukum Kedua.
1937-1940 G.P.A. Wenas Hukum Kedua.
Pada waktu pendudukan Jepang (Perang Dunia II), No' Mogot diangkat menjadi gunco (Hukum Besar). Bertambah desa Karumenga (1942).
1941-1943 No'Mogot Hukum Besar.
1943-1946 B.Lapian Hukum Besar.
1946-1949 A.R. Warouw Hukum Kedua. Bertambah desa Raringis (1946), desa Taraitak dan Ampreng (1947).
1949-1951 Lumanauw Hukum Kedua. Bertambah desa Kaayuran Atas (1950).
1951-1953 A. Wenas Hukum Kedua.
1953-1954 A. Tambajong Hukum Kedua. Bertambah desa Toraget (1954)
1955 M.H.W. Dotulong Hukum Kedua
1956 A. Kumolontang Hukum Kedua
1957 P.V. Kembuan Hukum Kedua
1957-1958 H.D.N Massie Hukum Kedua.
1958-1959 J.A. MonintjaHukum Kedua
1960-1962 R.C. Assa Hukum Kedua
1962-1966 A.J. Malonda Hukum Kedua
1966-1967 W. Tamengkel, BA Hukum Kedua
1967-1970 N.J. Rumengan Hukum Kedua
1970-1977 H.D.N. Massie Hukum Kedua/Camat
1977-1983 J.F. Lalujan Camat. Desa Amongena dimekarkan menjadi dua (Amongena I dan Amongena II) sesuai SK Gubernur No. 28 tanggal 28 Desember (Amongena II jadi definiti fl. Jumlah desa menjadi 28.
1983-1987 F. Mangundap, BA. Camat
1987-1990 Drs. F.H. Tampi, Camat
1990-1993 Drs. P. Besouw, Camat.
1993-1996 Drs. S.E. Tambajong, Camat
1996-1999 Drs. S.W.Z. Poluan, Camat
1999-2001 Drs. Johan Watti, Camat
2001-2002 Drs P.D. Sumampouw, Camat. Kecamatan Langowan dimekarkan menjadi dua kecamatan pada 5 November 2001 (kecamatan Langowan Timur dan Kecamatan Langowan Barat). Desa Kopiwangker bertambah (2002).
Dengan pemekaran tersebut Langowan Timur memiliki 15 desa, dan Kecamatan Langowan Barat 14 desa.


Ke-15 desa di Langowan Timur adalah Amongena I, Amongena II, Wolaang, Waleure, Tempang, Toraget, Karumenga. Sumarayar, Karondoran, Teep, Atep, Manembo, Palamba, Rumbia dan Temboan. Sedang 14 desa di Kecamatan Langowan Barat adalah Nonongan, raringis, Ampreng Tumaratas, Taraitak, Walantakan, Paslaten, Koyawas, Lowian, Walewangko, Tounelet, Winebetan, Kayuran Atas dan Kopiwangker.


2001-sekarang Drs. P.D. Sumampouw, Camat Langowan Timur
2001-... Drs. Alex Slat, Camat Langowan Barat


LANGOWAN DALAM SEJARAH


Nama Langowan sudah sangat dikenal, baik di Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia, bahkan sampai di luar negeri. Terkenalnya Langowan berkaitan dengan sejarah, baik berkaitan dengan demografi, geografi, agama (penginjilan) maupun hal-hal lain yang terkait dengan budaya, ekonomi, politik dan lain sebagainya.


Terkenalnya Langowan, bahkan sampai di luar negeri, berhubungan dengan hadirnya orang-orang Langowan di berbagai tempat, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa waktu lalu harian Manado Post memberitakan bahwa orang Minahasa yang berada di Amerika Serikat terbanyak adalah orang-orang yang berasal dari Langowan. Di berbagai tempat di Indonesia dan juga di luar negeri pun orang-orang Langowan selalu membentuk perkumpulan negeri dengan nama Rukun Langowan.


Nama Langowan sebagaimana banyak ditulis berasal dari kata "rangouw". Kata rangouw ini untuk menunjuk kayu besar berlubang yang dulunya terletak di tengah kota Langowan, yaitu di Gereja Sentrum (Jemaat Schwarz) sekarang. Kayu berlubang itu dalam bahasa Tountemboan disebut dengan rangouw. Dalam penuturan sejarah, oleh karena orang Belanda dan juga orang Eropa lainnya tidak bisa menyebut huruf "r" dengan jelas, maka sebutan rangouw yang terdengar adalah "langouban". Dan dari kata "langouan" itulah akhirnya menjadi kata Langowan.
Sebelum muncul kata Langowan, ada pula tulisan yang menyebut dengan sebutan Langouban. Hal ini dapat dilihat dari sejarah ketika terjadi perjanjian antara VOC dan bangsa Malesung dalam naskah 10 Januari 1679/10 September 1699.


Diedit dari majalah Duta Minahasa terbitan Okt/Nov 2003.

Asul Usul Suku Minahasa

Asul Usul Suku Minahasa


Penulis: Ryker Marvyn



Lambang Minahasa

Indonesia, Sulawesi Utara, Manado. Suku asli di sana adalah Minahasa, lalu dari mana asalnya nenek moyang suku Minahasa? menurut cerita mitos, mitos adalah cerita suci, sakral dan tidak sembarang di ceritakan. Nenek moyang suku Minahasa adalah Dewi Bumi dan Dewa Matahari yang akhirnya melahirkan keturunan Minahasa, cerita ini diceritakan dalam bahasa daerah dan yang mengetahui hanyalah para Walian yang memang ditunjuk oleh Opo secara turun - temurun. Biasanya cerita ini diceritakan secara umum pada saat upacara Rumages, menjadi cerita Toar Lumimu'ut. Toar Dewa Matahari yang selalu menyinari Minahasa dan Lumimu'ut Dewi Bumi yang memberikan kesuburan pada tanah Minahasa dan keturunan.


Berikut cerita singkat tentang Mitos Minahasa yang dapat saya ceritakan karena cerita lebih lengkapnya memang hanya rahasia dan cuma di ceritakan secara turun temurun. Karena jika diceritakan akan terjadi banyak pertanyaan yang akan susah dijelaskan lebih lanjut misalnya Dewi Bumi ini pada bahasa asli Astoreth dalam Alkitab. Sayapun hanya bisa menceritakan begini saja mengenai mitos.


Lalu darimana nenek moyang Minahasa pada awal mulanya? jika cerita berdasarkan fakta?.Dari pendapat Tandean, seorang ahli bahasa dan huruf Cina Kuno, 1997 datang meneliti di Watu Pinawetengan. Melalui tulisan “Min Nan Tou” yang terdapat di batu itu, ia mengungkapkan, tou Minahasa merupakan turunan Raja Ming dari tanah Mongolia yang datang berimigrasi ke Minahasa. Arti dari Min Nan Tou adalah “orang turunan Raja Ming dari pulau itu. Namun aneh juga seperti diketahui Dinasti Ming bukanlah orang Mongolia justru Dinasti Ming adalah yang mengganti Dinasti Yuan yang dipimpin bangsa Mongol, oleh Kubilai Khan.


Berdasarkan pendapat para ahli diantaranya A.L.C Baekman dan M.B Van Der Jack yaitu berasal dari ras Mongolscheplooi yang sama dengan pertalian Jepang dan Mongol ialah memiki lipit Mongolia. Memang bangsa mongol terkenal dengan dengan gaya hidup berperang dengan menguasai 1/2 dunia saat dipimpin oleh Genghis Khan, dan bangsa Mongol menyebar tidak terkecuali pergi ke Manado. Persamaan dengan Mongol dalam sistem kepercayaan dapat dilihat pada agama asli Minahasa Shamanisme sama seperti Mongol. Dan juga dipimpin oleh Walian yang langsung dimasuki oleh opo. Agama Shamanisme ini memang dipegang teguh secara turun temurun oleh suku Mongol. Dapat dilihat juga di Kalimantan Dayak, dan Korea.


Namun memang orang Minahasa sudah tidak murni dari Mongol saja, namun sudah campuran Spanyol, Portugis, dan Belanda yang diketahui keturunan Yahudi, namun lebih dipengaruhi oleh Kristen. Sebenarnya aslinya Suku Minahasa dari Mongol yang terkenal dengan kehebatan perang, dan Yahudi yang terkenal dengan kecerdasannya. Memang Belanda sebagi Yahudi yang masuk ke Indonesia hanya mendirikan 1 tempat ibadah di Indonesia silahkan lihat Sinagog di Tondano





Seperti kita tahu Manado dalam prosesnya oleh Indonesia dibilang bangsa asing karena sangat dimanja oleh Belanda dan Sekutu. Serta sangat berbeda dengan ciri orang Indonesia pada umumnya.

Suku Minahasa terbagi atas sembilan subsuku:

  1. Babontehu

  2. Bantik

  3. Pasan Ratahan (Tounpakewa)

  4. Ponosakan

  5. Tonsea

  6. Tontemboan

  7. Toulour

  8. Tonsawang

  9. Tombulu


Nama Minahasa mengandung suatu kesepakatan mulia dari para leluhur melalui musyarawarah dengan ikrar bahwa segenap tou Minahasa dan keturunannya akan selalu seia sekata dalam semangat budaya Sitou Timou Tumou Tou. Dengan kata lain tou Minahasa akan tetap bersatu (maesa) dimanapun ia berada dengan dilandasi sifat maesa-esaan (saling bersatu, seia sekata), maleo-leosan (saling mengasihi dan menyayangi), magenang-genangan (saling mengingat), malinga-lingaan (saling mendengar), masawang-sawangan (saling menolong) dan matombo-tomboloan (saling menopang). Inilah landasan satu kesatuan tou Minahasa yang kesemuanya bersumber dari nilai-nilai tradisi budaya asli Minahasa (Richard Leirissa, Manusia Minahasa, 1995).


Jadi walaupun orang Minahasa ada di mana saja pada akhirnya akan kembali dan bersatu, waktu itu akan terjadi pada akhir jaman, yang tidak seorangpun yang tau. Seperti Opo Karema pernah kasih amanat "Keturunan kalian akan hidup terpisah oleh gunung dan hutan rimba. Namun, akan tetap ada kemauan untuk bersatu dan berjaya.”

Sumber:

http://www.rykers.org/minahasa-manado

I. AWAL PERISTIWA
PERANG DIPONEGORO : 1825 – 1830.
Perang Jawa, perang melawan Belanda di Jawa.
Pada sekitar abad ke 18 , penjajah Hidia Belanda dengan melalui perusahaan dagangnya VOC ( Verenigde Oost indische Compagnie ) sedang melebarkan kekuasannya untuk mengelolah dan memiliki perkebunan rakyat terutama rempah rempah dan beras diseluruh Indonesia termasuk di Jawa & Sulawesi – Maluku.

Pangeran Diponegoro
Pada waktu itu di Jawa berdiri satu kerajaan Jawa peninggalan Kerajaan Mataram yakni Kerajaan Jokyakarta ( Sekarang Jokyakarta - tetap) termasuk juga daerah Surakarta ( Solo ) dan diberi nama Kesultanan.
Orang pertama yang menjabat sebagai Sultan adalah Hamengkubuwono I, dan pada masa terjadi perang Diponegoro maka Joyakarta dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono V.
Penjajah Belanda melihat, karena Jokyakarta pada waktu itu sebagai lumbung beras utama di Jawa, maka harus dikuasai melalui VOC nya, dan terjadilah pematokan persawahan milik rakyat, yang kemudian diklaim sebagai milik pemerintah penjajah Belanda.
Salah satu Pangeran dari kesultanan Jokyakarta pada waktu itu yang bernama Pangeran Diponegoro*) tidak tahan dan emosi melihat rakyatnya diperlakukan demikian oleh Belanda.
Pangeran Diponegoro dengan nama lahir Raden Mas Ontowiryo adalah putra sulung dari sultan Hamengku Buwono III, lahir 11 November 1785.
Emosi Pangeran Diponegoro tak terbendung ketika pematokan dilaksanakan Belanda pada sawah sawah rakyat terlebih lagi melintasi kompleks pekuburan bekas Raja Raja Jawa, yang merupakan makam makam leluhurnya.
Rakyat yang mempergunakan jalan jalan yang ada untuk transportasi perdagangan dibebankan pajak yang tinggi oleh Belanda.
Pada waktu itu sebagai Raja ( Sultan ) Jokyakarta adalah sultan Hamengkubuwono V yang dinobatkan ketika baru berumur 3 tahun, jadi untuk sementara pemerintahan dijalankan oleh kerabat Keraton HB IV.
Pemeritahan sementara kesultanan ini tidak berdaya, karena ternyata kekuasaan yang sebenarnya terselubung dan berkoloberasi dengan Pemeritahan Kolonial Belanda.

Kyai Mojo
Selanjutnya, Pangeran Diponegoro menyusun rencana untuk melawan penjajahan Belanda.
Beliau mengontak dan mengajak Kyai Mojo ( Ulama Islam) yang sekaligus gurunya dalam bidang spiritual agama Islam, juga sebagai pamannya, yang mempunya banyak pengikut dan disegani, serta , Tumenggung Zees Pajang Mataram, Tumenggung Reksonegoro.
Selain itu juga Pangeran Diponegoro mengajak Sentot Prawirodirdjo,18*), seorang pemuda yang pemberani.

Sentot Prawirodirdjo
Ayahnya bernama Ronggo Prawirodirjo adalah ipar Sultan HB IV, adalah pembrontak melawan Belanda tapi berhasil dibunuh oleh Daendles.
Dengan kematian ayahnya, Sentot Prawirodirdjo merasa dendam kepada Belanda.
Beberapa saat kemudian pada tahun 1825 berkobarlah Perang Jawa ( Diponegoro ) untuk melawan penjajahan Belanda, dimana perang tersebut sangat sulit diatasi Belanda dan memakan korban yang cukup besar dikedua belah pihak dan sudah berlangsung hampir 5 tahun.
Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa,sehingga mengakibatkan penyusutan penduduk Jawa pada waktu itu.

*) Sentot Prawirodirdjo berhasil dibujuk Belanda, dan dikirim Belanda dan meletakkan senjata pada tanggal 17 October 1829, dan dikirim Belanda ke Sumatra Selatan untuk melawan pembrontakan para ulama dalam perang”Padri”, kemudian wafat di Bengkulu pada tanggal 17 April 1855 dalam usia 48 tahun.

Jendral De Cock naik pitam oleh karena walaupun dia punya banyak serdadu akan tetapi dia tidak bisa memadamkan pemberontakan itu dan akhirnya mendapat kecaman dari atasannya di Batavia ( Jakarta ).
Suatu saat selagi perang berkecamuk Pangeran Diponegoro terluka tertembus peluru, yang kemudian beliau menunjuk Kyai Mojo sebagai Panglima Perang dan Pangeran Mangkubumi sebagai Komandan Lapangan.

II. PENANGKAPAN KYAI MODJO

Jedral De Kock panasaran, sudah hampir 4 tahun dia tidak berhasil memadamkan pembrontakan Diponegoro!
Untuk menaklukan Diponegoro maka dia lalu menerjunkan intelejennya yang terlatih untuk menganalysa kelemahan Pasukan Diponegoro.
Dari hasil pengamatan intelejennya dan setelah dilakukan analysa yang cermat diambil kesimpulan bahwa kekuatan atau pilar utama Pasukan Diponegoro terletak pada Kiay Modjo yang merupakan wakilnya dan menangkap sebagai Panglima Perang.
Berdasarkan hasil kajian tersebut maka Jendral De Kock harus menaklukkan Kyai Mojo terlebih dahulu dan harus dilumpuhkan, karena dialah sebagai Panglima Perang disamping penasehat Spiritual Diponegro.
De Kock merencanakanakan tipu muslihat untuk menangkap Kyai Mojo melalui undangan kepada Kyai Mojo untuk berunding.
Perundingan dapat dilaksanakan pada tanggal 31 October 1928 di desa Melangi Jokyakarta,tapi perundingan gagal.
Belanda membujuk lagi Kyai Mojo atas inisiatif Gubernur Jeneral Du Bus untuk berunding yang kedua kalinya, ( dalam perundingan ini apabila gagal maka Kyai Mojo harus ditangkap ).
Selanjutnya perundingan yang ke dua kalinya dilaksanakan pada tanggal 12 November 1928, di desa Kembang Arum Jokyakarta, dan gagal lagi.
Ditempat inilah Kyai Mojo dan pasukannya sekitar 500 orang dikepung oleh militer Belanda, yang dipimpin oleh Kolonel Le Bron, kemudian ditangkap dan dilucuti senjatanya.

Du Bus
Apabila hal ini terjadi pada saat sekarang ini, pada zaman modern, maka peristiwa ini adalah suatu kejahatan perang.
Konon khabarnya ( ? ) dalam peristiwa penangkapan Kyai Mojo ini Belanda mendatangkan ke tanah Jawa tentara Belanda Pribumi dari Manado dan Ambon ( baca Minahasa pada abad 18 ), pada halaman 16 buku ini.
Kyai Mojo dengan sangat marah mempertanyakan hal ini kepada Lekol Le Bron, yang kemudian ia menjawab, bahwa hal ini terpaksa dilaksanakan atas perintah atasannya.
Penangkapan Kyai Modjo

Dalam kondisi ini kemudian atas permintaan Kyai Mojo, sebahagian besar pasukannya dibebaskan Belanda, dan hanya kerabat kerabatnya yang ditahan Belanda sebagai tawanan perang.
Raja Belanda Willem 1 mengirim Komisaris General Du Bus de Gisiegnies menggantikan Van der Cappellen ( yang memerintah Hindia Belada ) dengan buruk yang mengakibatnya timbulnya perang Pangeran Diponegoro.
Tugasnya yaitu memulihkan keamanan di Jawa, sehingga VOC dengan aman melakukan transaksi perdangannya.
dibawah ke Semarang disertai residen Jokyakarta waktu itu, Van Dengan pengawalan ketat oleh pasukan Belanda akhirnya Kyai Mojo dan rombongan Nes, melalui jalan darat.
Sesampainya di Semarang selanjutnya mereka diangkut dengan kapal Korvet Belanda ke Batavia ( Jakarta ) untuk menemui Gubernur Jedral Du Bus.

III. PENANGKAPAN PANGERAN DIPONEGORO
Dengan ditangkapnya Kyai Mojo, memberikan pukulan sangat berat kepada Pangeran Diponegoro, oleh karena Kyai Mojo merupakan Pilar Utama dalam perang Diponegoro.
Berbulan bulan Du Bus membujuk Kiay Mojo untuk meminta Diponegoro agar mau berunding, dan akhirnya disuatu saat Kiay Mojo mengirim surat ke Diponegoro untuk berunding.
Surat itu diatar 3 orang yaitu kapten Roeps yang fasih bahasa Jawa, Haji Ali & Kiay Hasan Besari ( dengan catatan kemudian setelah dilokasi mereka akan berjuang sendiri lagi ).
Pada waktu bersamaan De Kock berusaha menangkap Diponegoro seperti yang telah dilakukan terhadap Kiay Mojo, agar supaya dia dapat melaporkan ke Raja Willem 1, sehingga dapat mendepak Du Bus ( menggantikannya ).
Penangkapan P.Diponegoro

Mengingat kondisi Pangeran Diponegoro waktu itu dalam keadaan terdesak, Pangeran Diponegoro bersedia berunding.
Perundingan direncanakan di Magelang, gagal karena bulan puasa.

Perundingan berikutnya diadakan di pada tanggal 28 Maret 1830 saat Idhul Fitri.
Perundingan tidak mencapai kesepakatan, dan pada saat itulah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh pasukan Belanda pimpinan de Kock.
Pangeran Diponegoro ditawan, lalu dibawa ke Ungaran Semarang, kemudian ke Batavia.
Pada tanggal 8 April 1830 Pangeran Diponegoro sampai di Batavia dan ditempatkan di Stadhuis, kemudian pada tanggal 3 Mei 1830 Pangeran Diponegoro dan rombongannya diberangkatkan dengan kapal perang Pollux ke Manado.
Di Manado ditempatkan di Benteng Amsterdam selama 4 tahun.
Pangeran Diponegoro oleh Belanda tidak disatukan dengan Kyai Mojo di Tondano karena dianggap Belanda sangat berbahaya, hanya sekali saja sempat bertemu dengan Kyai Mojo.
Oleh karena Belanda menganggap penjagaan di Manado tidak cukup kuat, maka Pangeran Diponegoro dipindahkan di Benteng Rotterdaam Makassar pada tahun 1834, sampai wafatnya pada tanggal 8 Januari 1855 dalam usia 78 tahun.

IV. KYAI MOJO DIASINGKAN KE MINAHASA

Untuk menghindari kemungkinan Kiay Mojo dan rombongan kembali ke Pajang untuk bergabung kembali dengan Pageran Diponegoro, Du Bus telah merencanakan untuk mengasingkan mereka ketempat yang jauh, dan dipilih Minahasa di Ujung Sulawesi, yang pada waktu itu negeri ini belum lama dikuasai Belanda ( 1829 ).
Pemilihan tempat ini juga berdasarkan permintaan dari Residen dari Manado untuk mengirimkan tenaga tenaga ahli di bidang pertanian dari Jawa untuk membuat persawahan dimana hasilnya dapat mengisi uang kas keresidenan yang agak parah pada waktu itu.
Selanjutnya untuk pelaksanaan rencana tersebut, dilaksanakan beberapa tahapan.

Tahap 1.

Dari Kembang Arum Kyai Mojo dan pengikutnya dibawa ke Semarang.
Pengadilan Tinggi Belanda memutuskan bahwa Kyai Mojo sebagai tahanan politik.
Hasil sidang Pengadilan Tinggi adalah ( surat dari Menteri Negara Komisaris Jendral tanggal 1 Desember 1828 kepada Letnan Gubernur Jendral):

Kyay Mojo dan pengikutnya dipenjara dalam bentuk tahanan rumah.
Ir.Tromp ditunjuk sebagai pelaksana pembangunan “rumah tahanan” tersebut.
Menyiapkan 25 orang serdadu Ambon secara bergantian menjaga rumah tersebut.

Tahap 2.

Kemudian setelah beberapa lama di Semarang Kyai Mojo diangkut dengan kapal perang Belanda”Mercury” ke Batavia.
Berdasarkan surat Kapten Laut Komandan dan Direktur Kelautan Hindia Belanda kepada Gubernur Jendral tanggal 1 Desember 1828 No.231N/3116K:
Pengurusan Kyai Mojo,dan pengikutnya, ditempatkan di kapal Fregat De Belona dan satu kapal tunggu untuk kemudian dinaikkan ke kapal perang Belanda Mercury, dengan pengawasan militer.
Memperlakukan tawanan dengan baik sesuai perjanjian antara Kepala Hakim dan Komandan Fregat De Belona.
Kapal perang Mercury yang mengangkut tawanan Kyai Mojo dikawal 2 kapal fregat De Belonana dan Anna Paulona.

Tahap 3.

Tanggal 3 Desember 1928 tiba di Batavia.
Sesuai dengan kesepakatan semua pihak, maka tawanan diperlakukan dengan baik serta diperhatikan kebutuhan sehari harinya.
Hal ini perlu dilakukan karena Kyai Mojo masih mempunyai pengaruh yang sangat kuat.
Karena dianggap berbahaya oleh Belanda maka sewaktu berada di Batavia, tidak ditempatkan di gedung penjara menyatu dengan dengan tahanan biasa, tapi ditempatkan di “kantor baru” sebagai tahanan rumah.
Dikemudian hari ternyata tempat ini, adalah tempat menunggu untuk pengasingan terakhir ke Minahasa.
Oleh karena tahanan politik ini sangat istimewa maka semua kebutuhan hidup sehari hari Kyai Mojo dan pengikutnya ditanggung oleh pemerintah kolonial Belanda dengan biaya yang cukup mahal pada waktu itu.
Sebagai pemasok kebutuhan tersebut adalah Kapten Cina bernama Jap Soan Kho.
Adapun biaya tersebut sesuai laporan sekertaris penjara tanggal 3 Desember 1828 adalah:
1. Daging ayakm, ikan, daging sapi F 23
2. Sayur sayuran 5
3. 6 botol minyak kelapa 3
4. Macam macam bumbu sayur 4
5. Buah buahan 5
6. ¼ canting garam 0,183/4
7. 9 roti 2
8. 3 pon mentega 2
9. ½ keju 1,25
10. Kue kue pribumi 8
11. ½ canting kopi 1
12. Gula 2
13. The 1
14. 10 canting nasi 2,50
15. ½ ikat kayu bakar 5
16. Sirih, pinang,kapur sirih 2,5
17. 5 botol minyak lampu 2,5
Jumlah F 73,4 33/4

Selain itu ada lagi kebutuhan biaya sebesar F492, untuk pengadaan pakaian Kyai Mojo dan pengikutnya,
Selama berada di Batavia Belanda sudah menghabiskan biaya total F3051,15 yang ditanggung pemerintah kolonial Belanda sebagai biaya perang.

Tahap 4.

Selanjutnya setelah kurang lebih setahun Kyai Mojo dan rombongannya di Batavia disatu saat pagi yang cerah dipelabuhan Batavia sekarang Tanjung Priuk, bulan October 1829, telah bersandar sebuah kapal perang Belanda ( fregat ) Thalia, yang telah dihiasi dengan hiasan klasik Jawa ala Kraton.
Dari Dermaga sampai ke Kapal telah ditebarkan karpet yang mengingatkan kejayaan kerajaan Mataram dulu.
Kemudian Du Bus memanggil Kiay Mojo melalui ajudannya menemuinya dan mengundang menghadiri acara ramah tama diatas geladak kapal korvert tersebut bersama dengan Admiralnya.
Kiay Mojo langsung berfikir mencari alasan untuk menolak undangan tersebut karena dia tidak suka dengan acara tersebut yang berfoya foya dan huru hara.
Akan tetapi sebelum menemukan alasannya sudah muncul berderet kereta kereta yang akan mengangkut mereka ke kapal yang dipimpin oleh residen Jokyakarta Van Nes.
Dengan kondisi yang tiba tiba itu dan terdesak akhirnya Kiay Mojo dan rombongannya naik kreta menuju ke Kapal didampingi oleh Residen Jokyakarta Van Nes.
Van Nes tidak hanya mendampingi Kiay Mojo ke Kapal tapi mendampinginya terus sampai ke Minahasa.
Du Bus telah menyiapkan segala sesuatunya yang berurusan dengan keperluan Kiay Mojo.
Kepada Gubernur Maluku diinstrusikan agar supaya memberikan fasilitas fasilitas yang diperlukan kepada residen Manado.
Sesampainya di Dermaga Kiay Mojo disambut Admiral kapal perang Korvert, berjabatan tangan dan juga disambut oleh Kapten Kapal beserta anak buahnya.
Tak lama berselang Admiral menghilang menuju kekapal komandonya yang disembunyikan ditempat lain.
Penyambutan yang berlebihan itu membuat Kiay Mojo curiga dan memandang pada senopatinya Tumenggung Zees Pajang dimana dia membalas dengan pandangan yang serupa.
Kemudian Kiay Mojo diajak Kapten Kapal mengelilingi ruangan kapal dan diperlihatkan alat alat senjata Meriam dan jejeran senjata lainnya.
Kyai Mojo & Du Bus

Kemudian senopatinya nyeletuk kepada Kapten Kapal, inikah kapal yang mengangkut 3000 tentara Belanda Totok ke Jokyakarta yang telah disapuh bersih pada waktu perang berkecamuk, tapi Kapten Kapal tidak menjawab menundukkan kepalanya, sambil terus berjalan.
Dalam acara ramah tamah sambil menyuguhkan makanan diberitahukan bahwa rombongan Kiay Mojo didalam kapal ini akan melakukan darmawisata ( dibohongi ) di Utara perairan Laut Jawa, dan baru sesuap makan kapal sudah bergerak menjauhi Tanjung Priuk.
Dengan menancapkan gas vorseneling penuh kapal korvet tersebut bergerak dengan cepat sehingga Tanjung Priuk tidak kelihatan lagi, tiba tiba dengan tak terduga muncul 2 kapal lain yang membuntuti dari belakang.
Tidak berapa lama kemudian pantai Utara Jawa Barat menghilang dan dari atas geladak kapal itu Kiay Mojo melihat dengan jelas ternyata 2 kapal yang membututi dari belakang penuh dengan serdadu serdadu Belanda.
Sadarlah Kiay Mojo sekarang bahwa dia telah dijebak dan tidak tau mau dibawa kemana! Apakah ke suatu tempat antah berantah!
Dengan rasa kecewa dan amarahnya Kiay Mojo dan beberapa pengikutnya bergegas menemui Kapten Kapal untuk menanyakan kapal ini tujuannya kemana, dan serta merta Kapten Kapal menyongsong mereka dan berkata, bahwa kapal ini atas perintah atasannya akan menuju ke Minahasa Sulawesi Utara ( sekarang ), sebagai tawanan yang terhormat, dan lihatlah disamping kapal ini , 2 kapal perang sudah siap melakukan sesuatu apabila saudara saudara membuat kegaduhan diatas kapal ini.
Pemuda pemuda yang lain sudah berteriak Allahu Akbar untuk mengadakan pemberontakan diatas kapal, untuk menangkapi Kapten dan awaknya dan akan dilemparkan ke laut Jawa.
Mereka bersedia rela mati Syahid, biar darah mereka menyirami laut Jawa.
Kemudian Kiay Mojo berkata, tengoklah teropong teropong dari 2 kapal disamping yang diarahkan ke kita, salah sedikit kita akan mati, mati konyol namanya.
Akhirnya Kiay Mojo dapat meredahkan emosi rombongannya, dimana kapal sudah memasuki laut Sulawesi untuk singgah sebentar di Makassar, kemudian kapal bergerak lagi dan memasuki perairan Maluku dan singgah sebentar di Ambon untuk melapor kepada Gubernur Maluku yang membawahi kresidenan Manado.
Selanjutnya Kapal melanjutkan perjalanan menuju Minahasa dan akhirnya berlabuh di Kema pantai Timur Minahasa, rombongan tetap didampingi oleh residen Jokyakarta Van Nes.
Kema pada waktu itu adalah satu pelabuhan antar pulau dengan kepulauan kepulauan di Maluku.
Pada masa itu perjalanan Betawi – Minahasa PP dilakukan melalui Ternate atau Ambon, kemudian route dirubah Betawi – Makassar – Manado.
Negeri negeri seperti Minahasa, Bolaang Mongondow, Sangir Talaud adalah wilayah kresidenan dengan ibu neger Manado dibawah pemerintahan Prefekture / ke Gubernuran Maluku dengan ibu negeri Ambon.
Dapat dibayangkan bagaimana perasaannya Kiay Mojo dan rombongan melihat kenyataan bahwa mereka telah berada disatu tempat yang sangat asing yang kondisinya dan adat istiadatnya jauh berbeda dengan tanah kelahiran mereka Joyakarta.
Kedatangan mereka disambut oleh residen, Meester in de Richten, D.F.W.Pietermaat .
Rombongan ditempatkan dikediaman Residen, kemudian bercakap cakap mengenai selama perjalanan dari Betawi – Kema.
Van Nes menyerahkan dokumen dokumen rombongan kepada Residen dan sejurus kemudian dia berkata kepada rombongan, saudara saudara, tuan tuan sebentar lagi segera akan berangkat ke Manado untuk urusan lebih lanjut bagi kepentingan tuan tuan sendiri., lalu kemudian kedua orang Belanda itu naik kereta model abad 18 menuju Manado.
Dalam pada itu sepasukan Borgo telah siap untuk mengawal Kiay Mojo dan rombongannya untuk berangkat menuju Manado.
Maka nampaklah serombongan orang orang yang masih asing bagi penduduk Minahasa dalam formasi yang teratur rapih yang dipimpin oleh Tumenggung Sis Pajang melakukan Long March melalui jalan Minawerot* yang mulai dari Kema non stop.
Akan tetapi setelah melewati Kumelembuai ( Airmadidi ) yang sekarang, Komandan pasukan Borgo memberikan abaaba untuk istirahat seketika.
Nampaknya serdadu serdadu Borgo itu sangat keletihan padahal diantara mereka itu terdapat ”Scherpspschutters” - snipeer ( penembak jitu ) namun dalam melakukan perjalan Long March itu mereka tidak biasa, hal ini berbeda dengan Kiay Maja & rombongan yang sudah terlatih bertahun tahun mendaki bukit bukit yang tinggi, melintasi tebing tebing yang curam, mendaki bukit bukit yang tinggi, disekitar gunung Merapi di Jawa Tengah itu.
Sejurus kemudian kendati masih letih dan penat Komandan Pengawal Borgo memberikan aba aba untuk meneruskan perjalanan dan apabila telah mencapai sebuah tikungan jalan dimana terdapat jembatan Panjang yakni jembatan Kairagi yang sekarang terletak di pintu gerbang pntu masuk kota Manado maka akhirnya sekarang berbalik yang seharusnya mengawal menjadi dikawal.
Disaat sat seperti itu tampil beberapa pemuda dan menghadap Kiay Mojo dengan maksud hendak melucuti senjata senjata serdadu borgo tersebut akan tetap pemuda yang tertua dari mereka segera bertindak menggagalkan maksud mereka tersebut dengan berkata, bekin susah akan menghancurkan diri sendiri.
*)Minawerot dalam bahasa Minahasa berarti berjejer.
Kampung2 yang berjejer di sepanjang jalan, yaitu mulai dari Kauditan, dekat negeri Kema sekarang, sampai kedesa Tumaluntung dekat Airmadidi yang sekarang berderet kampung2 yang tiada putus2 yang sekarang ditingkatkan menjadi jalan”Worang ByPass” langsung kekota pelabuhan Samudra Bitung.

Tak berapa lama kemudian nampak menyongsong sepasukan serdadu yang lain yang akan menghantar rombongan disuatu kompleks yang telah ditunjukkan oleh residen Manado, yaitu kompleks dimana beradanya rumah bekas tempat kediaman dari raja Manado (suku bangsa Bobentehu) dilokasi Pondol sekarang di Manado.
Sambil menunggu proses administrasi yang sedang dilakukan di Kantor Kresidenan yaitu dilokasi Kantor Gubernur yang lama di Pondol, rombongan diistirahatkan di Rumah Residen, dan selanjutnya Long March dilanjutkan lagi menuju Tondano.
Sebelum lebih lanjut menguraikan sejarah Long March Manado – Tondano baiklah kita lihat secara singkat Selayang Pandang Kota Manado pada waktu itu.

V.SELAYANG PANDANG
KOTA MANADO & MINAHASA.

Hingga tahun 1824 sebutan Manado belum terdapat dalam peta Minahasa.
Orang orang suku Minahasa lebih senang dan aman hidup di pedalaman daripada dipesisir, disebabkan oleh karena bajak bajak laut dari Mindanau Philipina yang selalu saja datang merampok, membunuh dan membakar habis negeri negeri yang berada disepanjang pantai Timur Minahasa dan sering sering juga muncul secara tiba tiba pantai Barat Minahasa, maka sebutan Manado itu tidak dikenal oleh suku bangsa Minahasa.
Jumlah penduduk Minahasa waktu itu baru sekitar 80.000 jiwa*
Manado disebut oleh mereka2 “MANAROW”/BENANG dan kadangkala disebut juga BOBENTEHU oleh karana dimasa itu di Manado didiami oleh suku Bobentehu yang berasal dari Sangir Talaud dan pernah berkuasa di Manado dan Bolaang Mongondow.
Seorang dari suku Bobentehu yang bernama “LOLODA MOKOAGOW” memproklamirkan dirinya selain menjadi raja Manado, juga menjadi raja Bolaang Mongondow.
Menurut sumber yang lain jauh sebelumnya suku Bobentehu itu itu adalah campuran Ternate,Sanger Talaud dan Bolaang Mongondow.
Mereka mereka itulah yang pertama-tama mendirikan Balok Balok
( tempat Tinggal ), yang kemudian Balok Balok itu disebut oleh suku Minahasa WALAK WALAK, dan terakhir dibahasa Minahasakan menjadi ”PAKASAAN”**
Jadi suku Bobentehu itu bukanlah suku asli Minahasa, sebaliknya apabila orang orang suku Minahasa datang pindah tempat tinggal di Manado maka mereka itu terhisab orang orang pendatang.
Jikalau seseorang suku Minahasa asli hendak bepergian ke Manado, maka tetangganya akan menyapanya dalam bahasa daerahnya, “Mange-an isako” ( Mau kemana enggkau ),maka dia akan menjawab, “Mange-an manarow”/Benang”(Pergi ketempat yang jauh/Benang ).
BENANG adalah sejenis pohon yang besar yang sangat rimbun bertumbuh di Manado menjadi tempat berlindung dikala panas terik. Kemudian dengan perubahan struktur kepemirantahan Prefektur ke Gubernuran Maluku dimana Manado dijadikan ibu negeri Kresidenan maka mulai tahun 1825 nama MANAROW/BENANG disebut dengan lidah Belanda “MANADO”.
Jauh sebelum masa itu bangsa kulit putih yang menginjakkan kakinya di Minahasa adalah Portugis dan Spanyol hingga akhir abad ke 18.
Kemudian pada abad ke 17 adalah bangsa Indonesia sendiri yaitu Sultan Hairun dan dilanjutkan oleh putranya sultan Baabullah dari ternate.

*) R.Z.Leirissa-dalam bukunya: Minahasa diawal Perang Kemerdekaan-Peristiwa Merah Putih dan Sebab Musababnya.
**) Pakasaan: Sesuatu yang dilakukan satu kali atau menyatukalikan sesuatu keseluruhan
( Kesatuan = Distrik )
Sebelumnya juga bangsa Belanda dengan VOC nya ( Vereenigde Oost Indische Compagnie) dan Inggeris.
Pada masa ini ada satu hal sangat paradox dan kontradiktif.
Ternyata Belanda pada waktu itu sedang merekrut pemuda pemuda Minahasa untuk melawan Perang Diponegoro karena VOC belum mempunyai tentara asal Minahasa.
Pada tahun 1829 Hukum Besar Tondano, Abraham Dotulong membuat perjanjian dengan residen di Manado dan menyiapkan 120 pemuda, Hukum Besar Tonsea, Lucas Pelengkahu menyiapkan 377 pemuda, Hukum Besar Sonder, Herman Willem Dotulong menyiapkan 240 pemuda, sampai mencapai jumlah keseluruhan 1.400 pemuda Minahasa yang dikirim ke Jawa.
Setelah Perang Dipanegara selesai sebahagian dari pemuda pemuda Minahasa ini pulang kembali ke Minahasa yang kemudian dikenal denagan nama KNIL ( Koninklijk Nederlandsch Indische Leger ) yang pada waktu itu merupakan kebanggan tersendiri, walaupun dikemudian hari membrontak ke Belanda karena dianggap soldadu klas II ( tidak disamakan dengan Belanda ).
Hal ini bisa terjadi karena para Kepala Walak welcome dengan Belanda ( VOC ) didalam citra perdagangan KOPI di sekitar Tondano, sehingga terjalin hubungan yang baik.
Disamping itu juga bahwa Belanda telah menguasai Minahasa melalaui peperangan yang dahsyat dengan jatuhnya benteng pertahanan Minahasa Moraya di Tondano pada tahun 1809.

VI. LONG MARCH
MANADO – TONSEA – TONDANO

Sebelum rombongan melanjutkan kembali perjalanan LONG MARC dari Manado menuju Tondano, Residen Manado Pichtermaat yang Sarjana Hukum “Meester in de Rechten” membacakan keputusan yang disaksikan oleh Residen Jokyakarta Van Nes:

“Sebagaimana tuan tuan sudah lihat, Pemerintah tidak akan mendustai kata katanya sendiri, yaitu bahwa tuan tuan akan diperlakukan dengan baik.
Sebagaimana tuan tuan sudah tahu, bahwa tindakan yang telah diambil oleh Pemerintah terhadap tuan tuan sekalian itu, dimaksudkan untuk menghentikan permusuhan yang sudah menelan korban korban manusia dan harta benda yang sangat banyak.
Sekarang tuan tuan sudah berada di Minahasa dan urusan urusan kepemerintahan terhadap tuan tuan berada ditangan kami ( Residen Manado ) melalui Konteler.
Mulai sekarang, tuan tuan sekalian dinyatakan bebas dari pada segala tindakan2 Pemerintah yang telah diambil sebelumnya, dan disini ( Minahasa ) bebas memilih tata cara kehidupan sesuai kesanggupan dari tuan tuan sendiri.
Hak hak dan kewajiban tuan tuan adalah sama dengan hak hak dan kewajiban penduduk Minahasa, yaitu tunduk pada Reglemen Reglemen Kepemerintahan, dengan syarat syarat bahwa tuan tuan jangan lagi berbuat seperti yang telah berlaku di Jawa dan janganlah mempengaruhi penduduk Minahasa untuk bersikap bermusuhan dengan Pemerintah.
Kami tahu, bahwa tuan tuan berkehendak untuk melakukan Syariat agama tuan tuan sebagaimana mestinya dan untuk itu tuan tuan tidak terlarang.
Juga kawin mawin dengan penduduk Minahasa tidak terlarang, hanya hal itu harus dilaporkan langsung kepada tuan Konteler dan apabila ada terdapat salah seorang anggota dari rombongan tuan tuan yang bermaksud kawin dengan anggota Walak Walak, hendaklah hal itu dilaporkan kepada Residen.
Kami, selaku penguasa kepemerintahan di Minahasa memintakan agar tuan tuan menjadi suri tauladan bagi penduduk Minahasa didalam Pemerintah memajukan daerah Minahasa didalam bidang pertanian, terutama persawahan dan perladangan sebagaimana hal itu berlaku di Jawa.
Untuk itu Pemerintah telah menyediakan bagi tuan tuan daerah tanah garapan yang sifatnya jauh lebih baik dari pada jenis tanah garapan di Jawa.
Tanah garapan itu berada diwilayah keperintahan tuan Konteler yang berkedudukan di Tondano.
Kepada tuan Konteler yang bertempat kedudukan di Tondano kami telah serahkan wewenang atas nama Pemerintah untuk mengatur sebaik baiknya segala sesuatu yang tersangkut paut bagi urusan tuan tuan disana, dan sekarang tuan Konteler itu menunggu kedatangan tuan tuan dan akan menyambut tuan tuan disana.
Perlu tuan tuan ketahui, bahwa menurut keputusan Pemerintah tertinggi Paduka tuan Komisaris General di Betawi, bahwa kepada tuan Kyai Mojo diberikan onderstand (tunjangan) hidup sebanyak empat ringgit sebulan, demikian pula kepada tuan tuan yang lain diberikan onderstanf sesuai kedudukan masing masing sewaktu menjabat Pati di Jawa.
Agar tuan tuan bersiaplah berangkat menuju tanah garapan itu dan untuk itu tuan tuan akan disertai oeh beberapa petugas sekedar petunjuk jalan.
Maka dengan mengucapkan Selamat Jalan dan Selamat bekerja, Meester in de Rechten residen Picteermaat mengetok palunya diatas mejanya, tanpa memberikan kesempatan sedikitpun juga kepada Kyai Mojo, selain dari pada berjabatan tangan satu sama lainnya.
Namun Kyai Maja menyadari bahwa keputusan itu mengandung udang dibalik batu.
Perjalanan Long March menuju Tondano segera dimulai dengan route Manado – Tonsea Lama – Tondano dengan jalan menyusuri aliran sungai Tondano.
Melalui tanjakan bukit bukit, jurang yang tidak terlalu dalam tidak menjadi halangan melintasi daerah dimana berada desa Kuwil yang sekarang, terus menanjak non stop hingga mencapai suatu tikungan sungai Tondano, dimana disebelah Timur sungai Tondano berada desa Sawangan yang sekarang, terus lagi menanjak melintasi dimana disebelah Timur sungai beradanya desa Tanggari yang sekarang, terus lagi menanjak sampailah mereka disuatu bukit yang bernama TASIKELA*, Long March berlanjut terus menanjak, sampai suatu saat bertemu GEROJOGAN ( Air Terjun ) yang sekarang sebagai Pusat Listrik Tenaga Air ( PLTA ) di Minahasa , setelah itu dalam perjalanan selanjutnya tidak ada lagi tanjakan bukit dan setelah sekitar 30 menit sampailah Kyai Mojo dan rombongan ditempat tujuan.
Tempat itu berada paling ujung Selatan negeri Tonsea Lama dan paling Utara ujung negeri Tondano sekarang.
Perjalan Long March ini memakan waktu kurang dari sehari, hanya sekitar delapam jam dari Manado.

*) bekas bekas jejak jejak kaki bangsa Spanyol dimana mereka mereka itu bermaksud medirikan Benteng dibukit itu pada sekitar tahun 1620).

Disatu tempat seluas setengah hektare terlihat satu bangsal (bangunan) dari bambu yang merupakan gerbang pintu batas antara Walak ( distrik ) Tonsea disatu pihak dan Walak ( distrik ) Toulour dipihak yang lain.
Lokasi itu berada ditepi Barat Sungai Tondano yang dikelilingi lapangan yang berawa melulu, melalui arah Barat rawa itu mencapai lokasi beradanya Balai Ibukota Dati II Minahasa sekarang.
Kemudian Konteler menunjukkan batas batas daerah tanah garapan kepada Kyai Mojo dan rombongannya, yaitu, Lembah berbatasan puncak bukit pegunungan Makawaimbeng ( sekarang menjadi stasiun pemancar TVRI ) disebelah Timur, disebelah Selatan berbatasan dengan kali Sumesempot yang berhulu dari pegunungan Lembean
dan bermuara disungai Tondano, terus dengan Selokan Sumalanka yang berhulu dari pegunungan Masarang dan bermuara di Sungai Tondano juga.
Disebelah Utara berbatasan dari bukit pegunungan Masarang ke bukit pegunungan Lembean kecuali negeri Tonsea Lama.

VII. TEMPAT TINGGAL PERTAMA.

Bertempat di Bangsal tadi itulah sekarang Kyai Mojo dan rombongan tinggal, sedangkan Konteler sendiri bertempat tinggal di Loji Tondano, kampung Liningaan sekarang.
Untuk sementara mereka tidak bisa berbuat apa selain berpikir bagaimana mempertahnakan hidup, dan untuk kebutuhan makan digunakan uang santunan yang diberikan Residen.
Disekitar tempat itu sejauh mata memandang seluruhnya berupa rawa rawa dan alang alang yang kelihatannya seram dan kejam.
Setiap hari siang malam hanya terdengar bunyi jangkrik dan nyamuk nyamuk yang bersliweran.
Hal ini menjadikan pertanyaan, memang apabila Kyai Mojo dan rombongan tidak punya keahlian khusus, waktu itu mungkin sudah dipastikan seluruhnya akan mati konyol disana.
Mungkin itulah yang dimaksud dalam benak Kyai Maja sewaktu dibacakan keputusan Residen Manado sebelum berangkat ke Tondano.
Dengan kondisi demikian maka Kyai Mojo dan rombongan membuat suatu rencana atau program bagaimana merubah tanah tersebut menjadi persawahan.
Rencana dimulai pada tanah rawa ditepi Timur Balai Kota Dati II Tondano sekarang hingga Tepi Barat Sungai Tondano.
Didalam perencanaan ini seluruh pengalaman dari Jawa dikerahkan untuk membuat rencana tersebut supaya menjadi kenyataan dan harus berhasil.

VIII. PERSAWAHAN PERTAMA KALI
DI TONDANO.

Setelah beberapa lama maka rencana merubah lapangan rawah menjadi lahan persawahan dimulai, dengan memanfaatkan sumber air dari pegunungan sekitarnya.
Tondano Tempo Dulu
Yang pertama dilaksanakan adalah menggali tanah ditengah lapangan rawah menuju Sungai Tondano.
Maksudnya agar air rawa yang sudah berabad lamanya itu dapat dialirkan ke Sungai Tondano sehingga disuatu saat air rawa yang sudah berwarna merah kecoklatan itu lapangan rawa itu kering dari air yang menggering.

Hal ini harus dilakukan karena sudah beberapa kali dicoba menanam padi akhirnya sebelum berbuah padi memerah dan musnah.
Hal ini diakibatkan karena tanahnya mengandung kadar alkalis yang tinggi.
Selanjutnya pada tahap berikutnya seluruh tumbuhan rawa dicabut seluruhnya dan dibenamkan kembali kdalam rawa untuk dijadikan pematang sawah, sehingga lapangan menjadi petak petak.
Setelah itu beberapa petak digemburkan untuk dijadikan pembibitan padi.
Setelah 40 hari maka padi yang sudah tumbuh dipindahkan keseluruh petak petak sawah tadi , sambil berdoa semoga usaha ini berhasil
Kemudian ternyata usaha ini berhasil dan menhasilkan panen yang banyak akhirnya mengagetkan penduduk Tonsea dan Toulour dimana akhirnya semua mayarakat dapat menikmati hasil panen padi tersebut.
Sampai saat ini persawahan tersebut masih eksis yaitu di desa We’welen ( lua’n ) dan Bacek ( Tanah Rawa ) dan Tounsaru.

IX. PEMBANGUNAN DESA MODEL BLOK
PERTAMA KALI DI TONDANO

Sesudah sekian lama Kyai Mojo tinggal di lokasi Bangsal, maka terjalinlah hubungan yang sangat harmonis dengan penduduk Tonsea Lama, saling menghormati.
Walaupun binatang peliharaan penduduk Tonsea yang waktu itu yang namanya “Kenjer” selalu saja datang mengganggu tapi binatang binatang itu tidak pernah dianiaya.
Walaupun demikian terasa perlu memindahkan tempat pemukiman karena dilokasi itu nampaknya kurang sehat ditempati untuk tempat kediaman.
Untuk menetapkan*) lokasi yang tepat dan sehat untuk pemukiman maka Kyai Mojo membuat empat buah “Anca” ( sosiru )yang terbuat dari nyiru dan masingmasing anca diisikan segumpal daging sapi, kemudian keempat anca ini diikatkan pada empat ujung bambu dan ditancapkan dikeepat penjuru sesuai batas batas yang telah ditentukan ole Konteler yaitu:

1. Dipancangkan dikaki pegunungan Masarang.
2. Dpancangkan disudut delta yang diapit kali Sumesempot sebelah Selatan dan di Barat Sungai Tondano.

*) Menentukan posisi Kampung Jawa Tondano, dalam pengertian saat ini adalah berhubungan dengan nilai kelembaban udara.

3. Di Kompleks makam Kyai Maja sekarang ( Wulouwan )
4. Disebelah Timur Tonsea Lama.

Pada waktu waktu tetentu daging daging yang digantung itu diperiksa, pada tiang bambu manakah, daging daging yang digantung itu cepat atau lama membusuk.
Ternyata setelah pengamatan maka yang tahan lama membusuk adalah daging ditiang yang ditancapkan dilokasi delta yang diapit oleh kali Sumesempot dan Sungai Tondano itu.

Maka diputuskanlah ditempat itu untuk pembangunan Desa yang sekarang menjadi desa Kampung Jawa Tondano.

Sambil menunggu proses administrasi yang sedang dilakukan di Kantor Kresidenan yaitu dilokasi Kantor Gubernur yang lama di Pondol, rombongan diistirahatkan di Rumah Residen, dan selanjutnya Long March dilanjutkan lagi menuju Tondano.
Sambil menunggu proses administrasi yang sedang dilakukan di Kantor Kresidenan yaitu dilokasi Kantor Gubernur yang lama di Pondol, rombongan diistirahatkan di Rumah Residen, dan selanjutnya Long March dilanjutkan lagi menuju Tondano.
Sebelum lebih lanjut menguraikan sejarah Long March Manado – Tondano baiklah kita lihat secara singkat Selayang Pandang Kota Manado pada waktu itu.

Tanpa disadari dengan perjalanan waktu, maka Kyai Mojo beserta rombongannya telah menciptakan suatu pemukiman baru di Tondano – Minahasa , yaitu Kampung Jawa Tondano pada tahun 1831.
Tanah Kampung Jawa Tondano adalah pemberian Negara ( Hindia Belanda ).
Residen Menado mengunjungi Kampung Jawa Tondano pada bulan October 1831, setelah lebih 1 tahun Kyai Mojo dan pengikutnya berada disana.
Residen Manado menemui dan berbicara dengan Kyai Mojo, dan pada kesempatan itu Residen memberitahukan bahwa tanah yang ditempati Kyai Mojo dan pengikutnya dan tanah yang mereka gunakan untuk bercocok tanam diberikan kepada mereka sebagai pemberian Negara.
Pemerintah Hindia Belanda membeli tanah tersebut dari pemiliknya ( Kepala Walak Distrik Tondano) namun Kepala Walak Distrik Tondano tidak mau dibayar sebagai ganti rugi tanahnya yang diambil oleh Negara untuk penempatan tahanan Negara.
Kepala Walak Distrik Tondano rela memberikan tanahnya kepada Kyai Mojo dan rombongannya.
Disini terlihat bahwa apa yang dilakukan oleh Kepala Walak Distrik Tondano, mencerminkan adanya persahabatan yang sangat erat dan juga sangat menerima kedatangan Kyai Mojo dan rombongan di Tondano.
Kedatangan Kyai Mojo dan pengikutnya yang baru 1 tahun telah menarik hati penduduk asli sekitarnya sehingga penduduk asli menghormati dan mencintai Kyai Mojo.
Hal ini disebakan karena Kyai Mojo dan pengikutnya telah mengajari penduduk setempat ( Alifuru ) bercocok tanam dan persawahan.
Hal ini sesuai kesaksian Residen Manado sewaktu berkunjung kesana dan mengajukan ke pemerintah Hindia Belanda berupa:
Permintaan 22 gulden per bulan atau 264 gulden untuk setiap bulan atau 264 gulden pertahun.
Atas permintaan Residen Manado maka pada tanggal 30 April 1839 No.117 dan rekomendasi Direktur Lands Production en Civil Magazijne tanggal 14 Juni 1839 No.2520, pemerintah memberikan uang sejumlah 500 gulden untuk membeli sapi dan menyewa pembajak untuk mengolah sawah.
Kyai Mojo hidup selama 19 tahun di Kampung Jawa Tondano, dan wafat pada tanggal 20 Desember 1849 pada usia 60 tahun.
Makamnya terletak 2 Km sebelah Timur dari Kampung Jawa Tondano bersama rombongan dan kerabatnya yang berbatasan dengan Desa Wulouan.

Beliau telah meninggalkan ajaran ajaranya bagaimana menjadi manusia yang bermartabat, hidup dalam bermasyarakat yang damai dan harus tetap bekerja dan berusaha.
Melalui Keputusan Pemerintah Republik Indonesia, Kyai Mojo dianugrahi gelar sebagai Pahlawan Bangsa.

Mengingat Masyarakat Kampung Jawa Tondano lahir dari rombongan Kyai Mojo dan Wanita asli Minahsa, maka dapat dikatakan disini bahwa masyarakat Kampung Jawa Tondano saat ini sudah menjadi Etnis masyarakat Minahasa.
Orang orang Kampung Jawa Tondano selama ini tidak berpikir kalau mereka bukan orang Minahasa.

Makam Kyai Mojo

XI. KAMPUNG JAWA TONDANO
MENJADI TEMPAT PENGASINGAN

Dalam perkembangan selanjutnya Kampung Jawa oleh Belanda menjadi tempat pengasingan para Ulama terkenal yang banyak pengaruhnya dalam pembrontakan melawan Belanda.
Ulama ulama itu antara lain:
1. Dari Aceh.
- Tengku Muhamad , panglima tentara Aceh ( 1895 ).
2. Dari Padang.
- Tuanku Imam Bonjol ( 1840 ), Panglima Perang Padri.

3. Dari Palembang.
- Sayyid Abdullah bin Umar Assagaf ( 1880 ) , orang keturunan Arab bersama istrinya keturunan Eropah, Nelly Meiyer.
Gubernur Gorontalo saat ini, Fadel Mohamad salah satu kerabatnya.

- Tjotrodininggrat ( 1844 ) juga dari Palembang, adalah saudara laki laki dari Sultan Najamuddin Palembang, dimana anak laki lakinya Pangeran Nguren kawin dengan Gadis remboken fam Riet Tombeng.
4. Dari Banten.
- Haji Abdulkarim,Haji Muh. Asnawi,Haji Jaffar,Haji Mardjaya(1911)
5. Dari Surakarta ( Solo ).
- Pangeran Ronggo Danupoyo ( 1905 ), anaknya dari Sunan Pakubuwono IV – Surakarta ( Solo )
6. Dari Kalimantan.
- Gusti Perbatasari ( 1926 ), putra Sultan dari Banjarmasin Kalimantan.
7. Dari Maluku.
- Haji Saparua ( 1900 ) dari Maluku.

Selang beberapa masa yang agak panjang Kampung Jawa di Tondano merupakan salah satu pusat pengkajian ilmu agama Islam terutama penduduk disekeliling Minahasa dan Sulawesi Tengah datang untuk pangkajian agama Islam kepada alim ulama di kampung Jawa Tondano.
Pengkajian ilmu agama tersebut lebih meningkat lagi apabila di Tondano itu oleh Belanda dibuka Sekolah Raja ( Hoofden School ), dimana anak anak raja diseluruh Sulawesi Utara masuk kesekolah tersebut.
Perlu dicatat disini bahwa ada beberapa warga Kampung Jawa berhasil masuk kesekolah Belanda yang hanya diperuntukkan bagi Inlander namanya MULO, sehingga dapat berbicara bahasa Belanda.
Selanjutnya tentang perkembangan Islam di Minahasa, terlebih dahulu hedaknya diketahui bahwa hingga kedatangan Kyai Maja di Minahasa merupakan daerah tertutup bagi dunia Islam.
Dalam logat bahasa Minahasa tiada terdapat sepatah katapun juga yang berasal dari bahasa bahasa Arab, Gujarat atau sangsekerta.
Hal ini disebabkan karena penduduk Minahasa umumnya hidup dipedalaman dan bukan dipesisir sehingga tidak ada kontak dengan duna luar teruatama Islam pada eranya kesultanan Ternate.
Kembali pada penguasaan Belanda terhadap Minahasa tahun 1830, maka Pemerintah Hidia Belanda baru mendatangkan pekabar pekabar Injil langsung dari Belanda dan tiba di Tondano pada tahun 1831 yaitu J.F.Richdel dan J.G.Schwarz.
Jadi berdasarkan data ini maka yang lebih dulu menapakkan kakinya di Tondano Minahasa adalah Islam yaitu Kyai Mojo dan rombongannya.
Bedanya disini adalah Kyai Mojo tiba di Tondano bukan untuk menyiarkan Islam kepada masyarakat Minahasa, melainkan hanya semata mata untuk mempertahankan hidup dan tetap dengan keyakinanya yaitu Islam, sedangkan Belanda datang disamping menguasai Minahasa juga untuk memberikan pekabaran Injil bagi Masyarakat Minahasa dengan segala fasilitas penujangnya.
Lepas dari agama Kristen, suku bangsa Minahasa mempunyai kepercayaan tersendiri yang asli Minahasa yaitu menurut E.V.Adam didalam bukunya ”Kesusastraan Kebudayaan dan Cerita Cerita Peninggalan Minahasa” menulis:

Bahwa segala kepala kepala agama zaman purba Minahasa ( Alifuru ), apabila mereka hadir dalam upacara foso ( korban ) yaitu upacara untuk mempersembahkan sesuatu kepada Yang Maha Tinggi, maka mereka memuji dan memuja untuk menyempurnakan ketaatan mereka sambil kepala kepala agama itu melalukan corak dan bentuk persemahannya menurut ajaran dari Ilah yang pertama dan paling Tua.
Adapun Ila yang pertama dan paling Tua dan paling bijaksana itu adalah KAREMA ( Kadema ).
Menurut cerita bahwa Karema itu masuk dunia ini ia tiada dilahirkan , ia masuk dunia dengan kuasa gaib dan ajaib dengan pribadi sempurna, keluar dari pecahan batu.
Selaku Ilah ia menjadi kepala agama dan mengatur adat istiadat sambil memberikan pelajaran pelajaran.
Mula mula kepada Lumimu’ut dan To’ar.
Perkataan perkataan dan kalimat kalimat memuja dan memuji itu sekaliannya mempertinggi ,mempermulia,menghormati dan menjunjung Yang Maha Tinggi.
Kalimat kalimat itu menanamkan dengan penjelasan paling tepat bahwa adalah satu Ilah yang paling berkuasa yang bergelar:

OPO’ WAILAN WANGKO, OPOMANEMBO NEMBO, OPO RENGA RENGAN, minema tana’ wo langit ( Ilah yang kaya raya dan maha besar, Ilah yang melihat keseluruhan Dunia, Ilah yang lahir dan seumur dengan Dunia, yang sudah ciptakan Bumi dan Langit).

Pertanyaan sejak kapan kepercayaan suku Minahasa ini berawal.
Perhitungan dimulai berdasarka tahun kalender suku Minahasa.
Perhitungannya dimulai pada zaman Pembagian atau zaman PINAWETENGAN UN NUWU bertempat disuatu dataran tinggi dikaki gunung Toundurutan yang sekarang disebut Touderukan.
Untuk mengembalikan kenang kenangan zaman PINAWETENGAN UN NUWU itulah maka didirikan sebuah batu peringatan: “WATU PINAWTENGAN” ( batu tempat pembagian ) yang terletak di negeri Pinabetengan sekarang.
Alasan perhitungannya adalah sebagai berikut:

Tiap 3 garden (derajad) = 100 tahun.
Dalam tahun 1931, maka dalam simpanan beberapa keluarga di Minahasa masih ada silsilah dengan perhitungan 24 derajad.
24 derajad = 8 x 3 derajad = 100 tahun.
8 x 100 tahun + 100 tahun = 900 tahun.
Tahun 1931 dikurangi 900 tahun = 1031 tahun, itulah dimulainya ZAMAN KAREMA, LUMIMU’UT dan TO’AR.
Menurut riwayat, maka orang MINAHASA pertama ialah Lumimu’t seorang wanita.
Lumimu’ut seorang manusia legendaris, diam ditempat yamg bernama Tu’ur in tana’ ( tanah leluhur ).
Ditempat ini secara legendaris pula diceritakan kelahiran anaknya laki laki TO’AR.
Setelah ia dewasa atas sesuatu anjuran, ibu dan anak mengelilingi dunia untuk mencari jodoh masing masing.
Setelah mereka bertemu disuatu tempat mereka mempersamakan tongkat yang ada pada masing masing .
Setelah mereka bertemu disuatu tempat mereka mempersamakan tongkat yang ada pada masing masing ( tongkat tongkat itu terdiri dari batang goloba ( Tuis ) dan ternyata bahwa tongkat tongkat itu tidak sama panjang lagi, maka ini berarti bahwa mereka bukan ibu dan anak, tetapi asing satu sama lain.
Kemudian mereka menjadi suami istri.
Turunan mereka ada banyak sekali yang sekarang ini adalah suku Minahasa.
Oleh karena itu maka tanah Minahasa disebut juga ”TANAH TO’AR DAN LUMIMU’UT”.

XII.INTERAKSI DENGAN MASYARAKAT
MINAHASA

Masyarakat Kampung Jawa Tondano sudah merupakan satu kesatuan dengan masyarakat Minahasa.
Coba disimak apa kata para kepala Walak Tonsea, OPO RUNTUPALIT RUMBAYAN (OPO’ SOKOMEN) dengan Kepala Walak Tondano, OPO’ TOMBOKAN dalam dialaog berikut ini.

Opo’ Sokomen : Inikah mereka mereka itu orang Jawa yang digambarkan oleh Belanda kepda kita sebagai orang buangan, karena suka melawan dan berontak?
Opo’ Tombokan : Ya, mereka berontak kepada Belanda tetapi tidak terhadap kita.
Lihat saja adat mereka mereka adalah baik baik.
Yang muda muda itu sangat hormat dan turut semua nasihat orang tua tua.
Kita tidak boleh terlalu percaya kepada Belanda, siapa tahu dia mau kasih berkelahi kitaorang dengan orang orang Jawa tadi.
Opo’ Sokomen : Siapa pula lagi yang suka berkelahi dengan orang orang yang selalu bersebahyang itu dan sesudah itu segeralah mereka kepekerjaan masing masing.
Sesungguhnya kita harus mengikuti contoh contoh yang mereka sudah lakukan, terutama tentang bercocok tanam.
Opo’ Tombokan : Saya merasa sangat tertarik kepada orang orang muda Jawa itu yang punya mata tajam semacam mata burung alap alap, sambil menunjuk kepada Ghazali Mojo, anaknya Kyai Mojo.
Opo’ Sokomen : Tetapi itu pemuda Tumenggung Sis yang punya urat kawat tulang besi itu dalam segala hal sangat mengagumkan.
Dia sedikit bicara banyak bekerja.

Akhirnya dikemudian hari Kyai Ghazali Mojo menjadi anak mantu Opo Tombokan dan Tumenggung Sis Pajang menjadi anak mantu dari Opo Sokomen Rumbayan.
Adapun pandangan dari pada dialog diatas tidak mungkin keliru, karena seseorang yang menjabat Kepala Walak sekaligus ia adalah Pengetua Adat yang disegani dan dihormati.
Adat Minahasa adalah:
“I PA TU TUA PELE PELENG, I PATU TUA NI BAYA WAYA”
Orang tua dihormati oleh yang muda muda dan menuruti nasihat nasihat.
Ini adalah tanda tanda budi pekerti yang tinggi.
Selanjutnya oleh karena persahabatan Kyai Mojo dengan Kepala Walak Tonsea dan Tondano semakin erat, disuatu saat dia menyampaikan lamaran kepada Opo Sokomen untuk melamar putri bungsunya yang bernama Wurenga ,umur 17 tahun bagi senopatinya Tumenggung Zees Pajang secara Islam yang umurnya 20 tahun. , dan peminangan akan dilakukan oleh tuan Residen dari Manado.
Walaupun Opo Sokomen yag fanatik keras dengan adat Minahasa dan berfikir keras mengenai “secara Islam” tapi akhirnya dia menyetujui maksud itu karena sudah lama Opo Sokemen mengaguminya dan juga putrinya ada menaruh hati.
Demikianlah, maka residen Pietermaat tidak membohongi kata katanya dahulu, segeralah dia dengan menunggang kudanya diikuti oleh ajudannya menuju Tonsea Lama untuk melakukan peminangan kepada Pangatua Adat Walak Tonsea Runtupalit Rumbayan, memperjodohkan pemuda Tumenggung Sis Pajang dan putri bungsu Opo Sokomen, Wurenga.
Dan sebagai oleh oleh untuk kedua calon pengantin itu residen Pietermaat menghadiakan seperangkat pakaian kawin kha kraton Jokyakarta yang telah dipesan melalui reside Joyakarta Van Nes.
Sebelum pesta dilangsungkan maka Runtupalit Rumbayan mengundang kaum krabatnya yang berada di Kema, Amurang.
Maka datanglah memenuhi undangannya yaitu Opo Tumbelaka bersama keluarganya dari Amurang termasuk dua putrinya.
Demikian juga yang hadir adalah Penetua adat Toulour ( touliang-Toulimabot ) diantaranya terdapat Opo’Tombokan beserta keluarganya dan putrinya bernama Ringkingan.
Maka pesta perkawinan itu dilaksanakan secara Islam, berlangsung dirayakan, dengan menurut adat istiadat Minahasa disatu pihak dan adat Jawa dipihak lain selama tujuh hari tujuh malam.
Perayaan dimeriahkan dengan tarian Maengket dan Masambo yang dibawakan oleh Tona’as Tona’as sebagai dalang dan diikuti oleh masyarakat sekitarnya dimana terdapat puluhan gadis gadis Minahasa yang cantik cantik, dan tarian tarian Jawa.
Adegen adgen itu yang telah dipertontonkan telah membuat gadis gadis lainnya terpesona dan terjadilah perkawinan selanjutnya.

Kyai Ghazali Mojo putra Kyai Mojo dengan putri gadis terbungsu Opo’ Tombokan, pendiri Negri Tondano di Papal ( Uluna ), hulu sungai Tondano bagian Barat ( Tondano Tua ).
Tumenggung Reksonegoro Kyai Pulukadang dengan salah seorang putri Opo’ Tumbelaka dari Amurang ( Minahasa Selatan ).
Tumenggung Bratayudo dengan salah satu putri Opo’ Tumbelaka juga.
Ngiso (Isa) Pulukadang dengan putri dari Opo’Pakasi Warouw.
Dan masih beberapa lagi pemuda dari rombongan yang kawin dengan gadis gadis Minahasa.
Dengan demikaian maka nama nama kelurga ( marga, Fam ) seperti : Wagey, Maukar, Ranti, Ratulangi, Kawilarang, Kumaunang telah mengasimiliser dengan nama nama dari orang Jawa itu.
Didalam perkembangan selanjutnya menyusul nama nama fam, Malonda, Lengkong,Supit,Karinda,dan masih banyak lagi.
Masyarakat Kampung Jawa Tondano, mengikuti kebudayaan Minahasa dengan memakai nama Fam ( Marga ) dibelakang namanya, tidak seperti di Jawa ( tidak memakai Marga ).

XII. POPULASI PENDUDUK
KAMPUNG JAWA TONDANO.

Berdasarkan data data dan sensus penduduk maka populasi penduduk Kampung Jawa Tondano adalah sebagai berikut:

1830 - 60
1846 - 273
1854 - 315
1902 - 1300
1965 - 2015
1976 - 2120
2007 – diperkirakan saat ini 50.000 Orang dengan uraian:
5.000 orang Di Kampung Jawa Tondano.
20.000 orang tersebar dibeberapa daerah Minahasa seperti Manado,Pineleng,Sarongsong,Winetin,Doloduo,Tumpaan,Bitung.
25.000 orang diluar Minahasa, Gorontalo, Maluku, Jakarta, serta di daerah lain di Indonesia.
Dengan adanya data ini kalau diuruti sejak kedatangan pertama kali, dimana jumlahnya hanya 60 orang atau hanya sekitar 0,001% dari seluruh penduduk Minahasa pada waktu itu yang berjumlah 80.000 orang.
Saat ini peta Minahasa sudah berubah, dimana jumlah penduduk Kampung Jawa Tondano yang ada di Minahasa sudah berjumlah 25.000 orang dari total 304.298*) orang penduduk Kabupaten Minahasa ( Induk ) atau sekitar 8,2%.

*) Sumber Pemda Kabupaten Minahasa ( Induk )

PENDUDUK KABUPATEN MINAHASA
Jumlah penduduk Kabupaten Minahasa sampai dengan bulan Juni tahun 2006 ,adalah 304.298 Jiwa.
kabupaten Minahasa memiliki masyarakat dengan dominasi etnis minahasa yang mendiami daerah pegunungan dan pesisir yang tersebar dalam 18 kecamatan.
Jumlah penduduk dan kepadatannya menurut kecamatan adalah sebagai berikut :

KECAMATAN JUMLAH
PENDUDUK KEPADATAN
PER KM
TONDANO UTARA 10.064 374
TONDANO BARAT 18.588 547
TONDANO SELATAN 17.196 126
TONDANO TIMUR 13.903 381
LANGOWAN BARAT 18.873 364
LANGOWAN SELATAN 8.057 15
LANGOWAN TIMUR 17.773 130
KAKAS 22.177 184
TOMPASO 14.535 491
REMBOKEN 11.488 202
KAWANGKOAN 26.218 532
TOMBARIRI 25.512 180
SONDER 18.114 319
ERIS 12.843 320
LEMBEAN TIMUR 8.855 131
KOMBI 11.133 92
PINELENG 34.822 250
TOMBULU 14.147 164
JUMLAH 304.298 273

XIII. EXPANSI KAMPUNG JAWA TONDANO

Mengingat jumlah penduduk Kampung Jawa Tondano bertambah, sedangkan lahannya hanya itu itu saja, masih seperti dulu, maka masyarakat Kampung Jawa harus mencari alternatif untuk mencari tempat tinggal.
Dapat dijelaskan disini bahwa masyarakat Kampung Jawa Tondano sejak dulu sampai sekarang tidak pernah melakukan usaha usaha untuk memperluas lahan Kampungnya, oleh karena adanya SALING MENGHORMATI TETANGA TETANGGANYA.
Maka beberapa waktu kemudian dengan adanya hubungan yang sangat baik dengan masyarakat Minahasa sekitarnya dan juga dalam usaha perdagangan maka kampung Jawa kecil bermunculan antara lain:

1. Di desa Lotak dan diberi nama Pineleng.

2. Disebelah Utara Kampung Jawa, yang berdekatan dengan Tonsea Lama yaitu Tegal Rejo.

3. Di sebelah Timur Pegunungan Lembean dan diberi nama menurut bahasa daerah Tonsea “Winetin” artinya dipilih.

4. Disebelah Barat Daya pegunungan Masarang di Tomohon diberi nama “Sarongsong” artinya mata air.

5. Di Tuminting disebelah Utara Manado diberi nama Sumompo.

6. Yang terbesar adalah exodus ke Gorontalo yaitu di Kampung Reksonegoro dan Kampung Yosonegoro, dan walaupun mereka di Gorontalo bahasa mereka sehari hari adalah bahasa Tondano.

7. Di Amurang Minahasa Selatan yaitu di Tumpaan.

8. Di Tompaso Baru Minahasa Selatan yang berbatasan dengan Bolaang Mongondow ( Bojonegoro ), pada waktu program Kolonisasi – Watuseke ( 1924 ).

9. Di Dolodu’o – Dumoga Kabupaten Bolaang Mongondow.

10. Di Jailolo Halmehera – Maluku.

11. Di Bitung didesa Girian.

(www.paguyubanpulukadang.com)

By: Jessy Wenas

Pemimpin Minahasa jaman tempo dulu terdiri dari dua golongan yakni Walian dan Tona’as. Walian mempunyai asal kata “Wali” yang artinya mengantar jalan bersama dan memberi perlindungan.

Golongan ini mengatur upacara agama asli Minahasa hingga disebut golongan Pendeta. Mereka ahli membaca tanta-tanda alam dan benda langit, menghitung posisi bulan dan matahari dengan patokan gunung, mengamati munculnya bintang-bintang tertentu seperti “Kateluan” (bintang tiga), “Tetepi” (Meteor) dan sebagainya untuk menentukan musim menanam. Menghafal urutan silsilah sampai puluhan generasi lalu, menghafal ceritera-ceritera dari leluhur-leluhur Minahasa yang terkenal dimasa lalu.

Ahli kerajinan membuat pelaratan rumah tangga seperti menenun kain, mengayam tikar, keranjang, sendok kayu, gayung air.

Golongan kedua adalah golongan Tona’as yang mempunyai kata asal “Ta’as”. Kata ini diambil dari nama pohon kayu yang besar dan tumbuh lurus keatas dimana segala sesuatu yang berhubungan dengan kayu-kayuan seperti hutan, rumah, senjata tombak, pedang dan panah, perahu. Selain itu golongan Tona’as ini juga menentukan di wilayah mana rumah-rumah itu dibangun untuk membentuk sebuah Wanua (Negeri) dan mereka juga yang menjaga keamanan negeri maupun urusan berperang.

Sebelum abad ke-7, masyarakat Minahasa berbentuk Matriargat (hukum ke-ibuan). Bentuk ini digambarkan bahwa golongan Walian wanita yang berkuasa untuk menjalankan pemerintahan “Makarua Siouw” (9x2) sama dengan Dewan 18 orang leluhur dari tiga Pakasa’an (Kesatuan Walak-Walak Purba).

Enam leluhur dari Tongkimbut (Tontemboan sekarang) adalah Ramubene, suaminya Mandei, Riwuatan Tinontong (penenun), suaminya Makaliwe berdiam di wilayah yang sekarang Mongondouw, Pinu’puran, suaminya Mangalu’un (Kalu’un sama dengan sembilan gadis penari), Rukul suaminya bernama Suawa berdiam di wilayah yang sekarang Gorontalo, Lawi Wene suaminya Manambe’an (dewa angin barat) Sambe’ang artinya larangan (posan). Maka Roya (penyanyi Mareindeng) suaminya bernama Manawa’ang.

Sedangkan enam leluhur yang berasal dari Tombulu adalah : Katiwi dengan suaminya Rumengan (gunung Mahawu), Katiambilingan dengan suaminya Pinontoan (Gunung Lokon), Winene’an dengan suaminya Manarangsang (Gunung Wawo), Taretinimbang dengan suaminya Makawalang (gunung Masarang), Wowriei dengan suaminya Tingkulengdengan (dewa pembuat rumah, dewa musik kolintang kayu) Pahizangen dengan suaminya Kumiwel ahli penyakit dari Sarangsong.

Sementara itu enam leluhur yang berasal dari Tontewo (wilayah timur Minahasa) terdiri dari Mangatupat dengan suaminya Manalea (dewa angin timur), Poriwuan bersuami Soputan (gunung Soputan), Mongindouan dengan suaminya Winawatan di wilayah Paniki, Inawatan dengan suaminya Kuambong (dewa anwan rendah atau kabut), Manambeka (sambeka sama dengan kayu bakar di pantai) dewa angin utara, istrinya tidak diketahui namanya kemudian istri Lolombulan. Pemimpin panglima perang pada jaman pemerintahan golongan Walian adalah anak lelaki Katiwei (istri Rumengan) bernama Totokai yang menikah dengan Warangkiran puteri dari Ambilingan (istri Pinontoan).

Pada abad ke-7 telah terjadi perubahan pemerintahan. Pada waktu itu di Minahasa – yang sebelumnya dipegang golongan Walian wanita - beralih ke pemerintahan golongan Tona’as Pria. Mulai dari sini masyarakat Matriargat Minahasa yang tadinya menurut hukum ke-Ibuan berubah menjadi masyarakat Patriargat (hukum ke-Bapaan)., Menjalankan pemerintahan “Makatelu pitu (3x7=21)" atau Dewan 21 orang leluhur pria.

Wakil-wakil dari tiga Pakasa’an Toungkimbut, Toumbulu, Tountowo, mereka adalah ; Kumokomba yang dilantik menjadi Muntu-Untu sebagai pemimpin oleh ketua dewan tua-tua “Potuosan” bernama Kopero dari Tumaratas. Mainalo dari Tounsea sebagai wakil, Siouw Kurur asal Pinaras sebagai penghubung dibantu Rumimbu’uk (Kema) dan Tumewang (Tondano) Marinoya kepala Walian, Mio-Ioh kepala pengadilan dibantu Tamatular (Tomohon) dan Tumilaar (Tounsea), Mamarimbing ahli meramal mendengar bunyi burung, Rumoyong Porong panglima angkatan laut di pulau Lembe, Pangerapan di Pulisan pelayaran perahu, Ponto Mandolang di Pulisan pengurus pelabuhan-pelabuhan, Sumendap di Pulisan pelayaran perahu, Roring Sepang di awaon Tompaso, pengurus upacara-upacara di batu Pinawetengan, Makara’u (Pinamorongan), Pana’aran (Tanawangko), Talumangkun (Kalabat), Makarawung (Amurang), REPI (Lahendong), Pangembatan (Lahendong).

Dalam buku “Toumbulusche Pantheon” tulisan J.G.F. Riedel tahun 1894 telah dikemukakan tentang sistem dewa-dewa Toumbulu yang ternyata mempunya sistem pemerintahan dewa-dewa seluruh Minahasa dengan jabatan yang ditangani leluhur tersebut. Pemerintahan golongan Tona’as abad ke-tujuh sudah punya satu pimpinan dengan gelar Muntu-Untu yang dijabat secara bergantian oleh ketiga sub-etnis utama Minahasa. Misalnya leluhur Ponto Mandolang mengatur pelabuhan Amurang, Wenang (Manado) Kema dan Bentenan dengan berkedudukan di Tanjung Pulisan. Tiap sub-etnis Minahasa mempunya panglima perangnya sendiri-sendiri tapi panglima perang tertinggi adalah raja karena dilantik dan dapat diganti oleh dewan tua-tua yang disebut “Potuosan”.

Dari nama-nama leluhur wanita Minahasa abad ke-7 seperti Riwuatan asal kata Riwu atau Hiwu artinya alat menenun, Poriwuan asal kata Riwu alat menenun, Raumbene asal kata Wene’ artinya padi, menunjukkan Minahasa abad ke-7 telah mengenal padi dan membuat kain tenun.

Oleh: Jessy Wenas

Walak dan Pakasa'an
Pengertian walak menurut kamus bahasa Tontemboan yang dikutip Prof G.A. Wilken tahun 1912 dapat berarti:

1. Cabang keturunan
2. Rombongan Penduduk
3. Bahagian Penduduk
4. Wilayah kediaman cabang keturunan.

Jadi Walak mengandung dua pengertian yakni Serombongan penduduk secabang keturunan dan wilayah yang didiami rombongan penduduk secabang keturuan.

Kepala walak artinya pemimpin masyarakat penduduk secabang keturunan,
Tu’ur Imbalak artinya wilayah pusat kedudukan tempat pertama sebelum masyarakat membentuk cabang-cabang keturuan.

Mawalak artinya membahagi tanah sesuai banyaknya cabang keturunan.
Ipawalak artinya membahagi tanah menurut jumlah anak generasi pertama, tidak termasuk cucu dan cicit.

Penelitian G.A. Wilken ini membantah laporan residen Belanda Wensel yang menulis bahwa arti kata Walak dari bahasa Melayu Balok karena Kapala Walak Minahasa harus menyediakan Balok kayu untuk pemerintah Hindi Belanda abad 18. Kata Walak adalah kata Minahasa asli di wilayah Tontemboan, Tombuluk, Tonsea dan Tondano. Jumlah Walak di Minahasa sebelum jaman Belanda tahun 1679 tidak kita ketahui, ketika Minahasa mengikat perjanjian dengan VOC Belanda, terdapat 20 Walak di Minahasa. Memasuki abad 19, jumlah Walak di Minahasa ada 27.

Penggabungan beberapa Walak yang punya ikatan keluarga dan dialek bahasa serta “Peposanan” membentuk satu “pakasa’an sehingga kepala-kepala Walak Pakasa’an Tombulu abad 17 haruslah keturunan dotu Supit, Lontoh dan Paat. Pakasa’an tertua menurut “A’asaren Tuah Puhuhna” tulisan J.G.F. Riedel tahun 1870 adalah Toungkimbut di wilayah selatan Minahasa sampai Mongondouw, Tountewoh di Tombatu sampai ke utara pantai Likupang disebelah timur Minahasa dan Tombulu dibelahan barat Minahasa dari Sarongsong sampai pantai utara Minahasa.

Menurut cerita beberapa tetua keluarga Minahasa, masih ada dua Pakasa’an dalam cerita tua Minahasa yang pergi ke wilayah Gorontalo (sekarang ini turunan opok Suawa) dan Tou-Ure yang tinggal menetap di pengunungan Wulur – Mahatus. Tou-Ure artinya orang lama. Menurut teori pembentukan masyarakat pendukung jaman batu besar atau “megalit” tulisan Drs. Teguh Asmar dalam makalahnya “Prasejarah Sulawesi Utara” tahun 1986. Jaman Megalit terbentuk sekitar 2500 tahun sebelum Masehi, contoh jaman batu besar adalah memusatkan upacara adat di batu-batu besar seperti Watu Pinawetengan. Jaman batu baru atau jaman Neoit di Sulawesi Utara dimulai tahun Milenium pertama sebelum masehi atau sekitar seribu tahun sebelum masehi. Contohnya pembuatan batu kubur Waruga. Pada waktu itu orang Minahasa yang berbudaya Malesung telah mengenal pemerintahan yang teratur dalam bentuk kelompok Taranak secabang keturunan misalnya turunan opok Soputan, Makaliwe, Mandei, Pinontoan, Mamarimbing, pemimpin tertinggi mereka adalah yang bergelar Muntu-Untu, yang memimpin musyarah di Batu Pinwetengan pada abad ke – 7.

Pakasa’an Tou-Ure kemungkinan tidak ikut dalam musyawarah di Pinawetengan untuk berikrar satu keturunan Toar dan Lumimuut dimana semua Pakasa’an menyebut dirinya Mahasa asal kata Esa artinya satu, hingga Tou-Ure dilupakan dalam cerita tua Minahasa. Belum dapat ditelusuri pada abad keberapa pakasa’an Tountewo pecah dua menjadi Pakasa’an Toundanou dan Tounsea hingga Minahasa memiliki empat Pakasa’an . Yakni Toungkimbut berubah menjadi Toumpakewa, Toumbuluk, Tonsea dan Toundanou. Kondisi Pakasa’an di Minahasa pada jaman Belanda terlihat sudah berubah lagi dimana Pakasa’an Tontemboan telah membelah dua wilayah Pakasa’an Toundanouw (lihat gambar) dan telah lahir pakasa’an Tondano, Touwuntu dan Toundanou. Pakasa’an Tondano teridiri dari walak Kakas, Romboken dan Toulour. Pakasa’an Touwuntu terdiri dari walak Tousuraya dan Toulumalak yang sekarang disebut Pasan serta Ratahan. Pakasa’an Toundanou terdiri dari walak Tombatu dan Tonsawang.


Wilayah walak Toulour agak lain karena selain meliputi daratan juga membahagi danau Tondano antara sub-walak Tounour yakni Touliang dan Toulimambot. Yang tidak memiliki Pakasa’an adalah walak Bantik yang tersebar di Malalayang, Kema dan Ratahan bahkan ada di Mongondouw-walaupun etnis Bantik juga keturunan Toar dan Lumimuut.

Menurut legenda etnis Bantik jaman lampau terlambat datang pada musyawarah di batu Pinawetengan. Ada tiga nama dotu Muntu-Untu dalam legenda Minahasa yakni Muntu-Untu abad ke-7 asal Toungkimbut (Tontemboan). Muntu-Untu abad 12 asal Tonsea-menurut istilah Tonsea. Dan Muntu-Untu abad 15 jaman Spanyol berarti ada tiga kali musyawarah besar di batu Pinawetengan untuk berikrar agar tetap bersatu.


Ratahan, Pasan, Ponosakan

Bahan data utama dari tulisan ini diambil dari buku terbitan tahun 1871. Pada awal abad 16 wilayah Ratahan ramai dengan perdagangan dengan Ternate dan Tidore, pelabuhannya disebut Mandolang yang sekarang bernama Belang. Pelabuhan ini pada waktu itu lebih ramai dari pelabuhan Manado. Terbentuknya Ratahan dan Pasan dikisahkan sebagai berikut; pada jaman raja Mongondouw bernama Mokodompis menduduki wilayah Tompakewa, lalu Lengsangalu dari negeri Pontak membawa taranaknya pindah ke wilayah “Pikot” di selatan Mandolang-Bentenan (Belang). Lengsangalu punya dua anak lelaki yakni Raliu yang kemudian mendirikan negeri Pelolongan yang kemudian jadi Ratahan, dan Potangkuman menikah dengan gadis Towuntu lalu mendirikan negri Pasan. Negeri Toulumawak dipimpin oleh kepala negeri seorang wanita bersuami orang Kema Tonsea bernama Londok yang tidak lagi dapat kembali ke Kema karena dihadang armada perahu orang Tolour.

Karena orang Ratahan bersahabat dengan Portugis maka wilayah itu diserang bajak laut “Kerang” (Philipina Selatan) dan bajak laut Tobelo.

Kepala Walak pada waktu itu bernama Soputan mendapatkan bantuan tentara 800 orang dari Tombulu dipimpin Makaware dan anak lelakinya bernama Watulumanap. Selesai peperangan pasukan Tombulu kembali ke Pakasa’annya tapi Watulunanap menikah dengan gadis Ratahan dan menjadi kepala Walak menggantikan Soputan yang telah menjadi buta. Antara Minahasa dengan Ternate ada dua pulau kecil bernama Mayu dan Tafure. Kemudian kedua pulau tadi dijadikan pelabuhan transit oleh pelaut Minahasa. Waktu itu terjadi persaingan Portugis dan Spanyol dimana Spanyol merebut kedua pulau tersebut. Pandey asal Tombulu yang menjadi raja di pulau itu lari dengan armada perahunya kembali ke Minahasa, tapi karena musim angin barat lalu terdampar di Gorontalo. Anak lelaki Pandey bernama Potangka melanjutkan perjalanan dan tiba di Ratahan.

Di Ratahan, dia diangkat menjadi panglima perang karena dia ahli menembak meriam dan senapan Portugis untuk melawan penyerang dari Mongondouw di wilayah itu. Tahun 1563 diwilayah Ratahan dikenal orang Ternate dengan nama “Watasina” karena ketika diserang armada Kora-kora Ternate untuk menhalau Spanyol dari wilayah itu (buku “De Katholieken en hare Missie” tulisan A.J. Van Aernsbergen). Tahun 1570 Portugis dan Spanyol bersekongkol membunuh raja Ternate sehinga membuat keributan besar di Ternate. Ketika itu banyak pedagang Islam Ternate dan Tidore lari ke Ratahan. Serangan bajak laut meningkat di Ratahan melalui Bentengan, bajak laut menggunakan budak-budak sebagai pendayung. Para budak tawanan bajak laut lari ke Ratahan ketika malam hari armada perahu bajak laut dirusak prajurit Ratahan – Pasan.

Kesimpulan sementara yang dapat kita ambil dari kumpulan cerita ini adalah
1. Penduduk asli wilayah ini adalah Touwuntu di wilayah dataran rendah sampai tepi pantai Toulumawak di pegunungan, mereka adalah keturunan Opok Soputan abad ke-tujuh.
2. Nama Opok Soputan ini muncul lagi sebagai kepala walak wilayah itu abad 16 dengan kepala walak kakak beradik Raliu dan Potangkuman
.
3. Penduduk wilayah ini abad 16 berasal dari penduduk asli dan para pendatang dari Tombulu, Tompakewa (Tontemboan), Tonsea, Ternate dan tawanan bajak laut mungkin dari Sangihe.
Peperangan besar yang melanda wilayah ini menghancurkan Pakasa’an Touwuntu yang terpecah menjadi walak–walak kecil yang saling berbeda bahasa dan adat kebiasaan yakni Ratahan, Pasan, Ponosakan. Masyarakat Kawanua Jakarta mengusulkan agar wilayah ini dikembalikan lagi menjadi Pakasa’an dengan satu nama Toratan (Tou Ratahan-Pasan-Ponosakan).

Karena negeri-negeri orang Ratahan, Pasan, Ponosakan saling silang, berdekatan seperti butir padi, kadele dan jagung giling yang diaduk menjadi satu. Penduduk wilayah ini memang sudah kawin-mawin sejak pemerintahan dotu Maringka akhir abad 18.

Kabupaten Minahasa Tenggara


SEJARAH suatu bangsa menjadi begitu bermakna sebagai ekspresi berbagai aspek kehidupan masyarakat dan pembanguannya, sekaligus dapat mencerminkan apresiasi jati diri manusianya hingga generasi ke generasinya. Dari landasan itu, dicoba untuk menelusuri sekilas historis tou Pasan, Tonsawang, Ponosakan dan Ratahan (Patokan) sebagai tou Minahasa Tenggara, tou Minahasa.

Dari Utara

Melalui penelusuran sejarah asal-usul tou Minahasa, khususnya tou Pasan, Tonsawang, Ponosakan, dan Ratahan (Patokan) beberapa pakar seperti AL Beekman, Dr Paul Sarasin, Dr Frits Sarasin, J Ch Gaterer dan O Lorensz menjelaskan, melihat ciri-ciri tou Minahasa umumnya yang bermata sipit hitam kecoklatan dan warna kulit lebih terang dari suku bangsa Indonesia lainnya, menyiratkan bahwa tou Minahasa adalah suku pendatang yang dari luar, boleh jadi berkeluarga dengan bangsa Jepang dan Mongolia.

Darinya para sejarawan Minahasa separti J.F. Malonda, (Membuka Tudung Dinamika Filsafat Minahasa Purba, 1951), H.M. Taulu (Sedjarah Minahasa, 1955) dan F. S. Watuseke (Sedjarah Minahasa, 1962) menyimpulkan, suku bangsa Minahasa bertalian dengan Jepang dan Mongolia. Kenyataannya dapat lihat dari bentuk tulang wajah (osteografi), rambut, mata, ruas buku anggota badan, pigmen, darah dan adanya persamaan unsur-unsur arsitek bangunan rumah dan bentuk waruga (Sejarah Minahasa, 1962). Mereka datang sekitar tahun 500 hingga tahun 200 sebelum masehi (zaman perunggu) atau zaman Melayu muda dengan mengarungi lautan, hingga tiba di Minahasa.

Dari pendapat di atas, Tandean, seorang ahli bahasa dan huruf Cina Kuno, 1997 datang meneliti di Watu Pinawetengan. Melalui tulisan “Min Nan Tou” yang terdapat di batu itu, ia mengungkapkan, tou Minahasa merupakan turunan Raja Ming dari tanah Mongolia yang datang berimigrasi ke Minahasa. Arti dari Min Nan Tou adalah “orang turunan Raja Ming dari pulau itu” Toar adalah seorang panglima perang kerajaan Ming, sedangkan Lumimuut merupakan putri Raja Ming. Suatu ketika kerajaan Ming mendapat serangan dari kerajaan tetangga dengan maksud untuk menguasai wilayah kerajaan Ming, namun peperangan itu dimenangkan oleh pasukan Toar. Kemudian Raja Ming menghendaki agar putrinya Lumimuut menikah dengan Toar, walaupun sesuai peraturan istana perkawinan itu tidak memungkinkan karena Toar bukan keturunan bangsawan (Roy E Mamengko,ed, Etnik Minahasa, 2002). Namun demikian Raja Ming tetap mengawinkan Toar dan Lumimuut, walaupun keduanya tidak boleh tinggal di dalam istana. Itu sebabnya setelah menikah, Toar dan Lumimuut bersama beberapa pengikut di antaranya seorang Walian (pemimpin agama) yang bernama Karema, Tonaas (pemimpin), Waraney (prajurit pemberani) dan beberapa rakyat biasa (petani), merantau dengan mengarungi lautan hingga tiba di pantai ujung utara Pulau Sulawesi dan berlabuh di tempat yang dinamakan Tinumpaan/Tumpaan, artinya tempat yang dituruni.

Dari Tumpaan mereka melakukan perjalanan ke arah barat hingga tiba di suatu dataran luas yang di tengahnya terdapat sebuah danau besar yang dinamakan Bulilin, artinya dipenuhi air, diapit oleh dua buah gunung, yaitu Gunung Soputan, artinya perkasa, dan Gunung Wulur Mahatus, artinya pegunungan seratus. Di tempat yang baru, Walian Karema mulai mengatur tempat pemukiman di empat lokasi, yaitu bukit Batu, Powod, Abur, dan Kali.
Perkawinan Toar dan Lumimuut, dikaruniai banyak anak (F.S Watuseke, Op.Cit, 1962). Kehamilan pertama dan kedua Lumimuut melahirkan dua kali kembar sembilan, sehingga anak–anak itu di namakan Se Makarua Siow (2x9). Kemudian saat melahirkan ketiga, keempat dan kelima, seluruhnya kembar tujuh dan anak-anak itu dinamakan Se Makatelu Pitu (3x7). Pada kelahiran yang keenam dan ketujuh, Lumimuut memperoleh kembar tiga. Namun anak-anak itu bukan dinamakan Se Makarua Telu (2x3) melainkan Se Pasiowan Telu, karena setiap kali anak-anak itu dilahirkan, disambut dengan siulan burung Manguni sebanyak sembilan kali. Kelompok Makarua Siow kemudian menjadi Walian, Makatelu Pitu menjadi Tonaas dan Pasiowan Telu, menjadi rakyat biasa.

Adapun empat buah perahu yang menyusul rombongan Toar dan Lumimuut, konon dua di antaranya berlabuh di Kema, kemudian mendirikan pemukiman di Minawerot, Kumelembuay dan Kalawat (Klabat). Satu buah perahu berlabuh di Atep. Mereka menuju ke sebelah barat dan menjumpai sebuah danau besar yang berada di tengah dataran tinggi dan memutuskan untuk bermukim di situ lalu mendirikan pemukiman Tataaran, Koya, Tampusu (Remboken) dan Kakas. Namun beberapa di antaranya, menyusuri pesisir pantai ke arah selatan hingga tiba di Bentenan dan sebahagian lagi di antaranya menuju ke sebelah barat lalu mendirikan pemukiman Tosuraya. Sedangkan satu buah perahu berlabuh di Pogidon kemudian mendirikan pemukiman Singkil dan Malalayang di sekitar Gunung Bantik.

Ketika penduduk di sekitar Danau Bulilin terus bertambah banyak, para Tonaas, Walian dan Potuusan berinisiatif mengadakan musyawarah untuk membicarakan tentang (Tumani) penyebaran penduduk ke berbagai penjuru di tanah Malesung. Tumani inilah yang dikatakan H. M. Taulu (Op. Cit, 1955) sebagai pemancaran pertama orang Minahasa. Di tempat yang baru, mereka bertemu dengan orang-orang lain yang bukan sekaum Taranak. Di antara turunan mereka, terjadi perkawinan campur sehingga dengan semakin banyaknya Taranak-taranak, maka terciptalah wanua (negeri).

Sebagaimana ketentuan adat, golongan Pasiowan Telu diwajibkan melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk kepentingan umum dan pinontol (bekerja kepada para pemimpin), seperti menanam dan menuai. Selain itu diwajibkan membagi hasil pertanian, peternakan maupun perburuan mereka kepada golongan Makarua Makasiow dan golongan Makatelu Pitu serta melakukan ketentuan-ketentuan adat misalnya mempersiapkan kurban persembahan setiap dilangsungkan ritual poso negeri dan menjaga keamanan negeri secara bergiliran (Drs. R. E. H. Kotambunan,Minahasa II & III, 1985).

Sekitar abad ke-5 terjadi pemberontakan dan peperangan dari golongan Pasiowan Telu karena tuntutan mereka agar tanah-tanah adat sebagai lahan pertanian yang sebagian besar sudah di-apar (diolah) sebagai milik golongan Makarua Siow dan Makatelu Pitu agar dibagi secara adil, menuntut agar sistem pengangkatan pemimpin tidak lagi bersifat otoritas golongan Makarua Siow dan golongan Makatelu Pitu, melainkan harus dipilih dari seluruh anggota masyarakat, tidak dikabulkan dengan alasan tidak sesuai dengan ketentuan adat.

Melihat peperangan antar Walak (kelompok Taranak) terus berlangsung, tahun 670, beberapa Walian dan Tonaas menyadari akan pentingnya suatu musyawarah di dalam usaha menciptakan kembali akan persatuan dan kesatuan yang berlangsung di sekitar kaki Gunung Tonderukan. Di tempat itu, terdapat sebuah batu “Tumotowa” tempat pelaksanaan ritual poso (J. G. F. Riedel, The Minahasa, 1862).

Kendati berlangsung alot, namun musyawarah yang dipimpin oleh Tonaas Kapero yang berasal dari kelompok Pasiowan Telu bersama Muntu Untu dari golongan Makarua Siow sebagai panitera/notulis dan Mandey sebagai saksi, berhasil mencapai beberapa kesepakatan penting, di antaranya:
- Menerima penetapan pembagian pemukiman setiap kaum Taranak
- Setiap kaum Taranak dapat mengembangkan ketentuan adat dan ritual yang tetap berlandaskan kepercayaan terhadap Empung Walian Wangko (Tuhan Yang Maha Agung) dan opo (leluhur).
- Setiap kaum Taranak dapat mengembangkan bahasa sesuai kehendak masing-masing, namun semuanya tetap mengaku sebagai satu Kasuruan, yang tidak dapat dicerai-beraikan oleh siapapun.

Selanjutnya pembagian wilayah pemukiman diatur sebagai berikut :
1. Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Mapumpun, Belung, dan Walian Kakamang menuju sekitar Gunung Lokon dan bermukim di Mayesu, dekat Kinilow dan Muung. Mereka disebut Tou Muung kemudian menjadi Tomohon. Mereka dinamakan Tombulu.

2. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Walalangi dan Walian Rogi menuju ke Niaranan dan Kembuan (Tonsea Lama). Sebagian lagi mendirikan pemukiman di sekitar Gunung Kalawat (Kalabat). Mereka disebut “Tou Un Sea” (Tonsea)

3. Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Karemis dan Piay, pergi ke arah barat dan menyebar ke Tombasian, Kawangkoan, Langowan, Rumoong (Tareran) dan Tewasen.

4. Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Pangemanan, Runtuwene dan Mamahit, menuju ke Kakas, Atep dan Limambot. Mereka dinamakan Toulour.

5. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Wuntu, menuju ke Bentenan. Sebagian lagi mendirikan pemukiman di Ratan. Mereka disebut Ratahan. Yang menuju ke Towuntu (Liwutung), mereka disebut tou Pasan. Beberapa di antara tou Pasan mengadakan tumani dan bermukim di Tawawu (Tababo), Belang dan Watuliney, membaur dengan penduduk dari Taranak Ponosakan, yaitu keluarga Butiti, Wumbunan dan Tubelan yang datang dari Wulur Mahatus (Pontak). Mereka disebut tou Ponosakan.

6. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Kamboyan, menuju ke dataran sekitar Danau Bulilin, tempat asal mereka semula dan mendiami pemukiman di Bukit Batu, Kali dan Abur. Mereka disebut Toundanouw, artinya orang yang tinggal di sekitar air. Kemudian bangsa Belanda menamakan mereka Tonsawang, artinya orang yang suka menolong.

7. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Angkoy dan Maindangkay menuju ke arah barat hingga tiba di sekitar Gunung Bantik dan mendirikan pemukiman Malalayang. Beberapa di antara mereka pergi bermukim di Pogidon dan Singkil. Karena bermukim di sekitar Gunung Bantik, mereka dinamakan tou Bantik.

Adapun salah satu keputusan penting dari musyawarah di batu ‘’Tumotowa’’ yaitu pembagian wilayah, sehingga batu itu dinamakan ‘’Watu Pinawetengan’’, artinya batu tempat pembagian. Dalam perjalanan sejarah ternyata perang antar anak suku di Malesung masih sering terjadi, sehingga 1428 para pemimpin Minahasa kembali mengadakan musyawarah di sekitar Watu Pinawetengan. Adapun keputusan yang dicapai dalam musyawarah, yaitu: nama ‘’Malesung’’ diubah menjadi ‘’Minahasa’’, berasal dari kata esa (satu), diberi awalan ma dan sisipan in, maka terbentuklah kata ‘’Maha Esa’’ (menyatukan), kemudian menjadi ‘’Minahasa’’ (Dr. Godee Molsbergen, Geschiedenis Van De Minahasa, 1929), artinya yang menjadi satu, yaitu menyatukan seluruh anak suku Minahasa: Tontemboan, Tombulu, Tonsea, Toulour, Pasan, Ratahan, Ponosakan, Tonsawang dan Bantik.

Mengacu dari uraian di atas, itu berarti bahwa anak suku Patokan yang mendiami wilayah Minahasa Tenggara yang selama ini terkesan adalah pendatang baru, merupakan suatu kekeliruan, tetapi mereka adalah bagian dari satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan anak suku Minahasa lainnya.


Dalam Pusaran Peperangan

Tahun 1639 armada Spanyol memasuki pelabuhan Amurang. Di sana mereka melihat penduduk setempat memakan nasi. Mengetahui sumbernya berasal dari Tonsawang, bangsa Spanyol menuju ke sana dan menyaksikan betapa hasil beras dan hutan berlimpah. Penduduk Tonsawang ketika itu dipimpin oleh Ukung Oki. Kemudian bangsa Spanyol menjalin hubungan dagang dengan cara tukar-menukar (barter). Semula bangsa Spanyol menunjukkan sikap bersahabat sehingga mereka diterima oleh penduduk pribumi, bahkan atas seizin Ukung Oki mereka diperkenankan mendirikan tempat penginapan di dekat bukit Kali. Tidak berselang lama, mereka berubah merasa berkuasa, menghina, dan memperkosa wanita setempat, hingga merampas harta benda. Akibatnya Ukung Oki, segera memanggil panglima perang Lelengboto, untuk melawan orang-orang Spanyol di tempat penginapan mereka hingga terjadi pertempuran dahsyat. Melihat keberanian pasukan Tonsawang, pasukan Spanyol mundur dan lari.

Pertempuran dahsyat ini mengakibatkan 40 pasukan Spanyol gugur dan pasukan Tonsawang 29 orang.

Tahun 1644 bangsa Spanyol kembali menduduki Amurang dengan maksud menuntut dan menguasai pembelian beras serta hasil bumi lainnya dari Tonsawang dan Pontak. Penduduk pribumi segera mengangkat senjata lalu terjadi pertempuran yang sengit. Dalam pertempuran itu 100 pasukan Spanyol tertawan dan terbunuh. Melihat keadaan demikian armada Spanyol pimpinan Bartholomeo de Sousa meninggalkan Amurang lalu menuju ke Filipina. Pasukan Tonsawang dan Tontemboan yang gugur antara lain: Panglima Monde gugur sewaktu melindungi istrinya Ukung Oki dan Panglima Worotikan. Atas kemenangan pasukan Ukung Oki, para pemimpin mengadakan musyawarah dan menetapkan memberi gelar kepada Ukung Oki sebagai Ukung Wangko dan Tonaas Wangko (hukum besar dan pemimpin besar) yang memimpin pemerintahan di lima wilayah Walak, yaitu Tombasian, Tonsawang, Pasan Ratahan dan Ponosakan. Benteng Portugis di Amurang dijadikan pusat pemerintahan Tonaas Wangko Oki.

Di dalam menjalankan tugas pemerintahannya, Tonaas Wangko Oki dikenal sebagai pemimpin yang arif dan bijaksana sehingga ia dihormati dan disegani. Walaupun sudah berstatus janda, namun kecantikannya tidak luntur bahkan semakin menarik.

Raja Bolaang Mongondow saat itu, Loloda Mokoagow sangat tertarik dengan kecantikan Tonaas Wangko Oki sehingga ia melamar Tonaas Wangko Oki untuk menjadi istrinya. Lamaran Raja Loloda Mokoagow diterima dengan syarat Raja Loloda Mokoagow menuruti permintaan Tonaas Wangko Oki, yaitu tanah luas yang terhampar dari Sungai Ranoyapo hingga Sungai Poigar sebagai dooho (mas kawin). Hamparan tanah tersebut adalah wilayah yang sudah lama menjadi sengketa antara Minahasa dan Bolmong. Permohonan Tonaas Wangko Oki disetujui Raja Loloda Mokoagow kemudian mereka berdua melangsungkan perkawinan. Dengan ditetapkannya batas antara Minahasa dan Bolmong yaitu Sungai Poigar di sebelah Barat dan Sungai Buyat di sebelah timur.

Setelah kawin dengan Raja Loloda Mokoagow, kepada Tonaas Wangko Oki diberikan gelar ratu karena sudah menjadi istri seorang raja. Sejak itu mereka tinggal dan menetap di Benteng Portugis, kompleks Gereja Sentrum Amurang. Kemudian Raja Loloda Mokoagow mendirikan sebuah pesanggrahan sebagai tempat istirahat di wilayah kerajaannya yang terletak di pelabuhan alam pantai utara. Tempat itu dinamakan Labuhan Oki.

Adapun pemerintahan Ratu Oki terus mengalami kemajuan pesat. Rakyatnya hidup makmur, aman dan tentram, ditopang oleh pasukan keamanan yang kuat. Bahkan kekuatan pasukan keamanan Ratu Oki sampai diketahui Raja Buitenzorg (Bogor) kemudian memohon bantuan agar kiranya dapat mengirim tentara Ratu Oki untuk memperkuat pasukan kerajaan Buitenzorg. Sebagai ucapan terima kasih, Raja Buitenzorg memberikan hadiah berupa uang dan medali sebesar teluritik yang terbuat dari berlian, di dalamnya bertuliskan Hadiah Raja Buitenzorg kepada RatuTonsawang atas bantuan dan jasanya kepada Raja Buitenzorg (P.A. Gosal, Ratu Oki, Srikandi Minahasa 2000).


Perang Patokan Melawan Belanda
Dengan diterimanya kontrak perjanjian 10 Januari 1679 yang dibuat Belanda, itu berarti Minahasa mengakui kekuasaan Belanda. Tetapi para Ukung dari Bantik, Tonsawang, Ratahan, Pasan dan Ponosakan tidak mau menerima perjanjian tersebut. Pihak Belanda beberapa kali mengadakan pendekatan dengan para Ukung di wilayah Patokan agar menerima perjanjian itu seperti halnya dengan para Ukung Minahasa lainnya. Sebagai tindak lanjut dari desakan pihak Belanda, maka pemimpin keempat Walak masing-masing: Ukung Rugian kepala Walak Tonsawang, Ukung Lokke kepala Walak Pasan, Ukung Watah kepala Walak Ratahan dan Ukung Mokolensang kepala Walak Ponosakan, sepekat mengadakan musyawarah, namun keputusannya tetap menolak perjanjian 10 Januari 1679 karena dianggap hanya menguntungkan pihak Belanda.

Melihat keteguhan prinsip mereka, pihak Belanda mengutus suatu pasukan di bawah pimpinan Sersan Smith melalui ekspedisi dengan kelengkapan perang melalui dua jalur, yaitu jalan darat dari sebelah utara dan laut melalui pelabuhan Belang untuk menggempur keempat wilayah itu. Walak Ratahan dan Ponosakan mendapat serangan mula-mula. Penduduk mengadakan perlawanan tetapi pasukan Belanda yang menggunakan perlengkapan perang yang modern saat itu, berhasil menghancurkan negeri Ratahan dan korban berjatuhan. Peristiwa yang sama juga terjadi di Ponosakan. 5 orang waraney dari Ratahan dan Ponosakan gugur. Dari Ratahan pasukan Belanda melanjutkan perjalanan menuju ke wilayah Walak Pasan dan Tonsawang. Setiba di Liwutung, pasukan dari Pasan dan Tonsawang langsung menghadang dan mengadakan perlawanan terhadap pasukan Belanda sehingga 40 penduduk bersama 5 orang Waraney gugur. Sejak saat itu wilayah Walak Ratahan, Ponosakan, Pasan dan Tonsawang secara resmi menerima perjanjian dengan Belanda, sama seperti Walak lainnya di Minahasa.


Kabupaten Minahasa Tenggara

Awal perjuangan pembentukan Kabupaten Minahasa Tenggara sudah mulai menggema sejak 1985, ketika anggota DPRD Kabupaten Minahasa saat itu mengadakan kunjungan ke wilayah selatan Kabupaten Minahasa, dimana beberapa tokoh masyarakat setempat mendesak agar Kabupaten Minahasa Selatan segera dijadikan sebagai daerah otonom. Bersamaan dengan itu aspirasi yang berkembang di Kecamatan Ratahan, Belang, dan Tombatu menginginkan agar wilayah itu layak diperjuangkan menjadi Kabupaten Minahasa Tenggara. Melalui sidang pleno DPRD Minahasa pada 11 Oktober 1985, berhasil memutuskan tentang pemekaran Kabupaten Minahasa Tenggara yang mendapat persetujuan dari pemerintah Kabupaten Minahasa saat itu yang diwakili oleh Sekwilda, Drs SH Sarundajang. Tetapi usulan itu tidak disetujui pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, dengan alasan bahwa pemekaran itu belum mendesak.

Tahun 2003 beberapa tokoh masyarakat di wilayah tenggara Minahasa kembali memperjuangkan Kabupaten Minahasa Tenggara, Januari 2004, terbentuklah Panitia Perjuangan Pembentukan Kabupaten Minahasa Tenggara (PPPKMT) dengan ketua, Dirk Tolu SH MH, Sekretaris Arce Manawan SE dan Bendahara Julius Toloiu SE. Sebulan kemudian PPPKMT mengajukan surat ke DPRD Kabupaten Minahasa dan Penjabat Bupati Kebupaten Minahasa Selatan, perihal pengusulan pembentukan Kabupaten Minahasa Tenggara. Sebagai tindak lanjut, Maret 2004, DPRD Kabupaten Minahasa membentuk panitia khusus dengan ketua Julius EA Tiow, Sekretaris Musa Rondo dengan anggota Ronald Andaria SAg dan Herman Tambuwun mengadakan kunjungan kerja ke wilayah Minahasa Tenggara untuk menampung aspirasi masyarakat. Selanjutnya Panitia Khusus DPRD Minahasa bertemu dengan Penjabat Bupati Minahasa Selatan Drs RM Luntungan untuk melaporkan tentang aspirasi masyarakat Minahasa Tenggara.

Untuk memberikan dukungan moril terhadap perjuangan pembentukan Kabupaten Minahasa Tenggara, 31 Januari 2006 terbentuk Forum Pendukung Perjuangan Pembentukan Kabupaten Minahasa Tenggara (FP3K MT) dengan ketua, Johanis Jangin SE, Sekretaris Teddy Rugian SSos yang nantinya mempresur politik ke pihak pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara dan pusat.

Selanjutnya secara berturut-turut, 29 Mei 2006 kunjungan Panitia AD HOC I Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI yang terdiri dari Hj Sri Kadarwati Aswin, Ir Marhany Pua, Lundu Panjaitan SH, Drs H Al Rasyid, Drs KH Marwan Aidid dan seorang staf, Mohamad Ilyas SIP. 27 Juni 2006, anggota Komisi II DPR RI, masing-masing Dr Abdul Gafur, Suyuti, Suyana beserta staf ahli DPR RI Yanuwar dan tim Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) pada 10 Agustus 2006, semuanya dalam rangka mengadakan peninjauan tentang kelayakan Minahasa Tenggara untuk menjadi sebagai kabupaten baru.

Pada 8 Desember 2006, di hadapan ratusan masyarakat Minahasa Tenggara yang hadir di gedung senayan Jakarta, dalam sidang paripurna DPR RI mengesahkan terbentuknya Kabupaten Minahasa Tenggara. Untuk menjalankan roda pemerintahan, pada 23 Mei 2007, Menteri Dalam Negeri Ad Interm, Widodo AS melantik Drs Albert Pontoh MM sebagai penjabat Bupati Kabupaten Minahasa Tenggara.


Tou Patokan Dalam Ke-Minahasa-an

Kendati secara pemerintahan Minahasa Tenggara sudah menjadi daerah otonom, namun sebagai satu kesatuan yang utuh dari Minahasa, maka seharusnya kita memahami makna yang terkandung dalam konteks Minahasa. Sebagaimana hasil musyawarah di Watu Pinawetengan 1428 atau Deklarasi Maesa II, yaitu nama Malesung diubah menjadi Nima Esa, Mina Esa, (Minahasa), artinya: ‘’Ya Setuju Semua Menjadi Satu’’.

Nama Minahasa mengandung suatu kesepakatan mulia dari para leluhur melalui musyarawarah dengan ikrar bahwa segenap tou Minahasa dan keturunannya akan selalu seia sekata dalam semangat budaya Sitou Timou Tumou Tou. Dengan kata lain tou Minahasa akan tetap bersatu (maesa) dimanapun ia berada dengan dilandasi sifat maesa-esaan (saling bersatu, seia sekata), maleo-leosan (saling mengasihi dan menyayangi), magenang-genangan (saling mengingat), malinga-lingaan (saling mendengar), masawang-sawangan (saling menolong) dan matombo-tomboloan (saling menopang). Inilah landasan satu kesatuan tou Minahasa yang kesemuanya bersumber dari nilai-nilai tradisi budaya asli Minahasa (Richard Leirissa, Manusia Minahasa, 1995).

Sebagai hasil dari peradaban, pendidikan dan budaya yang selalu ingin maju, sejak permulaan abad ke-19 tou Minahasa, di dalamnya tou Patokan bagaikan eksodus meninggalkan tanah leluhur, pergi ke berbagai pelosok Hindia Belanda (nusantara) menjadi sebagai guru injil dan guru sekolah, pengawas perkebunan pemerintah dan pegawai perusahaan swasta milik orang-orang Eropa di Jawa, pegawai pemerintahan, polisi dan tentara KNIL. Selain itu tou Minahasa menjadi pegawai pelayaran, jawatan kereta api, perusahaan minyak, mendirikan pers melayu di antaranya Koran Jawa, Kabar Perniagaan (1903) dan Jawa Tengah (1913) (David E.F. Henley Nasionalism And Regionalisme In Minahasa, 1996). Selanjutnya banyak di antaranya perantauan yang menggeluti profesi modern, seperti dokter, pengacara, insinyur, politikus dan pengusaha yang tersebar di berbagai tempat. Darinya, tou Minahasa termasuk pemerintah, menghormati setinggi-tingginya atas segala hasil usaha putra-putri Minahasa karena dengan saling bahu-membahu telah membawa kemajuan peradaban bagi sesama yang terkebelakang di kepulauan nusantara.

Kendati demikian dimanapun dan dalam keadaan apapun ia berada, tou Minahasa dengan bangga akan berkata,’’saya adalah orang Indonesia asal Minahasa, anak cucu Toar Lumimuut, putra-putri Kawanua’’. Pengembaraan tou Minahasa ke seluruh penjuru dunia telah memberinya berbagai pengalaman sosial, ekonomi, politik dan budaya berbagai bangsa, sekaligus tentang kesuksesan dan kegagalan yang kesemuanya dapat menjadi wacana dalam kerangka mencari jati diri tou Minahasa yang hakiki, yaitu tou ngaasan (pinter), tou beatean (beriman) dan tou keter (kuat dan bertanggung jawab).

Musyawarah Watu Pinawetengan di kaki Gunung Tonderukan, kini sudah membilang berabad-abad lamanya. Dalam kurun waktu teramat panjang, telah terbentang selaksa peristiwa silih berganti bagaikan pelangi yang menghiasi sejarah perjalanan hidup tou Minahasa. Hal ini berarti ke-minahasaan tetap dijiwai dalam ke-indonesia-an, bahkan dalam kemancanegaraan bagi setiap tou Minahasa dimanapun ia berada, sebagai bagian dari satu kesatuan Minahasa yang utuh.

Dengan demikian makna tou Patokan dalam konteks tou Minahasa; adalah menyangkut jiwa, kepribadian dan jati diri tou Minahasa. Jiwa, karena merupakan suatu yang utama, menjadi sumber tenaga dan kehidupan; di dalamnya mencakup seluruh keseutuhan perasaan batin, pikiran dan angan-angan, sehingga ia merupakan roh kehidupan dari setiap tou Minahasa. Sebagai kepribadian, karena ia merupakan seluruh dari sifat-sifat dan watak dari tou Minahasa, dan sebagai jati diri karena ia merupakan sesuatu yang asli dan murni sebagai ciri atau tanda pengenal tou Minahasa.

Hasil karya tou Minahasa/tou Patokan sebagai perwujudan dari potensi cipta, rasa, dan karsa itulah yang disebut sebagai budaya Minahasa dan sebagaimana layaknya suatu budaya, ia mengandung nilai-nilai dan norma-norma yang kemudian diaktakan dalam bentuk praktis yaitu suatu kekayaan rohani berupa pemikiran, yang kemudian diwujudkan dalam setiap ucapan dan perbuatan keseharian hidup sebagai tou Minahasa.#

*Tou Mitra, pemerhati sejarah budaya Minahasa

Artikel Terakhir

Komentar Terakhir

Website Tentang Sulawesi Utara

  • Bunaken
  • North Sulawesi
  • Tou Minahasa
  • World Ocean Conference