Showing posts with label Tempat Wisata Manado. Show all posts
Showing posts with label Tempat Wisata Manado. Show all posts

HIKAYAT PULAU LEMBEH
Oleh Grey Talumewo

Inilah hikayat Pulau Lembeh yang diceriterakan oleh tua-tua Malesung.
Adapun hikayat tua tanah Minahasa ini adalah kisah yang sangat kelam, terbungkus dengan kabut kegelapan ceritera purbakala, yang dituturkan secara turun-temurun oleh orang tua kepada anak cucu turun-temurunnya.


Adapun maka orang penduduk Mahasa pertama itu terdapatlah di hulu dan berdiam pada sembarang pinggir padang rata di atas daripada Wulur Mahatus pegunungan itu yaitu menandakan sipat antara tanah Malesung dan Bolaang Mongondow pada tempat yang disebut Mahawatu namanya.


Maka keluarlah dua orang dari tempatnya, yang satu tua dan yang lain muda yaitu Karema dan Lumimuut namanya. Kemudian Karema suruh Lumimuut menengada ke arah tenggara. Akhirnya hamillah Lumimuut, lalu pada masanya lalu bersalin seorang anak laki-laki, Toar namanya itu.


Maka anak itu dipiara oleh Karema sampai umurnya bertambah-tambah, pada akhirnya tiada dikenalnya lagi ibunya itu.
Akhirnya Toar dan Lumimuut ibunya itu menikah, dan mempunyai banyak anak. Merekapun itu berpindah tempat dan berdiam sebuah tempat bernama Watu Niutakan.


Adapun anak cucu Toar-Lumimuut itu menjadi tiga kaum besar yang dinamai Se Makarua Siow, Se Makatelu Pitu dan Se Pasiowan Telu.
Kaum Makarua Siow yaitu kaum pengatur segala ibadat dan adat. Merekalah kaum Walian dan Tonaas.


Kaum Makatelu Pitu yaitu kaum pamarentah Wanua dengan penjaga Tumani. Merekalah kaum pemerentah, Patu’an atau Paendon Tu’a panggilannya. Panjaga Wanua dengan Tumani itu Waranei panggilannya dengan kapala pasukan, Teterusan namanya.


Sedangkan kaum Pasiowan Telu itulah penduduk biasa. Merekalah rakyat biasa, petani, nalayan dan pencahari binatang di hutan.
Menurut yang empunya cerita itu, mereka berkembang biak sebanyak empat turun-turunan generasi di Watu Niutakan. Watu Niutakan itulah Pinontakan sebutan orang sekarang. Maka mereka menyebut bangsanya sendiri, Malesung namanya.


Adapun tempat mereka berdiam itu sudah penuh sesak adanya. Maka berpencarlah mereka untuk mencahari tempat yang baik baginya.
Maka keluarlah tiga puluh delapan taranak : kapala kaluarga bersama istri dan anak-anaknya bersama pengikutnya ke seluruh penjuru Malesung. Adapun taranak itu pergi dengan dua puluh lima rombongan besar berdiam di seluruh tanah Malesung, Malesung itulah tanah Minahasa.


Maka keluarlah rombongan ketujuh, Makaliwe beserta istrinya Rinuwatan-tinontoan dan empat anaknya itu pergi berdiam di tanah Mongondow itu.
Maka keluarlah rombongan Rumoyomporong beserta istrinya Paparayaanporong dan empat anaknya itu pergi ke sebelah timur tanah Malesung dan berdiam di suatu pulau yang dinamai kemudian Punten ni Rumoyomporong.
Punten ni Rumoyomporong itulah pulau Lembeh sekarang.


Kemudian berbantah-bantahan anak cucu Toar-Lumimuut itu. Se Pasiowan Telu itu yang merasa tidak puas akan peri dan laku kedua kelompok pimpinannya itu. Maka perbantahan huru-hara itu makin hari makin bertambah-tambah, timbul daripada kedengkian hati sehingga picalah pemberontakan Se Pasiowan Telu.
Pemimpin Se Pasiowan Telu yaitu Tonaas Kopero dari Tompakewa, Tonaas Muntu-untu dari Toun Bulu, Tonaas Mandey dari Tountewoh memimpin pemberontakan itu. Merekalah pemimpin foso pembagian tanah Malesung.
Maka diadakanlah foso pembagian atau Pinawetengan Posan serta Pahawetengan Nuwuh di tempat bernama Tumaratas. Tempat itu berada di sebelah utara Kuntung i Wailan, pegunungan itu. Itulah gunung yang dikuasai oleh Opo Soputan beserta istrinya Pariwuhan dengan sembilan anaknya.
Maka dibagikanlah tanah Malesung di utara pegunungan Kuntung i Wailan di atas sebuah batu bernama Watu im Pinawetengan. Di sablah utara gunung Tonderukan letaknya.


Maka bagian bangsa Tountewoh berkumpullah di bawah perintah Walalangi dan Rogi pada tempat bernama Niaranan tetapi berpindah pula ke tempat bernama Kembuan pada masa Wailan Umboh. Akhirnya di situ nama bangsa ini berganti menjadi Tounsea’. Maka keluarlah taranak-taranak dari Kembuan mendirikan beberapa tumani baru di tanah pakasaan Tounsea.


Maka keluarlah taranak tonaas-tonaas Rurugala, Wenas, Roringtudus, Maramis, Roringwailan, Sigarlaki dan Maidangkai, Runtukahu, Kapongohan dan Rotulung mendirikan beberapa tumani baru.


Maka taranak tonaas Kapongohan dan Rotulung mendirikan tumani’ - wanua Kema namanya. Taranak dari tonaas Rotulung inilah yang memerintah pakasaan Tounsea dengan nama baharunya Dotulong.
Maka dinamailah pulau itu oleh taranak pakasaan Tounsea – "Lembeh" namanya. Bermula dari kata Dembet yang artinya "di seberang air". Pakasaan Toulour pun menyebutnya "Lewet".


Akhirnya maka pada saat anak-anak bangsa Rumoyomporong itu berdiam di pulau yang disebut Punten ni Rumoyomporong – Pulau Rumoyomporong atau menurut bunyi tuturan adalah pulau Lembeh sekarang ini, maka datanglah bangsa-bangsa orang asing turunannya, berasal dari pihak seberang lautan Sendangan. Adapun pihak sendangan Malesung itu bernama Ternate. Merekalah taranak Mogogibun Roti. Dengan persetujuan serta persahabatan pula dari bangsa Rumoyomporong, mereka pun berdiam di pulau itu. Menurut yang empunya ceritera, taranak itu mendiami pulau Rumoyomporang pada abad kedua belas.


Bangsa asaing taranak Mogogibun Roti itupun mendirikan kerajaan Bolango. Mereka menyebut pulau Lembeh itu dengan nama lobe. Sebab kata mereka pulau itu "menjorok keluar". Bolango itupun berasal dari kata "Mobolango", artinya "menyeberang". Karena mereka menyeberang dari Pulau Batang Dua – Ternate namanya. Tersebutlah seorang kolano Bolango, Wintu-wintu namanya. Ia mempunyai seorang putera, Sari Wondo namanya, "sinar matahari" artinya.
Maka inilah kisah Pingkan Mogogunoy dan lakinya Matindas.


Tersebutlah Pingkan Mogogunoy, tinggal di Luaan Tana Wangko’ yaitu tanah Toun Wariri. Lakinya berasal dari Rano i tolang. Matindas namanya.
Maka patung wajah Pingkan Mogogunoy yang dijaga oleh lakinya Matindas jatuh ke tangan kolano Dodi Mokoagow. Menurut yang empunya ceritera, Dodi Mokoagow memerintah Mongondow pada tahun 1560 sampai tahun 1600. Jadi berpuluh-puluh tahun sebelum perang Toumbulu-Sepanyol. Kolano itulah Punuh Mongondow sebutan mereka.


Akhirnya diketahuilah gadis Pingkan Mogogunoy pemilik patung itu. Di Luaan Tanah Wangko’ letaknya. Itulah tanah Walak Toun Wariri. Maka berangkatlah Dodi Mokoagow bersama penggiringnya untuk bertemu Pingkan Mogogunoy.
Maka pemerintahan Mogondow itu diserahkan kepada Punu Mokodompit. Menurut yang empunya ceritera, Punuh Mokodompit kahwin dengan Wawu’ Mongiade dari Pulau Lembeh. Punuh sebelumnya juga kahwin dengan Wawu’ Ganting-ganting dari Mandolang. Tempat mereka memerintah ada di pinggir kuala Rano i Apo. Buyungon nama tempat itu, di tanah Toun Kimbut. Itulah tanah Tompakewa.


Maka larilah Pingkan Mogogunoy dan lakinya Matindas ke Walak Tounsea. Di Ma’adon tempatnya. Dekat wanua Kema. Maka, kolano Mokoagow pun mengejar jugalah mereka.


Akhirnya dengan akal Matindas maka tewaslah kolano Mokoagow di tangan serdadunya. Maka diadakanlah foso Mahapansa untuk membujuk roh kolano Dodi Mokoagow itu. Hanyalah orang Tounbulu, Toulour serta Tounsea yang mengikutinya. Cuma Tountemboan saja yang tidak mengikutinya. Mereka hanya menjadi tamu pelengkap foso karena tidak ikut terlibat dalam tewasnya kolano Mongondow itu.


Maka bangkitlah amarah bangsa Mongondow berperang dengan bangsa Malesung. Mereka memerangi semua keluarga anak cucu Toar-Lumimuut. Tiada tersisa. Apabila diketemukan anak cucu Toar-Lumimuut maka diperangilah mereka.


Maka datanglah tiga orang serdadu penggiring kolano Dodi Mokoagow ke Pulau Lembeh menceriterakan kematian punuh mereka. Maka kata Wintu-wintu, kepala bangsa Bolango itu, "Kalau demikian perbuatan orang Tounsea ini, esok hari juga kita pergi memerangi bangsa Rumoyongporong, sebab mereka itu juga bangsa Malesung.


Tersebutlah nama Mowoho, tonaas turunan Rumoyongporong itu. Didengarnyalah bunyi burung manguni. Beritanya buruk. Akan terjadi suatu celaka besar artinya. Maka berjaga-jagalah mereka supaya tidak menderita suatu celaka.


Maka persekutuan antara bangsa Rumoyomporong – yaitu bangsa taranak Toar-Lumimuut dengan bangsa asing Bolango itu, bubar karena bangsa asing itu adalah orang-orang perompak dan memerangi bangsa Malesung itu. Perbantahan huru-hara besar itu terjadi di atas pulau, sehingga banyak penduduknya pergi ke tempat lain dan menyeberanglah mereka kembali ke tanah besar. Itulah tanah Malesung.


Maka larilah Wintu-wintu bersama dengan bangsanya dan orang lainnya berperahu menuju ka fihak utara itu, serta singgahlah mereka itu pada beberapa tempat pesisir pulau-pulau Bangka, Talisei dan lain-lain. Karena mereka berperang di setiap tempat singgahnya, maka diusirlah bangsa itu oleh orang-orang di pulau-pulau itu. Sehingga pada akhirnya bangsa itupun berdiam di pinggir sungai besar Lombagian di tanah Mongondow di totabuan Molibagu namanya.


Maka wanua Kema menguasai pantai timur dan utara Malesung. Pulau Lembeh juga mereka kuasai. Taranak Rotulung atau Dotulong namanya, memerintah di wanua Kema. Dan Kema itulah pusat dari Pakasaan Tounsea’.


Maka wanua Kema, walau telah berkali-kali diserang oleh perompak-perompak, misalnya pada tahun 1677 dibakar oleh mereka, tetapi wanua Kema pun tetap berdiri tegar di tempatnya mula-mula.


Lapuran dari Tuan Gubernur Maluku di Ternate. Robertus Padtburgge namanya. Menurut tuturannya, pulau itu penting sekali dari ada sarang burung. Salimburung itulah nama burung berharga itu. Burung lelayang kecil itu yang memberikan lauk pauk itu pendek, kecil dan lebih menggemuk dan berparuh kecil, pipi hitam dengan suatu warna biru gelap mengkilap dan berekor pendek.
Pada tahun 1680 sampai tahun 1880, belum terdapat tanaman yang berarti di pulau Lembeh, kecuali sarang burung yang sangat mahal harganya. Delapan puluh pikul tiap tahun hasilnya. Pada tahun 1765 sampai tahun 1785 maka harga satu pon ada dua ringgit emas. Sebab itulah penjagaan di sana sangat ketat. Penjagaan ini dipegang oleh Ukung Um Balak Tonsea. Penjagaan ketat terhadap pulau Lembeh sejak tahun 1760 telah diserahkan sepenuhnya kepada Xaverius Dotulong.


Penduduk Tonsea tiada menerima penguasaan itu. Karena pulau itu milik Walak Tonsea. Pulau ini adalah tempat yang ditakuti, sebab terkadang menjadi sarang perompak Mangindano, Ternate, Tidore, kerajaan Utara dan lainnya.
Maka Ukung Tu’a Kema, Runtukahu namanya, bertanggung jawab atas keamanan di pulau itu. Maka anaknya pula kemudian menerima tanggung jawab itu. Ukung Tu’a Xaverius Dotulong namanya.


Maka Tuan Gubernur Maluku mengganti hak kuasa atas pengambilan sarang burung di pulau Lembeh menjadi hak milik dari walak Tounsea, khususnya keluarga Ukung Tu’a Xaverius Dotulong. Demikian keputusan itu telah dibuat dan diberikan di Ternate dalam Castel Oranye pada tanggal 17 April 1770 oleh Tuan Gubernur Maluku Hermanus Munnik.


Walaupun telah ada surat bukti penguasaan atas pulau Lembeh tersebut kepada Ukung Kema Xeverius Dotulong, maka Ukung Walak berjumlah enam walak. Mereka itulah Ukung Walak Manado, Bantik, Klabat Bawah, Ares, Klabat Atas dan Likupang.


Maka anak turunan dari Ukung Kema Xaverius Dotulong ini ada empat orang banyaknya. Merekalah Rumondor yang diseranikan menjadi Willem Dotulong beristri Wulan Wawolangi, Ukung Supit Dotulong beristri Ampe Walewangko, Watok Dotulong bersuami Dendeng, dan Lumolindim Dotulong bersuami Nelwan.
Maka anaknya Rumondor bernama serani Willem Dotulong menjadi Kepala Walak Tonsea. Adiknya menjadi Ukung Tu’a Kema, Supit Dotulong namanya.
Maka anak Rumondor bernama serani Willem Dotulong, berjumlah enam orang. Maka seorang anaknya bernama Waro’ Welong bernama serani Gerard Willem Dotulong kawin dengan nona Sonder, Porongkahu Walewangko namanya.
Maka anak Waro’ Welong bernama serani Gerard Willem Dotulong mempunyai enam orang anak banyaknya.


Maka seorang anaknya bernama Tololiu bernama serani Hermanus Willem Dotulong menjadi Kepala Walak Sonder. Tololiu itulah anak Welong, cucu Rumondor, cece Xaverius Dotulong, pemilik pulau Lembeh.


Tololiu bernama serani Hermanus Willem Dotulong inilah yang memimpin Pasukan Tulungan. Pasukan Tulungan sebanyak seribu ampat ratus orang banyaknya pergi menolong serdadu Belanda berperang melawan pemberontakan di Jawa. Pemberontakan itulah yang bernama Perang Jawa. Kemudian anak buahnya menangkap Pangeran pemberontak itu tahun 1930 dan mengasingkannya di Tondano.


Demikianlah hikayat pulau Lembeh, tanah milik orang Kema, yaitu tanah dari anak cucu Toar-Lumimuut.
(30-31 Mei 2006)

Monumen Tuhan Yesus Memberkati

Monumen Tuhan Yesus Memberkati dibuat oleh Ir. Ciputra terletak di ketingian 160 m dari permukaaan laut membuat Citraland Manado memiliki pemandangan kota Manado dan laut Bunaken yang indah dan eksotis untuk dinikmati. Monumen itu sendiri terletak di atas bukit Royal Highland setinggi 32 m dari jalan utama membuat monumen tersebut menjadi sangat artistik dan indah. Peletakkan batu pertamanya dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Utara, Bpk. Drs. Sinyo Harri Sarundajang beserta para Hamba Tuhan dan pemimpin Gereja dari berbagai denominasi ini direncanakan akan diresmikan pada, Minggu, 4 November 2007.

Berhasil dicatatkan dalam Museum Rekor Indonesia sebagai patung yang tertinggi di empat benua, yaitu Asia, Eropa, Afrika dan Australia. Patung yang diberi nama Monumen Tuhan Yesus Memberkati itu merupakan patung tertinggi kedua di dunia setelah patung Yesus di Brazil. Patung setinggi 30 meter yang dibangun dalam tempo enam bulan yang berdiri tegak diatas ketinggian 242 meter dari permukaan laut ini berada di Kelurahan Tineleng, Manado.

Monumen dengan kemiring-an 20 derajat ini, dibawah ada beberapa patung Malaikat dan juga patung manusia yang menggambarkan penderitaan rakyat Minahasa saat pemerintahan Belanda yang di desain oleh orang belanda. Dan juga beberapa tulisan ayat alkitab serta lambang - lambang Minahasa. Silahkan anda bisa melihat foto untuk lebih jelas



Anda dapat klik gambar untuk memperbesar foto. Ini hanya sebagian kecil foto, ada sekitar 200 foto Monumen Tuhan Yesus Memberkati dan juga foto perumahan di Citraland Manado. Jika anda klik foto maka anda akan masuk ke dalam album foto dan dapat melihat 200an foto satu persatu, selamat melihat keindahan.

Sumber:
Minahasa http://www.rykers.org/monumen-tuhan-yesus-memberkati

Airmadidi. Merunut namanya, ‘airmadidi' berarti air mendidih. Nama yang diberikan buat mata air panas berkhasiat membersihkan kulit. Sebuah tempat legendaris dekat Tomohona --sekitar satu jam dari Manado, ibukota provinsi Sulawesi Utara-- di mana pernah ada sembilan bidadari mandi saat bulan purnama dan satu dari mereka kehilangan bajunya hingga tak bisa pulang ke kayangan -mengingatkan saya pada legenda Nawangwulan dan Jaka Tarub dalam khazanah folklore Jawa.

Tapi ketertarikan saya di sini bukan bidadarinya, justru makam zaman kunonya. Tepatnya berlokasi di kawasan Airmadidi Bawah. Di tempat ini terdapat kompleks pemakaman pre-Christian atau masa sebelum Kristen masuk ke Manado, yang disebut waruga.
Berupa peti-peti kubur yang terbuat dari batu dan tidak ditanam dalam tanah, tapi diletakkan di atas tanah lapang. Bentuknya bisa persegi panjang atau kubus, dengan ketinggian berkisar 150 cm di atas tanah. Pada bagian atapnya dipahat aneka ragam hias yang menggambarkan wajah pria, dewa-dewa maupun atap rumah.

Menurut kepercayaan setempat di masa itu, orang wafat harus ‘dipulangkan' ke alam baka sebagaimana posisinya dalam rahim. Hingga mereka tidak berbaring telentang, tapi dibuat dalam kondisi seperti janin, yaitu meringkuk atau disebut foetal position.

Urut-urutannya, jenazah disucikan dan diberi mantra serta sesaji. Lantas diarak keliling desa sebanyak tiga kali yang melambangkan perpisahannya dengan dunia fana, lalu posisinya dibuat seperti janin dan dimasukkan ke dalam waruga beserta barang-barang pendamping kesehariannya. Seperti senjata tradisional atau peranti kerjanya. Juga disertakan emas dan berbagai perhiasan yang dipercaya tetap akan ia gunakan di alam baru nanti.

Masyakarat kawasan ini senantiasa menggunakan waruga sebagai sarana pemakaman sanak keluarga mereka sampai sekitar abad ke-17. Baru berakhir ketika pemerintah Hindia Belanda melakukan larangan pemakaian makam waruga ketika terjangkit wabah penyakit, yang diduga kaum penjajah endeminya berasal dari jasad yang tidak dikubur dalam tanah.

Waruga

Waruga, Rumah bagi Badan yang Akan Hancur


Kompas/agus susanto

JIKA Anda pencinta komik Asterix, Anda pasti mengenal si gendut Obelix yang mampu mengangkut sebongkah besar batu megalitik di balik punggungnya. Anda boleh terkikik melihat ulah konyol Obelix yang doyan makan itu.Tawa terkikik Anda akan berganti decak kagum nyaris tidak percaya, saat Anda mendengar kisah betapa sakti dan perkasanya orang-orang kuno Minahasa yang hidup pada zaman megalitik hingga 150-an tahun lalu di jazirah utara Pulau Sulawesi. Mereka dipercaya dapat mengetahui kapan hidup mereka akan berakhir, dan sehubungan dengan itu mereka mengangkat sendiri bongkah batu besar untuk kuburan mereka.
Dengan tangan kanan memegang batu yang disunggi di atas kepala, sambil berjalan kaki menuju ke tempat yang mereka tentukan sendiri sebagai lokasi kubur, tangan kiri mereka menangkap ikan di sungai-dengan tangan kosong. Setelah sampai di tempat yang mereka pilih, batu itu akan menjadi kuburan si pembawanya.

Kuburan batu berukuran lebar 50 cm hingga satu meter, panjang 50 cm hingga satu meter, dan tinggi sekitar satu meter itu disebut waruga. Balok batu tersebut berongga, dan di dalam rongga itulah orang-orang kuno Minahasa dikubur dalam posisi jongkok. Sebagai penutup bagian atas, digunakan cungkup yang berukir atau berpahat keterangan atau profesi si mayat sebelum meninggal.

Cungkup berpahat atau berukir binatang menandakan mayat yang dikubur di dalam waruga itu semasa hidupnya adalah seorang pemburu. Cungkup bermotif perempuan yang sedang melahirkan menandakan mayat yang dikubur di dalam waruga tersebut semasa hidupnya adalah seorang dukun beranak. Sementara, cungkup yang bermotif beberapa orang sekaligus menandakan yang dikubur di dalam waruga itu adalah satu keluarga utuh, yang meninggal dan dikubur satu persatu.

Ada pula cungkup yang polos, tanpa ukiran dan pahatan apa pun. Cungkup polos itu menandakan waruga berusia jauh lebih tua dibandingkan waruga lainnya, berusia lebih dari 1.200 tahun. Pada zaman itu, budaya mengukir dan memahat cungkup dengan keterangan atau profesi belumlah "ngetrend".

Di dalam setiap waruga, si jenazah dikubur dalam posisi jongkok di atas benda-benda bekal kuburan, yang dapat berupa parang, gelang, manik-manik, piring, padi, uang benggol, mangkuk, sendok, kolintang, dan beberapa benda lain. Namun, kini tidak ada lagi benda-benda bekal kuburan yang dapat dijumpai di dalam waruga, karena benda-benda itu sudah diamankan di museum.

Dalam bahasa kuno Minahasa, kata waruga merupakan gabungan dari dua kata, yakni wale dan maruga. Wale berati rumah, dan maruga berarti badan yang akan menjadi hancur. Sementara, posisi jongkok mayat yang dikubur di dalam waruga erat kaitannya dengan posisi bayi yang jongkok di dalam rahim ibu. Filosofinya, manusia mengawali kehidupan dengan posisi jongkok, dan semestinya mengakhiri hidup dengan jongkok pula. Dalam bahasa setempat, filosofi ini disebut whom.

Di seluruh Minahasa tersebar sekitar 1.700 waruga di beberapa kompleks waruga, yang terkonsentrasi di bagian utara Minahasa. Sebagian besar waruga merupakan kuburan prajurit perang (waraney) dan tokoh masyarakat (walian). Dua kompleks waruga terbesar adalah kompleks waruga Airmadidi Bawah dan kompleks waruga Sawangan. Keduanya berada di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Di kompleks Airmadidi Bawah terdapat 153 waruga, dengan waruga termuda bertanggal wafat 26 Juli 1947. Sebanyak 152 waruga berjejer dalam 10 baris dengan jarak antar-waruga sekitar 2-3 meter. Sebuah waruga terbesar berdiri menyendiri di bagian depan, di sebuah pendopo permanen. Waruga tersebut adalah kuburan Opo Wagiu bergelar Timani Oeng Koemelemboeai, yang dalam bahasa Tonsea berarti penemu kampung yang memancarkan air dari dalam tanah-yang kemudian disebut airmadidi.

Warga setempat percaya, Opo Wagiu adalah salah seorang dari sembilan dotu (utusan Toar Lumimuut, nenek moyang orang Minahasa). Di Watu Pinawetengan, Toar Lumimuut memerintahkan kesembilan dotu itu untuk menyebar ke sembilan daerah untuk masing-masing memimpin satu suku. Namun, hingga saat ini tidak ada satu pun catatan resmi siapa saja kesembilan dotu itu.

Menurut Johan Mandagi, juru kunci kompleks waruga Airmadidi Bawah yang dijumpai akhir April lalu, ke-153 waruga itu masih berada pada posisi awal saat waruga-waruga itu ditemukan, tanpa perubahan letak dan pemindahan. Pemugaran tahun 1998 hanya dilakukan untuk mengangkat benda-benda bekal kubur, yang selanjutnya disimpan di museum yang berada di sebelah kompleks waruga.

Kini, hanya waruga Opo Wagiu saja yang masih memiliki bekal kubur.

Di museum yang dibuat seadanya itu (berupa sebuah rumah panggung kayu), benda-benda bersejarah tersebut hanya dibungkus plastik kresek warna hitam dan digeletakkan di lantai. Di antara benda-benda bekal kubur yang diangkat dari waruga itu, Johan menunjukkan uang benggol menunjukkan angka tahun 1650.

Tidak ada pagar yang mengelilingi museum, tidak ada rak kaca untuk memajang benda-benda bersejarah itu, dan tidak ada sambungan listrik untuk menerangi museum. "Saya percaya ada KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) dalam pemugaran yang dilakukan tahun 1998. Coba ngana lihat sendiri, barang-barang ini tidak terurus. Kalau malam gelap gulita. Biar saja, kalau hilang dicuri orang, torang punya alasan... habis gelap, bagaimana lagi?" kata Johan, yang sudah 23 tahun menjadi juru kunci di sana.

Di samping itu, tambah Johan, kompleks waruga tersebut tidak mempunyai WC umum sebagaimana yang dijanjikan pada awal proyek pemugaran. "Turis-turis yang datang harus numpang buang air di rumah seorang penduduk, pinjam de pe WC. Kalau terus-terusan begitu, itu merepotkan orang toh?" sambungnya.

***
SEKITAR empat kilometer dari kompleks waruga Airmadidi Bawah, terdapat kompleks waruga tidak terurus di Kelurahan Raprap. Di sana berdiri 33 waruga, yang sebagian besar sudah tertutup ilalang dan tanaman merambat. Tahi sapi dari yang masih basah hingga yang sudah kering berserak di sana-sini. Kawat berduri yang memagari kompleks waruga itu pun sudah doyong dan berantakan. Di antara waruga-waruga itu, terdapat waruga berukirkan nama Opo Mingki Koemekoko. Itulah satu-satunya waruga yang memiliki nama.

Menurut pemuda setempat bernama Kris Karamoy, pemerintah daerah dan warga Raprap memang tidak mengurusi waruga tersebut. "Dulu, ada Opa Maxi Wenas yang mengurus waruga-waruga ini. Sepeninggal Opa Maxi tahun 2001, tidak ada yang menggantikannya. Warga di sini taat beribadah, sehingga tidak mengurusi waruga-waruga ini. Waruga dianggap berhubungan dengan hal-hal mistis," paparnya.

Menurut Kris, waruga-waruga di Kelurahan Raprap itu adalah waruga-waruga tertua di Minahasa. Awalnya, waruga-waruga tersebut tersebar di Kecamatan Airmadidi. Baru pada sekitar tahun 1970 waruga-waruga itu dikumpulkan di Keluarahan Raprap. "Itu atas prakarsa Gubernur HV Worang, yang memang punya kepedulian besar terhadap adat-istiadat kuno Minahasa," kata Kris.

Meskipun sudah taat beribadah dan hal itu menjadi alasan warga setempat membengkalaikan kompleks waruga itu, hingga saat ini warga Kelurahan Raprap masih percaya akan khasiat benalu yang tumbuh di pohon dudi. Benalu tersebut hanya tumbuh di pohon dudi, yang ada persis di sebelah waruga Opo Mingki. Benalu itu sama sekali tidak dijumpai pada pohon-pohon lain di sekitar kompleks kuburan batu tersebut, yang didominasi oleh pohon duku dan langsat.
***

BERBEDA dengan kompleks Airmadidi Bawah, kompleks waruga Sawangan berikut museumnya telah tertata dengan baik. Jika Anda mengira nama Sawangan tersebut ada kaitannya dengan sebuah daerah yang juga bernama Sawangan di Bogor (Jawa Barat), Anda benar. Nama Sawangan yang ada di Bogor memang berasal dari nama Sawangan di Minahasa, yang artinya hidup gotong royong. Tokoh setempat yang bernama Jusuf Mantiri-lah yang membawa nama Sawangan ke Bogor, menjadikannya sebagai nama sebuah daerah di kota hujan itu.

Di kompleks waruga Sawangan terdapat 144 waruga, termasuk waruga Jusuf Mantiri yang berdinding kaca. Juru kunci kompleks waruga Sawangan, seorang wanita bertubuh besar bernama Olce Kambong menjelaskan, ke-144 waruga itu berasal dari tempat-tempat yang berbeda. Waruga-waruga itu dikumpulkan pemerintah dan disatukan di kompleks tersebut pada tahun 1817.

Dengan fasih Olce menerangkan, mulai tahun 1800 penguburan mayat di dalam waruga dilarang pemerintah, karena waktu itu mulai berjangkit penyakit tipus dan kolera. "Dikhawatirkan, si meninggal menularkan bibit penyakit tipus dan kolera, melalui celah yang terdapat di antara badan waruga dan cungkup waruga. Bersamaan dengan itu pula, agama Kristen yang mengharuskan mayat dikubur di dalam tanah mulai menyebar di Minahasa," jelasnya.
Di Sawangan, masih terdapat waruga bercungkup polos (tanpa ukiran dan pahatan), yang sudah berusia sekitar 1.200 tahun. Sementara, waruga yang cungkupnya bermotif berusia 400-500 tahun. Salah satu waruga di sana memiliki motif cungkup perempuan sedang melahirkan. "Itu bukan berarti si mayat meninggal di saat melahirkan, melainkan sepanjang hidupnya dia adalah bidan (dukun beranak). Sampai sekarang, ibu-ibu yang susah mendapatkan keturunan sering berziarah di waruga bidan tersebut, dan memohon diberi kemudahan mendapatkan anak.

Banyak permohonan terkabul," kata Olce.
Bisa Anda bayangkan, betapa perkasanya seorang perempuan dukun beranak berjalan kaki mengangkat sebongkah batu besar untuk kuburnya sendiri?

Pendahuluan

Minahasa, sebagai salah satu Daerah Tingkat II (kabupaten) dari Provinsi Sulawesi Utara, merupakan salah satu gudang temuan megalit di wilayah Indonesia sebelah timur. Adapun jenis-jenis tinggalan megalit yang ditemukan di daerah ini berupa peti kubur batu (waruga), menhir (watu-tumotowa), lesung batu, dan batu bergores. Selain itu, ditemukan benda megalit lainnya seperti arca menhir, batu dakon dan altar batu. Temuan megalit di Sulawesi Utara ini telah diteliti oleh beberapa orang peneliti seperti CT. Berthling yang menulis "De Minahasische Waruga en Hockerbestattung" dalam NION vol XVI tahun 1931, dan CIJ. Sluijk dengan tulisannya "Tekeningen op grafstenen uit de Minahasa". Pada tahun 1976 Hadi Moeljono dan kawan-kawan meneliti waruga di beberapa daerah di Minahasa dan menulis temuannya di dalam Berita Penelitian Arkeologi (BAP) No.3 tahun 1984. Selanjutnya, para peneliti dari Pusat Penelitian Nasional Jakarta dan dari Balai Arkeologi Manado telah melakukan serangkaian penelitian terhadap objek-objek megalit tersebut, sejak tahun 1993 hingga sekarang.

Megalit adalah tinggalan yang berupa benda atau bangunan (monument) dari kebudayaan yang mengenal penggunaan batu besar sebagai bahan (material). Kebudayaan ini mulai menyebar di Indonesia bersamaan dengan penyebaran budaya Austronesia melalui migrasi dari suku-suku bangsa yang menggunakan bahasa Austronesia. Daerah sebaran kebudayaan ini antara lain Korea, Jepang, Formosa, Cina, Asia Tenggara termasuk Indonesia, dan menyebar sampai daerah Pasifik. Menurut para ahli ada dua jalur penyebaran megalit ke wilayah Indonesia yaitu: melalui jalur barat yang masuk ke wilayah Indonesia sebelah barat, dan melalui jalur utara yang masuk ke wilayah Indonesia sebelah timur. Megalit di Minahasa tampaknya masuk ke daerah ini melalui jalur utara, kemudian menyebar ke wilayah Indonesia sebelah timur. Kebuayaan Megalit di Indonesia meninggalkan benda atau bangunan yang berupa menhir, dolmen, teras berundak, peti kubur batu, arca batu, arca menhir, sarkofagus, lumpang batu, batu bergores, batu dakon, dan altar batu dan lain-lain.

Sumber: www.petra.ac.id


Pasal 1: Megalit Dan Sebarannya Di Minahasa

Secara garis besar, benda megalit yang ditemukan di Minahasa dapat dibedakan menjadi beberapa jenis megalit yaitu: peti kubur, menhir, lumpang batu, batu bergores, altar batu, batu dakon dan arca batu atau arca menhir. Peti kubur batu di Minahasa disebut dalam bahasa daerah dengan istilah waruga. Benda ini merupakan tinggalan megalit yang sangat dominan di Minahasa. Jenis megalit yang lain adalah menhir. Diperkirakan menhir yang disebut dalam bahasa daerah dengan istilah watu tumotowa pada mulanya juga merupakan benda megalit yang cukup dominan di Minahasa, dan berfungsi sebagai tanda pendirian suatu daerah atau desa. Pada umumnya menhir dari daerah ini sangat sederhana dan tidak dikerjakan secara intensif, bahkan banyak yang tidak dikerjakan sama sekali bentuknya sehingga tetap sama dengan bentuk alamiahnya, kemungkinan sudah banyak menhir yang dimanfaatkan dan digunakan untuk keperluan lain Lumpang batu adalah jenis megalit lainnya yang ditemukan di Minahasa bagian selatan. demikian pula halnya dengan batu bergores, yang meskipun tidak banyak temuannya, tetapi merupakan tinggalan yang cukup penting. Jenis-jenis megalit yang lain yaitu altar batu, batu dakon dan arca batu atau arca menhir juga merupakan megalit yang ditemukan di Minahasa. Jenis-jenis megalit semacam ini jumlahnya tidak banyak dan daerah sebarannya juga sangat terbatas.

Pasal 2: Waruga


Waruga Airmadidi

Waruga Sawangan
Waruga adalah istilah lokal untuk tinggalan megalit yang termasuk dalam jenis peti kubur batu di Minahasa. Benda ini terdiri atas dua bagian, yaitu bagian badan dan bagian tutup.Kedua bagian ini masing-masing terbuat dari sebuah batu utuh (monolith), umumnya berbentuk kotak segiempat (kubus) untuk bagian badannya dan hanya sedikit yang berbentuk segidelapan atau bulat. Selain itu, bagian tutupnya menyerupai atap rumah.



Isi Waruga
Waruga ini berfungsi sebagai wadah kubur bagi orang yang meninggal di dalam satu keluarga. Setiap waruga diperkirakan dipakai menguburkan beberapa orang dari anggota keluarga yang meninggal. Di dalam waruga biasanya ditemukan tulang-tulang manusia yang berasosiasi dengan benda lain seperti : keramik cina, perhiasan dan alat-alat logam, serta manik-manik. Tulang-tulang tersebut merupakan sisa-sisa tulang manusia yang pernah dikubur dengan disertai bekal kuburnya yang terdiri atas : piring, mangkuk, dan jenis-jenis keramik lainnya, gelang perunggu, kalung perunggu, pisau perunggu, parang perunggu, manik-manik, dan lain sebagainya.

Kebanyakan waruga dihiasi baik bagian wadah maupun bagian tutupnya. Adapun jenis-jenis hiasannya terdiri atas motif manusia, motif tumbuhan yang distilir (sulur-suluran), motif geometri (garis-garis, segitiga dan lain-lain), motif binatang dan lain sebagainya. Hiasan yang cukup menarik dari waruga ialah manusia kangkang dan manusia yang sedang melahirkan. Di antara waruga ada yang berukuran cukup besar yaitu : tinggi wadah 1,5 m, lebar wadah 1 m, dan tinggi tutup 1,45 m, sehingga tinggi keseluruhan mencapai hampir 3 meter. Peti kubur batu yang disebut waruga di Minahasa secara keseluruhan mencapai jumlah 1335 buah.


Waruga di Desa Kawangkoan
Waruga di Minahasa tersebar hampir di semua Wilayah Kerja Daerah Tingkat II Kabupaten Minahasa yaitu : Wilayah Kerja Tonsea, Tomohon, Tolour, Kawengkoan, dan Amurang. Di Wilayah Kerja Tonsea, waruga ditemukan di Desa Kokoleh, Likupang, Wangurer, dan Batu yang semuanya termasuk ke dalam Kecamatan Likupang; di Desa Matungkas, Paniki Atas, Paniki Bawah , dan Tatelu di Kecamatan Dimembe; di Desa Airmadidi Bawah, Sawangan, Kawengkoan, Kolongan, Tanggari, Kuwil, dan Di Maumbi di Kecamatan Airmadidi; di Desa Kasar, Tumaluntung, dan Kema di Kecamatan Kauditan. Waruga juga ditemukan di Wilayah Kerja

Waruga Sawangan
Kawangkoan yaitu : di Desa Palamba, Winubetan, Nimawale, dan Tompaso di Kecamatan Langowan; serta di Desa Kaneyan di Kecamatan Tareran; demikian juga di Desa kiawa, Kayuuwi, Kanonang, Talikuran dan Uner di Kecamatan Kawangkoan; selain itu di Wilayah Kerja ini waruga ditemukan dim Kecamatan Sonder.


Waruga di
Desa Kawangkoan
Di Wilayah Kerja Tolour waruga ditemukan di Desa Nimawale dan Koya di Kecamatan Tondano, serta di Desa Kakas di Kecamatan kakas. Waruga di Wilayah Kerja Tomohon ditemukan di Desa Kakas kasen, Woloan, Tara-Tara, Kayawu, Matani, Kolongan dan di Lansot di Kecamatan Tomohon, serta di Desa Lolah dan Ranowangko di Kecamatan Tombariri. Di Wilayah Kerja Amurang waruga ditemukan antara lain di Desa Lelema, Popontolen, Popareng dan tumpaan di Kecamatan Tumpaan; serta di desa Rumoong Bawah di Kecamatan Tombasian, dan di desa Radey, di Kecamatan Tenga.

Pasal 3: Watu Tumotowa


Waruga Airmadidi
Dalam bahasa setempat, menhir disebut sebagai watu tumotowa, yaitu batu tegak yang dipakai untuk menandai pembangunan sebuah desa atau wilayah dari sekumpulan anggota masyarakat atau komunitas di suatu daerah di Minahasa. Menhir di sini biasanya berupa batu tegak berbentuk tugu. Kebanyakan menhir di daerah ini tidak mengalami pengerjaan tangan manusia, sehingga berbentuk sederhana sesuai dengan aslinya (alamiah) dan tidak berhiasan. Watu tumotowa atau menhir yang ditemukan di Minahasa kebanyakan berukuran kecil yaitu : tinggi 20 - 50 cm, diameter 15 - 30 cm. Namun, ada pula menhir yang cukup besar yaitu ditemukan di Desa Lelema di Kecamatan Tumpaan, yang berukuran tinggi sekitar 200 cm dan lebar antara 20 -40 cm. Menhir atau yang dikenal dengan sebutan watu tumotowa di Minahasa ini ditemukan sejumlah 61 buah.


Waruga Airmadidi
Watu Tumotowa atau menhir ditemukan di beberapa tempat di Minahasa, yaitu di Desa Kiawa di Kecamatan Kawangkoan; di Desa Tincep dan desa Leilem di Kecamatan Sonder; di Desa Motoling, Kumelembual, Mopolo, megalithuan Lama, Wakan, Raanan lama, Lompad, dan Makasili di Kecamatan Motoling. Watu Tumotowa juga ditemukan di Desa Lelema, Popontolen, Sulu, Paslaten, Popareng, dan Desa Tangkuney di Kecamatan Tumpaan; di Desa Rumoong Bawah, Pondang, Pondos, dan Tewasen di Kecamatan Tombasian, serta di Desa Radey, Tenga, dan Pakuweru di Kecamatan Tenga. Selain itu di Kecamatan Ratahan, yaitu di Desa Liwutung dan Poniki, lalu di Desa Tinoor dan Kayawu di Kecamatan Tomohon, serta di Kecamatan Tondaro telah ditemukan beberapa menhir yang disebut sebagai watu tumotowa tersebut. Demikian pula halnya di Kodya Manado yaitu di situs batu Sumanti di Tikala Ares di Kecamatan Wenang, juga ditemukan adanya watu tumotowa.

Pasal 4: Lesung Batu


Lesung Batu
Desa Malola
Lesung batu kebanyakan ditemukan di Minahasa bagian selatan. Benda ini terbuat dari batu tunggal (monolith), dalam beberapa macam bentuknya. Salah satu lesung batu dari Minahasa yang menarik adalah yang menyerupai dandang (wadah untuk menanak nasi), yaitu memiliki bentuk badan tinggi dan cekung dengan ukuran tinggi 55 cm, diameter bagian dasar 50 cm, diameter badan (bagian cekungan) 40 cm, diameter tepian 60 cm, diameter mulut lubang 20 cm, dan kedalaman lubang 30 cm.


Lesung batu di
Desa Tompaso Baru
Ada pula lesung batu dari Minahasa yang berbentuk semacam itu, namun berukuran lebih tinggi dan ramping, sehingga lebih menyerupai tifa (gendang dari Indonesia bagian timur). Lesung batu yang lain ialah yang berbentuk bundar seperti bola dengan lubang di bagian atasnya. Lesung yang berbentuk semacam ini biasanya berukuran lebih kecil dari pada lesung

Lesung Batu
Desa Pontak
berbentuk dandang atau tifa. Selain itu, ada pula lesung yang berbentuk silinder yang berukuran seperti lesung berbentuk dandang. Secara keseluruhan lesung batu yang ditemukan di Minahasa berjumlah 32 buah.

Lesung batu kebanyakan ditemukan di daerah Minahasa bagian selatan yaitu di Desa Karimbow, Ranaan Baru, Pontak, Poopo, Motoling, Tonday, megalithuan Baru, Mopolo, Malola, dan Ranaan Lama di Kecamatan Motoling; serta di Desa Bitung dan Lewet di Kecamatan Tombasian, dan di Kecamatan Tenga, demikian juga di Tompaso Baru. Semuanya termasuk ke dalam Wilayah Kerja Amurang. Adapun di Wilayah Kerja Ratahan lesung batu ditemukan di Kecamatan Ratahan dan di Kecamatan Tombatu.

Pasal 5: Watu Pinawetengan


Watu Pinawetengan
Jenis megalit lain yang menarik, yang terdapat di Minahasa ialah batu bergores yang ditemukan di Kecamatan Tompaso. Oleh penduduk setempat batu bergores ini disebut sebagai watu pinawetengan. Batu ini merupakan bongkahan batu besar alamiah, sehingga bentuknya tidak beraturan. Pada bongkahan batu tersebut terdapat goresan-goresan berbagai motif yang dibuat oleh tangan manusia. Goresan-goresan itu ada yang membentuk gambar manusia, menyerupai kemaluan laki-laki, menggambarkan kemaluan perempuan, dan motif garis-garis serta motif yang tidak jelas maksudnya. Para ahli menduga bahwa goresan-goresan tersebut merupakan simbol yang berkaitan dengan kepercayaan komunitas pendukung budaya megalit, yaitu kepercayaan kepada roh leluhur (nenek moyang) yang dianggap memiliki kekuatan gaib sehingga mampu mengatur dan menentukan kehidupan manusia di dunia. Oleh sebab itu, manusia harus melakukan upacara-upacara pemujaan tertentu untuk memperoleh keselamatan atau memperoleh apa yang diharapkan (seperti: keberhasilan panen, menolak marabahaya atau mengusir penyakit) dengan menggunakan batu-batu besar sebagai sarana pemujaan mereka.

Masyarakat setempat mempercayai bahwa batu itu merupakan tempat tempat bermusyawarahnya para pemimpin dan pemuka masyarakat Minahasa asli keturunan Toar & Lumimuut (nenek moyang masyarakat Minahasa) pada masa lalu, dalam rangka membagi daerah menjadi enam kelompok etnis suku-suku bangsa yang tergolong ke dalam kelompok-kelompok etnis Minahasa. Sampai saat ini batu bergores yang sudah ditemukan di Minahasa, baru watu pinawetengan, terdapat di wilayah kerja Kawangkoan namun dapat dianggap sebagai temuan yang cukup penting dan dapat dimasukkan sebagai monumen sejarah, khususnya sejarah kebudayaan masyarakat Minahasa

Pasal 6: Altar Batu, Batu Dakon Dan Arca Menhir


Batu Tegak / Menhir
Kecamatan Tumpang
Jenis-jenis megalit yang terdiri dari altar batu, batu dakon, dan arca menhir di Minahasa tampak peranannya tidak begitu menonjol. Hal ini dibuktikan dengan jumlah temuannya yang tidak terlalu besar dan daerah sebarannya yang terbatas. Altar batu ialah bongkahan batu yang berbentuk segi empat atau bulat bahkan sering tidak beraturan, yang memiliki bagian datar, terutama pada bagian permukaan (bagian atasnya) sehingga berbentuk menyerupai meja. Jenis mengalit ini biasanya dipakai sebagai sarana untuk melakukan upacara peribadatan oleh masyarakat yang memiliki kepercayaan pada roh-roh leluhur.

Sampai saat ini baru ada sembilan altar batu yang telah ditemukan di Minahasa. Demikian pula halnya batu dakon, juga merupakan alat upacara untuk memohon pertolongan kepada roh nenek moyang agar memperoleh hasil panen yang baik serta mengharapkan kesuburan tanah. Batu dakon ini terbuat dari bongkahan batu yang diberi lubang-lubang seperti halnya pada alat permainan dakon. Di Minahasa batu dakon hanya ditemukan sebanyak enam buah saja.


Batu Datar Berdakon
Desa Pontak
Temuan benda megalit lainnya berupa arca menhir. Biasanya juga dibuat dari batu tunggal berbentuk seperti batu tegak (menhir), namun pada bagian atasnya dibentuk menyerupai manusia, dengan bagian kepala dan mukanya serta bagian badannya, sedangkan kakinya tidak digambarkan. Arca menhir dimaksudkan sebagai penggambaran dari leluhur yang dikultuskan. Benda ini biasanya juga merupakan sarana untuk melakukan upacara pemujaan terhadap roh nenek moyang. Arca menhir di Minahasa yang berhasil ditemukan adalah sebanyak dua buah.

Jenis-jenis megalit Altar Batu, batu dakon, dan arca menhir semacam itu hanya ditemukan di beberapa tempat saja di Minahasa. Altar batu misalnya hanya ditemukan di beberapa desa, yaitu di Kecamatan Motoling, di Kecamatan Tombasian dan di situs Batu Sumanti di Kodya Manado; batu dakon ditemukan di beberapa tempat yaitu di Kecamatan Motoling, Kecamatan Tompaso, dan di Kecamatan Malalayang; sedangkan arca batu hanya ditemukan di Desa Kiawa, Kecamatan kawangkoan dan di Desa Sendangan, di Kecamatan Tompaso.

Pasal 7: Penutup

Daerah Minahasa memiliki tinggalan megalit yang cukup banyak dan menarik untuk dipelajari atau diteliti lebih lanjut dan dikembangkan bagi kepentingan dunia ilmu pengetahuan, pendidikan ataupun pariwisata. Usaha pemberdayaan perlu diadakan untuk tinggalan-tinggalan megalit di Minahasa ini melalui penelitian, pemeliharaan, dan pemanfaatan untuk tinggalan-tinggalan tersebut. Dalam rangka pemberdayaan ini kiranya kajian wilayah megalit terhadap megalit Minahasa merupakan strategi yang perlu diterapkan. Kajian ini dimaksudkan untuk mengetahui sebaran (distribution) dan hubungan (relationship) dari tinggalan-tinggalan megalit yang ada di Minahasa tersebut. Yang perlu diperhatikan di dalam kajian ini adalah sebaran dari benda-benda dan situs-situs megalit, dan hubungan antara benda dengan benda, serta antara situs dengan situs, maupun hubungan antara benda dan situs dengan lingkungan fisiknya. Kajian ini mempelajari hubungan artefak di dalam ruang (yaitu situs atau wilayah) dan juga hubungan antara berbagai unsur serta lingkungan yang ada di dalam ruang tersebut. Untuk itu sebagai usaha pemberdayaan warisan budaya masa lalu di Sulawesi Utara, yang terkait dengan pemberdayaan dunia ilmu pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan, maupun pariwisata serta kesejahteraan masyarakat, maka :

Perlu segera dilakukan revitalisasi kebudayaan di Minahasa untuk kepentingan masyarakat luas dengan pemberdayaan warisan budaya megalit.

Megalit Minahasa perlu dibagi ke dalam 5 (lima) kelompok wilayah sebaran, dan pada setiap kelompok dapat dipilih satu lokasi yang strategis sebagai pusat informasi megalit untuk wilayahnya.

Pada setiap pusat informasi itu perlu dibangun sebuah "Taman Purbakala" yang berisi informasi dan kumpulan replika objek megalit dari setiap wilayah, sebagai bahan belajar-mengajar dan objek wisata budaya.

Kelompok wilayah megalit di Minahasa itu antara lain :

  1. Megalit Tonsea dengan pusatnya di Airmadidi
  2. Megalit Tolour dengan pusatnya di Tondano
  3. Megalit Tomohon dengan pusatnya di Kakas-Kasen
  4. Megalit Kawangkoan dengan pusatnya di Situs Watu Pinawetengan
  5. Magalit Amurang dengan pusatnya di Amurang.

Dengan penerapan strategi kajian dan pembagian kelompok wilayah megalit ini, diharapkan setiap penelitian pemeliharaan ataupun pemanfaatan benda-benda megalit di Minahasa akan lebih terarah dan memperjelas pola sebaran serta latar belakang keberadaan benda-benda tersebut di wilayah ini. Strategi ini diharapkan dapat mendukung empat pokok arahan kebijakan pengembangan kebudayaan nasional dari Direktorat Jenderal Kebudayaan yaitu:

  • intensifikasi peranan budaya sebagai pemberi jatidiri bangsa,
  • pembudayaan kreativitas,
  • pembinaan pusat informasi kebudayaan Indonesia, dan
  • peningkatan prestasi Indonesia di forum internasional (Sedyawati, 1993).

Selain itu strategi ini adalah merupakan penjebaran dari lima tema utama penelitian yang merupakan kebijakan pengembangan penelitian arkeologi di Indonesia, yaitu :

  1. proses dan aliran migrasi,
  2. proses persentuhan budaya,
  3. proses adaptasi dan tumbuhnya budaya lokal (local genius),
  4. proses terjadi dan berlangsungnya diversivikasi kultural, serta
  5. proses integrasi budaya dalam lingkup dan wawasan nasional (Ambary, 1993).

Pasal 8: Daftar Pustaka

Ambary, Hasan muarif, 1993. Pengembangan Sumber Daya, Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi, Yogyakarta, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Clark, David L, 1997. Spartial Information In Archaeology, Spatial Archaeology, Academic Press, London, halaman 1-32.

Duff, Roger, 1970. Stone adzes of southeast Asia, Museum Bulletin no. 3, Chirstchurch, New Zealand.

Geldern, Heine von, 1945. Prehistoric Research in the Netherlands Indies, Science and Scientists in the Netherlands Indies, New York, halaman 129-167.

Heekeren, H.R. van, 1972. The Stone Age of Indonesia, VKI, 62, 2nd Revised Edition, The Hague, Netherlands.

Hodder, Ian & Clive Orton, 1976. Spatial Analysis in Archaeology, Cambrige University Press, London.

Moendardjito, 1995. Kajian Kawasan : Pendekatan Strategis Dalam Penelitian Arkeologi di Indonesia Dewasa ini, Manusia Dalam Ruang : Studi Kawasan dalam Arkeologi, Berkala Arkeologi Th. XV, Edisi khusus, Yogyakarta, halaman 24-28.

Sedyawati, Edi, 1993. Arah Kebijakan Pengembangan Kebudayaan Nasional dan Masa Depan Penelitian Arkeologi di Indonesia, Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi, Yogyakarta, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Soejono, R.P. (Editor), 1976. Jaman Prasejarah di Indonesia, Sejarah Nasional Indonesia, Jilid I, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sukendar, Haris, 1976. Obyek kepurbakalaan Di Palu (Sulawesi Tengah), Kalpataru Majalah Arkeologi, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta.

Yuniawati Umar, Dwi Yani, 1996. Korelasi Waruga dan Lumpang Batu. Suatu Studi Awal dan Studi Kasus di Minahasa. Seminar Prasejarah Indonesia I. Yogyakarta.

Artikel Terakhir

Komentar Terakhir

Website Tentang Sulawesi Utara

  • Bunaken
  • North Sulawesi
  • Tou Minahasa
  • World Ocean Conference